Black Box Jadi Kunci Ungkap Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
Senin, 26 Januari 2026 | 11:25 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com - Kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang menabrak Gunung Bulusaruang menjadi sorotan publik setelah serpihan pesawat ditemukan di area puncak gunung. Insiden ini terungkap menyusul hilangnya kontak pesawat pada Sabtu (17/1/2026), yang kemudian memicu operasi pencarian dan evakuasi intensif oleh tim gabungan.
Setelah seluruh korban berhasil ditemukan serta black box pesawat berhasil diamankan, operasi pencarian dan evakuasi resmi dihentikan pada Jumat (23/1/2026). Fokus penyelidikan kini beralih pada analisis data black box untuk mengungkap penyebab kecelakaan secara lebih komprehensif.
Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir Muhammad Agung Bramantya menyatakan, keberadaan black box akan sangat membantu dalam mengungkap faktor penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut.
Menurutnya, data dari flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR) memungkinkan penyelidik mengetahui kondisi teknis penerbangan serta komunikasi di dalam kokpit sebelum kejadian.
“Pembacaan black box membutuhkan waktu beberapa hari hingga 2 minggu. Namun, tetap membutuhkan analisis mendalam oleh pihak KNKT agar hasilnya benar-benar akurat,” ujarnya, Senin (26/1/2026).
Mengacu pada informasi awal dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kecelakaan pesawat diduga dipicu oleh kesalahan navigasi terhadap kondisi medan di sekitar lokasi kejadian. Bramantya menilai faktor cuaca buruk, seperti kabut tebal dan hujan deras, berpotensi besar memengaruhi proses navigasi penerbangan.
Kabut tebal menyebabkan jarak pandang pilot menurun sehingga awak pesawat lebih mengandalkan instrumen navigasi.
“Beberapa sistem yang belum otomatis, memungkinkan adanya kesalahan interpretasi instrument ataupun adanya gangguan komunikasi dengan ATC,” kata Bramantya.
Ia menambahkan, hasil analisis black box nantinya diharapkan dapat menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap sistem pesawat dan prosedur penerbangan. Evaluasi tersebut penting untuk merumuskan rekomendasi keselamatan guna mencegah kejadian serupa di masa depan.
“Harapan jangka panjang dengan meningkatkan sistem ATC, sistem pemantauan cuaca, pelatihan dan kelengkapan peralatan tim SAR untuk meningkatkan respon apabila ada kejadian serupa di masa yang mendatang,” harapnya.
Selain faktor teknis, investigasi KNKT juga diperkirakan akan menelaah aspek operasional penerbangan, kesiapan awak pesawat, serta prosedur keselamatan yang diterapkan maskapai. Hasil akhir penyelidikan nantinya akan menjadi rujukan bagi industri penerbangan nasional dalam memperkuat standar keselamatan penerbangan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Aniaya Warga hingga Tewas, 3 Sekuriti PT Agrinas Palma Jadi Tersangka




