Sambangi Rumah Duka Murid di NTT, Kemendikdasmen Beri Santunan
Sabtu, 7 Februari 2026 | 09:26 WIB
Ngada, Beritasatu.com - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyambangi rumah duka almarhum YBR (10), murid kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (5/2/2026). Kunjungan ini dilakukan sebagai wujud empati serta komitmen perlindungan dan pendampingan psikososial bagi peserta didik dan keluarganya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan dukacita mendalam atas wafatnya YBR. Ia menegaskan, peristiwa tersebut harus menjadi momentum evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang pada masa mendatang.
“Secara pribadi dan atas nama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, saya menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Yohanes Bastian Roja. Meninggalnya Yohanes menjadi catatan dan pelajaran bagi semua pihak tentang pentingnya perhatian, penanaman nilai-nilai agama, serta ketahanan keluarga,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurut dia, tanggung jawab membangun ketahanan anak tidak hanya berada di pundak orang tua, tetapi juga masyarakat, guru, tokoh agama, serta penyelenggara pendidikan, termasuk pemerintah.
Kunjungan ke rumah duka dilakukan oleh perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen di NTT, yakni Kepala Subbagian Umum Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT Damita Limbu, perwakilan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) NTT Risyono, serta disaksikan perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada.
Selain menyampaikan belasungkawa, tim Kemendikdasmen juga menyerahkan santunan untuk membantu meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.
Santunan tersebut diterima langsung oleh pihak keluarga, yakni Maria Goreti Te’a selaku ibu almarhum, Wihelmina Nenu sebagai nenek, serta Dominikus Nou, paman YBR. Dominikus menyampaikan apresiasi atas perhatian dan respons cepat pemerintah pusat.
“Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Kemendikdasmen atas bantuan yang diberikan. Bantuan ini sangat membantu keluarga dalam proses adat kematian almarhum dan kebutuhan lainnya,” ujar Dominikus dengan haru.
Sebelumnya, dalam pernyataan resmi pada Rabu (4/2/2026), Kemendikdasmen menegaskan kondisi emosional anak dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks yang memerlukan perhatian berkelanjutan dari sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar. YBR tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), tetapi kementerian menilai perlindungan anak tidak bisa berhenti pada dukungan finansial semata.
Melalui BPMP NTT, Kemendikdasmen berkomitmen terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan pendidikan anggota keluarga almarhum serta memberikan pendampingan psikososial yang diperlukan.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif agar setiap anak merasa didengar dan dihargai,” tutup Abdul Mu’ti.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




