Sering Beda Pendapat, TK-Mega Saling Melengkapi

Sabtu, 8 Juni 2013 | 23:05 WIB
MS
FB
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: FMB
File foto th 2000: Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri (kanan) bersama suami Taufiq Kiemas (tengah) melepas Presiden Abdurrahman Wahid di Bandara Halim Perdanakusumah, beberapa waktu silam.  Ketua MPR Tuafiq Kiemas yang dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura itu meninggal dunia dalam usia 71 tahun.
File foto th 2000: Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri (kanan) bersama suami Taufiq Kiemas (tengah) melepas Presiden Abdurrahman Wahid di Bandara Halim Perdanakusumah, beberapa waktu silam. Ketua MPR Tuafiq Kiemas yang dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura itu meninggal dunia dalam usia 71 tahun. (ANTARA FOTO/HADIYANTO)

Jakarta - Politisi PDI Perjuangan, Andreas Pareira, menyatakan Taufiq Kiemas (TK) adalah politisi yang humanis, dimana di saat sama banyak orang mengenalnya sebagai seorang politisi ulung.

"TK adalah figur di belakang layar perjuangan Megawati. TK mengawal perjalanan karir politik Mega sejak bergabung dengan PDI, menjadi anggota DPR, melawan rezim otoriter Suharto, mendirikan PDI Perjuangan, menjadi Wapres dan Presiden," kata Andreas di Jakarta, Sabtu (8/6).

Meskipun sering berbeda pendapat, lanjutnya, tetapi TK dan Megawati adalah partner politisi yang saling melengkapi untuk PDI Perjuangan dan untuk bangsa ini.

Selain politisi ulung, tidak kurang menariknya, TK adalah seorang humanis. TK selalu menyapa siapa saja, dari kalangan mana saja, tanpa membedakan usia, suku, agama, maupun strata sosial.

Menurut Andreas, salah satu kelebihan TK adalah ingatannya yang kuat, termasuk mengingat nama seseorang yang pernah dikenal.

"TK pun politisi yang murah hati suka membantu mereka yang membutuhkan bantuan. TK selalu memberikan perhatian yang serius pada keluarga, sahabat dan kenalan," kata Andreas.

Dia mengingat obrolan dengan TK selalu menjadi obrolan yang menarik dan penuh canda, saling meledek dan tawa ceria.

"TK selalu mengatakan orang yg sehat dan mau maju adalah orang yang berani mencemoohkan dirinya sendiri, karena dengan saling meledek kita lebih mengenali diri sendiri dan sahabat kita," kata Andre.

Dia juga bercerita bahwa di akhir perjalanan hidupnya sebagai politisi, TK pernah bercerita ingin mewujudkan obsesinya menjadi figur politisi negarawan yang menyatukan.

TK ingin mempraktekan salah satu ajaran pokok Guru Besar Politiknya Bung Karno yang juga adalah mertuanya. Yakni prinsip 'sammen bandeling van alle krachten'; menyatukan semua kekuatan sebagai basis dalam perjuangan mewujudkan cita kemerdekaan.

Menurutnya, TK pun secara konsisten mempraktekkan sekaligus menjadi teladan dalam mewujudkan gotong royong sebagai kekuatan dalam perjuangan mengangkat Pancasila melalui Empat Pilar Kebangsaan dalam tim MPR-nya yang solid.

"Bang TK, Bangsa ini mengenangmu sebagai seorang politisi kawakan yang sangat mencintai bangsa dan negaranya, sebagai seorang sahabat yang penuh perhatian pada sesamanya. Selamat jalan abang," kata Andreas.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon