ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bupati Ngada: Bunuh Diri Siswa SD Bukan karena Buku dan Pulpen

Jumat, 6 Februari 2026 | 08:18 WIB
AK
S
Penulis: Albertus Pepi Kurniawan | Editor: JTO
Lokasi kejadian siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR berusia 10 tahun yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis bunuh diri. Ia tinggalkan surat perpisahan untuk ibu.
Lokasi kejadian siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBR berusia 10 tahun yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis bunuh diri. Ia tinggalkan surat perpisahan untuk ibu. (Beritasatu.com/Pepy)

Bajawa, Beritasatu.com - Bupati Ngada Raymundus Bena membantah kabar yang beredar soal YB, siswa SD yang meninggal secara tragis dikaitkan dengan tidak dibelikan buku tulis dan pulpen.

“Perlu saya tegaskan, informasi itu tidak tepat. Motif bunuh diri bukan karena buku atau pulpen,” ujar Raymundus dalam konferensi pers di Rumah Jabatan Bupati Ngada, Kamis (5/2/2026) malam.

Ia menambahkan, pemerintah akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menelusuri sumber informasi yang keliru tersebut.

ADVERTISEMENT

Raymundus menekankan kasus ini merupakan persoalan kemanusiaan dan kejadian luar biasa. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada bertanggung jawab penuh terhadap penyelesaian masalah ini, termasuk langkah strategis pencegahan agar kasus serupa tidak terulang. 

Menurut bupati sejak tragedi itu terjadi sekda bersama dinas terkait dan pemerintah Desa Naruwolo segera mendatangi lokasi untuk bertemu keluarga korban sekaligus menelusuri catatan kependudukan.

Dari hasil pemantauan tim internal, Bupati menjelaskan alasan korban mengakhiri hidupnya dipengaruhi kondisi ekonomi keluarga yang sangat miskin dan kurangnya perhatian orang tua. Ibu korban belum melakukan mutasi data kependudukan meski sudah diimbau pemerintah.

“Faktor dominan adalah kemiskinan ekstrem dan kurang perhatian orang tua,” jelasnya.

Raymundus juga membantah keluarga korban tidak pernah menerima bantuan pemerintah. Ibu korban pernah mendapat bantuan ternak dari pemerintah desa, nenek korban menerima BLT sejak 2023 hingga 2025, dan BPJS juga diberikan.

Ia menambahkan keluarga korban memiliki utang koperasi mingguan sebesar Rp 8 juta dengan cicilan Rp 130.000 per minggu.

Ia menegaskan, sejak kejadian hingga kini, dirinya belum mengunjungi rumah duka, dan semua langkah pemerintah difokuskan pada dukungan bagi keluarga serta pencegahan masalah serupa di masa depan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

KPAI Soroti Kematian Siswa SD di NTT, Ini Pemicunya

KPAI Soroti Kematian Siswa SD di NTT, Ini Pemicunya

NASIONAL
Ironi HAM di Balik Tragedi Anak Bunuh Diri di NTT

Ironi HAM di Balik Tragedi Anak Bunuh Diri di NTT

NUSANTARA
Sambangi Rumah Duka Murid di NTT, Kemendikdasmen Beri Santunan

Sambangi Rumah Duka Murid di NTT, Kemendikdasmen Beri Santunan

NASIONAL
Bupati Ngada Akui Ada Pungutan Rp 1,2 Juta di SDN Rutojawa

Bupati Ngada Akui Ada Pungutan Rp 1,2 Juta di SDN Rutojawa

NUSANTARA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon