Lawan Ujaran Kebencian dengan Tasawuf Cinta
Sabtu, 15 Maret 2025 | 05:26 WIB
"Islam justru lebih menampakkan orientasi cinta ketimbang orientasi yang didominasi oleh rasa takut”. Kurang lebih seperti itu kutipan ahli fenomenologi agama yang diwakili oleh Annemarie Schimmel. Ia melihat Islam cenderung menampakkan hubungan kedekatan manusia dengan Tuhan atas dasar cinta. Upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt merupakan bagian tasawuf. Tasawuf memiliki pengertian sebagai bentuk penyucian dan pembersihan hati dengan memperbaiki dan menanamkan karakter (akhlak) mulia.
Beberapa ajaran dalam Islam yang berkaitan dengan tasawuf dalam hal memperbaiki hati, di antaranya Islam mengajarkan agar umatnya menahan diri terhadap sesuatu yang amat ingin diperoleh. Islam mewajibkan umatnya menyedekahkan harta yang justru dicintai (ala hubbihi) dan bukan milik yang sudah tidak dipakai. Secara sederhana, inti tasawuf bisa digambarkan sebagai upaya memperbaiki hati manusia dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt atau sekarang dikenal dengan meningkatkan spiritualitas.
Khazanah pemikiran Islam klasik sebenarnya telah lebih dahulu memperkenalkan kedekatan manusia dengan Tuhan sebagai sebuah gambaran situasi pertemuan manusia dengan Tuhannya. Mereka mengungkapkan pertemuan manusia dengan Tuhan tersebut ada sisi yang maha dahsyat yang menggentarkan (jalal) dan ada juga sisi yang maha indah yang memesona (jamal).
Namun, selama berabad-abad, khususnya sampai pada masa modern sekarang ini, kaum muslim sepertinya lupa dengan sisi esetoris agama yang melihat hubungan kedekatan manusia dengan Allah Swt dari sisi kecintaan makhluk dengan pesona keindahan Sang Khalik. Sebuah contoh sederhana yang sering dijumpai dalam keseharian, yakni ketika seseorang salat, ia malah terfokus dengan pikiran-pikiran yang mengandung unsur pamrih, seperti takut disiksa atau takut tidak diterima amalnya karena tidak khusyuk. Di situ sebenarnya umat Islam harus bersyukur karena dalam salat bisa merasakan sujud yang merupakan sebuah kenikmatan. Sebagai hamba, kenikmatan itu belum tentu dirasakan oleh orang lain.
Kecenderungan mereka terfokus pada sisi maha dahsyat Allah, seperti yang maha pemaksa (al-qohhar), yang maha pemberi balasan (al-muntaqim), dan lain sebagainya. Hal itulah yang menimbulkan rasa takut. Pengelolaan rasa takut yang tidak seimbang menjadikan manusia lebih mengingat sifat-sifat maha dahsyat Allah Swt daripada sifat jamaliyyah-Nya, sehingga terkesan jauh dari rasa cinta.
Pembahasan cinta (hubb atau mahabbah, atau ‘isyq) dalam tasawuf memiliki makna bentuk hubungan tertinggi antara manusia dengan Allah. Dalam hubungan itu, ‘asyiq (manusia pencinta) bersatu dengan Sang Ma’syuq (Sang Pencinta atau Allah). Cinta ini juga adalah aspek dominan Zat Allah dalam prinsip penciptaan alam semesta. Berikut kutipan para sufi tentang kerinduan atau kecintaan Tuhan akan (makrifat) manusia:
كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق لكي أعرف
“Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’rafa, fakhalaqtu al-khalqa li kay u’raf”.
“Aku adalah perbendaharaan yang terpendam, maka aku ingin dikenal, maka Aku ciptakanlah alam semesta dan seisinya”.
Al-Qur’an juga menegaskan hubungan cinta antara Allah (Al-Wadud) dan manusia, di antaranya QS Maidah (5): 54, Al Baqarah (2): 165, 216. Salah satunya berbunyi:
“Adapun orang-orang yang beriman itu sangat dalam kecintaan mereka kepada Allah”.
Menurut salah satu penelitian, bukan saja lebih banyak porsi dalam 99 nama Allah (Al-Asma’ Al Husna) bagi nama-nama yang termasuk dalam aspek jamal Allah Swt, seperti maha pengasih (al-rahman), maha penyayang (al-rahim), maha pencinta (al-wadud), maha pemaaf (al-ghafur), maha penyabar (al-shabur), maha lembut (al-latif), dan seterusnya.
Bahkan, dalam Al-Qur’an terdapat lima kali lebih banyak ayat yang mengandung nama jamaliyyah daripada jalaliyyah. Contohnya, kata al-rahman dan al-rahim dipergunakan sebanyak 124 kali dalam Al-Qur’an. Sementara, kata ghadhab (murka) dan bentuknya terdapat tujuh kali dalam seluruh kitab suci yang sama.
Dengan kata lain, Allah menampilkan diri-Nya (tidak ada yang dapat menampilkan Allah kecuali diri-Nya sendiri) lebih sebagai Zat yang indah dan memiliki cinta kasih daripada sebagai Zat yang maha dahsyat yang menggentarkan dan menimbulkan rasa takut. Ini bukan berarti umat muslim harus mengabaikan penampilan Allah Swt dengan segala ke-mahadahsyatan-nya, seperti kemurkaan, kepemaksaan, janji pembalasan-Nya terhadap kejahatan makhluk dan lain sebagainya. Akan tetapi, harus mengubah sudut pandang itu sebagai sebuah bentuk kecintaan Allah Swt kepada hambanya. Inilah yang disebut dengan tasawuf cinta.
Hal tersebut sangat penting, karena secara tidak langsung manusia terkadang membentuk karakter dalam dirinya sesuai dengan ajaran-ajaran yang ia dapat. Ketika ia mempelajari tentang sifat sifat Allah guna mendekatkan diri kepada Allah, secara tidak langsung ia mengambil karakter atau mengamalkan hal-hal yang terkandung pada sifat-sifat yang ia pelajari. Ketika dia mempelajari sifat-sifat maha dahsyat Allah, lalu memiliki pemahaman sempit dan kering akan sudut pandang cinta, maka bisa jadi itu akan membentuk karakter keras dan mengakar dalam dirinya.
Hal penting dalam tasawuf cinta ialah bagaimana mengubah cara pandang (mindset) yang awalnya terbiasa memandang suatu perkara atau persoalan dengan sudut pandang benci atau terbiasa memandang dengan prasangka-prasangka negatif sebisa mungkin diubah dengan cara pandang cinta. Ini sangat penting dalam rangka meng-counter hate speech atau ujaran kebencian.
Hate speech merupakan sebuah ungkapan atau siar kebencian yang dialamatkan kepada seseorang, kelompok, atau lembaga, berdasarkan agama, kepercayaan, aliran, etnis, ras, golongan, gender, orientasi seksual, dan hal-hal lain yang dapat memancing kemarahan publik. Pada era media sosial seperti sekarang ini, gampang sekali orang-orang melemparkan ujaran-ujaran kebencian. Mereka didukung media sosial yang tidak memiliki sekat apa pun untuk mengekspresikan pemikirannya.
Sayangnya, kebebasan itu membuat lisan dan pemikiran menjadi tidak terkontrol, apalagi dalam kondisi hati yang kalut dan tidak stabil. Apa saja yang keluar akan menjadi “api” bagi orang lain. Dalam kasus ini, tasawuf berperan menjernihkan hati dan pola pikir manusia.
Jika ditinjau lebih jauh, tasawuf percaya bahwa untuk mencapai akhlak mulia, ada tiga ranah pendidikan yang harus dilampaui, yakni kognitif (intelektual), afektif (emosional), dan praktik. Gangguan nafsu terus mendorong ke arah keburukan dan menggoda manusia, sehingga tak cukup kesadaran untuk berakhlak baik yang membutuhkan sentuhan emosional. Namun, semua itu memerlukan latihan (riyadhoh) keras agar kesadaran intelektual dan kegairahan emosional benar-benar melahirkan tingkah laku yang sesuai dengan akhlak Islam.
Jika manusia terbiasa melakukan pembersihan hati dengan pendekatan tersebut, setidaknya akan membentuk pribadi-pribadi yang berhati-hati dalam setiap langkah, termasuk menjaga lisan dan pemikiran. Penambahan cinta dalam diri saat memandang sesuatu akan meminimalisasi gesekan-gesekan dengan orang lain yang bisa memicu permusuhan dan kebencian.
Pandangan cinta melahirkan kedamaian. Ketika manusia menggunakan pandangan cinta, maka perlakuan dengan cinta pula yang akan didapat nantinya. Misalnya, seseorang dilempar pot bunga oleh orang lain, maka ajaran tasawuf cinta mendorongnya untuk membalas dengan memberikan bunganya. Artinya jika banyak disakiti oleh orang lain, umat Islam didorong untuk membalasnya dengan kebaikan-kebaikan bukan malah memendam dendam atau malah memberikan kesakitan yang sama.
Ketika tiap-tiap orang bisa mengontrol diri dan menerapkan tasawuf cinta, hate speech tidak akan menjadi musuh besar. Sebab manusia yang mengamalkan tasawuf cinta bisa diibaratkan sebagai air dan hate speech sebagai api. Semakin banyak orang menjadi air, api akan akan dipadamkan!
Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




