Benarkah Siklon Tropis Hampir Tak Pernah lewat Indonesia?
Jumat, 5 Desember 2025 | 10:15 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Siklon tropis kerap dikenal sebagai badai besar yang memiliki kekuatan merusak dan dapat memicu gelombang laut tinggi, angin kencang, hingga hujan lebat di wilayah yang dilaluinya.
Di tengah letak geografis Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa, muncul pertanyaan, benarkah siklon tropis merupakan fenomena yang hampir tidak pernah melewati Tanah Air?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa lintasan hampir semua siklon tropis cenderung menjauh dari wilayah Indonesia. Fakta ini membuat daerah nusantara relatif jarang dilalui pusat siklon.
Namun, untuk memahami lebih dalam terkait alasan di balik kondisi ini, diperlukan penjelasan ilmiah yang lebih menyeluruh. Berikut ulasannya:
Karakteristik Dasar Siklon Tropis
Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui kanal YouTube Info BMKG, siklon tropis merupakan sistem badai berskala besar. Ukuran pusaran anginnya dapat memiliki radius rata-rata sekitar 150-200 kilometer, menjadikannya fenomena atmosfer yang sangat luas daya jangkaunya.
Siklon tropis umumnya terbentuk di kawasan perairan lepas dengan suhu permukaan laut yang hangat, yakni di atas 26,5 derajat celsius. Kondisi laut yang panas menjadi sumber energi utama pembentukan awan badai.
Pada pusat sistem, angin kencang berputar dengan kecepatan minimal lebih dari 63 kilometer per jam, membentuk sebuah pusaran masif yang terus menguat ketika lingkungan atmosfer mendukung.
Data lintasan pergerakan siklon tropis di seluruh dunia menunjukkan kecenderungan yang sama, hampir seluruh sistem badai bergerak menjauh dari garis khatulistiwa menuju lintang yang lebih tinggi.
Akibatnya, wilayah yang berada dekat ekuator dianggap relatif aman dari lintasan langsung pusaran siklon, termasuk kawasan Sumatera bagian tengah, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua Barat, hingga Papua.
Kecenderungan menjauhnya siklon dari ekuator inilah yang selama ini menjadi dasar bahwa Indonesia bukan jalur utama perlintasan badai tropis.
Siklon tropis jarang bergerak mendekati khatulistiwa bukan tanpa sebab. Fenomena ini terjadi akibat adanya gaya yang muncul karena rotasi Bumi dan bentuknya yang bulat, dikenal sebagai Gaya Coriolis. Gaya ini menyebabkan massa udara yang bergerak akan mengalami pembelokan arah.
Perputaran bumi tidak berlangsung merata. Di wilayah khatulistiwa, kecepatan rotasi mencapai hampir 1.600 kilometer per jam karena diameter bumi lebih besar, sehingga jarak tempuh rotasi dalam 24 jam menjadi sangat panjang.
Sebaliknya, di dekat kutub, kecepatan rotasi bumi hanya sekitar 0,00008 kilometer per jam atau 0,00005 mil per jam, serupa dengan gerakan kincir air yang lambat.
Perbedaan signifikan kecepatan inilah yang memicu munculnya efek coriolis, sebuah fenomena yang pertama kali dijelaskan oleh pakar matematika asal Prancis, Gaspard-Gustave de Coriolis.
Efek ini membuat pembentukan pusaran awan di dekat khatulistiwa menjadi sangat lemah, sehingga sulit bagi siklon tropis untuk berkembang tepat di wilayah tersebut.
Kasus Siklon di Sekitar Wilayah Ekuator
Walau secara umum lintasan siklon tropis menjauhi ekuator, dinamika atmosfer yang kompleks kadang memungkinkan terbentuknya sistem badai di dekat garis lintang rendah. Beberapa siklon tercatat pernah mendekati wilayah Indonesia pada kisaran 5°-10° Lintang Selatan dan 5°-10° Lintang Utara.
Berikut daftar peristiwa yang pernah tercatat:
- Tropical Storm Greg - Desember 1996
- Tropical Storm Hilda - Januari 1999
- Typhoon Vamei - Desember 2001
- Siklon Tropis Dahlia - 30 November sampai 2 Desember 2017
- Siklon Tropis Cempaka - 27 November sampai 1 Desember 2017
- Siklon Tropis Lili - 9 Mei 2019
- Siklon Tropis Seroja - April 2021
Catatan ini menegaskan bahwa meskipun jarang, siklon tropis tetap dapat terbentuk atau mendekati wilayah Indonesia dalam kondisi tertentu.
Dampak Tidak Langsung bagi Cuaca Indonesia
Kendati pusat siklon tropis jarang melintas tepat di atas wilayah Indonesia, bukan berarti dampaknya tidak terasa. Keberadaan siklon di sekitar perairan regional dapat memicu cuaca ekstrem tidak langsung.
Pengaruh tersebut meliputi hujan dengan intensitas sangat tinggi, peningkatan kecepatan angin di permukaan darat maupun laut, serta gelombang laut yang meninggi.
Hal ini terjadi karena siklon memengaruhi skala sinoptik di sekitarnya, memicu terbentuknya daerah konvergensi udara dan mempercepat aliran angin menuju pusat pusaran badai.
Fenomena Langka Siklon Tropis Senyar 2025
Indonesia memang bukan wilayah yang kerap dilalui siklon tropis. Kedekatan letaknya dengan garis khatulistiwa membuat gaya coriolis yang memutar massa udara menjadi sangat lemah.
Selain itu, mayoritas siklon berkembang di lintang 5 hingga 20 derajat dari ekuator, sehingga sistem badai umumnya terbentuk cukup jauh dari wilayah daratan Indonesia.
Namun, kemunculan Siklon Tropis Senyar pada 26 November 2025 menjadi pengecualian yang jarang terjadi.
Senyar tumbuh tepat di batas minimal pembentukan siklon, berada di sekitar 5.0° Lintang Utara atau sekitar 90 kilometer dari Lhokseumawe, Aceh.
Lokasi tersebut masih memungkinkan terjadinya rotasi atmosfer, sehingga bibit siklon 95B berkembang menjadi sebuah siklon tropis aktif.
BMKG juga mencatat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak siklon yang lintasannya mendekati Indonesia dan menimbulkan cuaca ekstrem. Meski demikian, pusat siklon biasanya tetap berada di luar wilayah nasional.
Senyar berkembang dari Bibit Siklon Tropis 95B yang berada di perairan hangat Selat Malaka. Suhu permukaan laut yang tinggi di kawasan ini menjadi sumber energi utama untuk memicu pertumbuhan awan konvektif atau awan badai.
Ketika energi panas dilepaskan ke atmosfer, terbentuk pusaran udara yang kemudian menguat menjadi sistem berputar besar.
Kondisi atmosfer akhir November 2025 turut mendukung proses tersebut. BMKG menjelaskan adanya pasokan kelembapan yang tinggi disertai struktur angin yang relatif stabil.
Tekanan udara di pusat sistem juga cukup rendah, sekitar 998 hPa, dengan kecepatan angin maksimum mencapai 43 knot atau setara 80 kilometer per jam saat pertama kali terdeteksi sebagai siklon. Kombinasi faktor-faktor inilah yang menciptakan lingkungan ideal bagi penguatan Senyar.
Fenomena ini sekaligus menjadi indikasi bahwa pemanasan global, khususnya peningkatan suhu laut, dapat memperluas kawasan potensial pembentukan siklon tropis mendekati garis khatulistiwa. Wilayah yang sebelumnya dianggap relatif aman pun kini mulai perlu meningkatkan kewaspadaan.
Siklon Tropis Senyar membawa dampak signifikan bagi sejumlah wilayah Indonesia, terutama Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, hingga Kepulauan Riau.
BMKG memprediksi potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem terjadi dalam kurun 24 jam setelah pembentukannya. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, serta tanah longsor.
Walaupun intensitas Senyar menurun dalam 48 jam dan berubah status menjadi depresi tropis, cuaca ekstrem tetap berlangsung karena awan konvektif di sekitar sistem masih aktif.
Selain hujan deras, angin kencang menerjang sejumlah wilayah pesisir dan dataran rendah, berpotensi merusak bangunan ringan serta menumbangkan pepohonan.
Sementara di perairan, dampak yang dirasakan jauh lebih besar. Gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter tercatat di Selat Malaka bagian utara, perairan Aceh, serta Samudra Hindia barat Aceh hingga Nias. Kondisi ini membuat aktivitas pelayaran dan nelayan menjadi sangat berisiko.
Dari berbagai fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa siklon tropis memang tidak umum terjadi secara langsung di wilayah Indonesia akibat pengaruh gaya coriolis dan letak geografis di dekat khatulistiwa.
Namun, dinamika atmosfer serta pemanasan laut global membuat peluang terbentuknya sistem badai di lintang rendah semakin terbuka, seperti yang terjadi pada Siklon Tropis Senyar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




