Menhan Sjafrie: Prajurit TNI Harus Menyatu dengan Rakyat Papua
Sabtu, 3 Januari 2026 | 14:01 WIB
Merauke, Beritasatu.com - Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus hadir dan menyatu dengan rakyat Papua. Ia meminta para prajurit Yonif Teritorial Pembangunan (TP) 861/Maleo Kamur untuk tidak hanya beraktivitas di markas, tetapi aktif turun ke kampung-kampung dan membaur bersama masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Menhan Sjafrie saat melakukan kunjungan kerja ke Markas Yonif TP 861/Maleo Kamur yang berlokasi di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada Jumat (2/1/2026). Dalam kunjungan itu, Sjafrie memberikan arahan langsung kepada ratusan prajurit yang tengah menjalankan tugas di wilayah perbatasan dan pedalaman Papua.
“Kamu tidak boleh tinggal di markas, kamu harus keluar, kamu harus bersatu di kampung-kampung bersama rakyat,” ujar Sjafrie di hadapan ratusan prajurit.
Menhan menekankan, keberadaan prajurit TNI di Papua tidak hanya bertujuan menjaga keamanan wilayah, tetapi juga membangun kepercayaan dan kedekatan dengan masyarakat. Menurutnya, rakyat merupakan elemen utama yang memberi ruang bagi prajurit untuk menjalankan tugas negara.
“Karena rakyat itu yang memberikan tempatnya, supaya kalian bisa bermarkas di sini. Jadi, kamu harus membalas jasanya rakyat yang memberi kamu tempat untuk bermarkas di sini,” tegasnya.
Dalam kunjungan tersebut, Menhan Sjafrie didampingi sejumlah pejabat tinggi TNI dan Kementerian Pertahanan, di antaranya Wakil Panglima TNI, Jenderal Tandyo Budi Revita, serta Kepala Badan Logistik Pertahanan Kemenhan, Laksamana Madya Yusuf Jauhari. Kehadiran para pejabat ini menegaskan perhatian pemerintah pusat terhadap penguatan pertahanan teritorial dan pendekatan humanis TNI di Papua.
Sjafrie juga mengingatkan prajurit TNI harus mampu berkomunikasi dan membangun hubungan dengan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Dengan demikian, TNI benar-benar hadir sebagai bagian tak terpisahkan dari rakyat Indonesia.
“Supaya mereka menganggap kamu adalah anak kandung rakyat Indonesia. Prajurit TNI adalah anak kandung dari rakyat Indonesia,” ucapnya, yang disambut jawaban serempak prajurit,“Siap!”
Dalam arahannya, Menhan Sjafrie turut mengenang pengalamannya saat bertugas di Papua. Ia menyebut pernah memimpin satuan bernama Maleo, yang kini menjadi nama Yonif TP 861.
“Saya waktu bertugas di Papua, nama tim saya adalah Maleo. Tim Maleo itu kalau operasi selalu menang,” katanya.
Ia pun berharap Yonif TP 861/Maleo Kamur dapat menjalankan tugas dengan penuh dedikasi dan selalu berhasil dalam setiap penugasan.
“Jadi batalion ini harus selalu menang di daerah operasi. Siap?” ujarnya, kembali disambut semangat prajurit.
Markas Yonif TP 861 berdiri di atas lahan seluas 100 hektare dan menjadi bagian penting penguatan pertahanan di Papua Selatan. Saat ini, 645 prajurit telah bergabung dari total 1.190 personel yang direncanakan. Pembangunan fasilitas markas masih berlangsung, sementara prajurit menempati tenda dan mess sementara.
Lebih lanjut, Menhan Sjafrie menekankan peran strategis Yonif TP 861 dalam mendukung ketahanan pangan nasional, mengingat wilayah Wanam direncanakan menjadi lokasi program cetak sawah 1 juta hektare sebagai proyek strategis nasional.
“Nanti wilayah ini akan menjadi sumber cadangan pangan nasional. Jadi, tugas kalian adalah menjaga sumber cadangan pangan nasional,” tandas Menhan Sjafrie.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




