Lahan Pasir Berbuah Bawang dan Cabai
Minggu, 25 Agustus 2013 | 12:02 WIB
Bantul - Aneh. Lahan pasir bisa berbuah bawang merah, cabai dan palawija? Anda tentu tak percaya. Tapi, tidak untuk para petani di Dusun Ngepet, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Wilayah itu merupakan wilayah obyek wisata Pantai Samas. Daerah itu benar-benar menjadi kenyataan. Lihat saja di kawasan seluas sekitar empat hektare. Memang bukan tiba-tiba muncul bawang merah dan cabai, tetapi setelah ditanami ternyata lahan pasir bisa menghasilkan.
Beberapa tahun lalu lahan pasir dibiarkan begitu saja, karena kering dan gersang. Penduduk juga menganggap pasir tak bisa ditanami. Akibatnya, berhektare-hektare lahan terbengkalai tak ada yang mengolah. Sampai suatu ketika ada beberapa orang yang coba-coba menanami dengan cabai dan bawang merah.
''Mana mungkin lahan pasir bisa ditanami? Masa, sih, tanaman bisa hidup di lahan kering kerontang begitu?'' tanya sejumlah penduduk Pantai Samas.
Pertanyaan semacam itu muncul beberapa tahun lalu. Kini, tak akan ada lagi tanya demikian. Lahan pasir seluas sekitar 186 hektare sudah berubah menjadi hijau oleh tetumbuhan. Ada cabai, bawang merah, dan ketela di sana. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah kehijauan. Bagai oase di padang gersang, begitu sebutan pas buat hijaunya dedaunan tanaman produktif tersebut.
Ketua Kelompok Tani Manunggal Pantai Samas, Subandi menuturkan, kepada SP, Kamis (22/8), pihaknya memiliki 2.000 meter persegi lahan pasir yang ditanami bawang merah dan sayuran. Dalam setahun lahan pasirnya bisa ditanami tiga kali bawang merah dan sekali sayuran atau cabai. Hasilnya? luar biasa! Karena dalam sekali panen dia bisa meraup keuntungan jutaan rupiah.
Namun, semua itu tidak diperoleh dengan mudah, karena petani lahan pasir seperti dia harus rajin-rajin merawat dan menyirami tanaman. Maklumlah, di tanah kering tersebut kalau tak rajin menyirami, tanaman bakal kering. Sehari, dia harus menyiram dua kali, pagi dan sore.
Sumur Renteng
Lantas, dari mana Subandi dan petani lain bisa memperoleh air untuk menyirami tanamannya? Dulu itu menjadi persoalan sulit, tetapi kini tak lagi. Para petani mengairi lahan dari air sumur renteng. Di setiap kotak lahan pertanian bisa terdapat belasan sampai puluhan sumur renteng dengan air berlimpah.
Dinamakan sumur renteng karena memang letaknya berurutan, sambung-menyambung antara sumur satu dan lainnya. Setiap sumur dihubungkan dengan pipa paralon yang bisa dibuka dan ditutup sesuai dengan keinginan pemilik.
Air sumur berasal dari sebuah telaga dan reservoir tak jauh dari lahan pertanian. Telaga itu mendapatkan air tawar dari sungai yang mengalir ke arah laut. Dengan mesin penyedot, air ditarik ke telaga kemudian disalurkan ke sumur-sumur petani.
''Setiap pagi petani menghidupkan pompa di reservoir. Setelah penuh, tinggal buka kran dan air akan mengalir deras,'' tutur Subandi.
Karena reservoir digunakan secara bersamaan, untuk biaya pemeliharaan mereka iuran. Tiap sumur renteng dikenai biaya Rp 1.000 per masa panen. Jadi, bisa dibilang sangat murah dan terjangkau.
Pemanfaatan lahan pasir, menurut Subandi, berawal pada tahun 1998. Ketika itu harga sewa lahan pertanian semakin mahal. Dia dan kawan-kawannya lantas mencoba beralih ke lahan pasir di kawasan pantai dengan bantuan Dinas Pertanian Bantul. Sebagai uji coba, pasir dicampur tanah liat dan pupuk kandang kemudian baru ditanami. Ternyata hasilnya menggembirakan.
''Tahun 2003 sudah mulai kelihatan hasilnya, satu hektare lahan pasir mampu memanen 23-33 ton bawang merah. Luar biasa, karena dulu para petani di sini tidak membayangkan bisa panen di lahan pasir,'' paparnya.
Amanah Sultan
Ketika ditanyakan tentang status lahan, Subandi mengatakan, lahan keseluruhan lahan milik Keraton Yogyakarta.
"Sewaktu panen pertama, saya dan teman-teman mohon izin menghadap Sri Sultan untuk, mohon maaf, memberikan hasil bumi ini kepada Keraton sebagai ucapan terima kasih dan syukur para petani di sini. Ternyata, ketika bertemu, Sultan menolak menerima 'upeti' hasil bumi ini. Sultan hanya mengatakan, gunakanlah lahan di sana untuk sebesar-besarnya kesejahteraan warga. Jangan disalahgunakan. Jaga kelestarian lingkungan. Dan, Sultan juga menolak menarik pajak atas lahannya yang digunakan para petani. Tak henti-hentinya para petani mengucap syukur," katanya mengenang pertemuan dengan Sultan.
Pesan-pesan Sultan, katanya, benar-benar dilaksanakan para petani. Semua wilayah dijaga kelestarian lingkungan. Bendungan air untuk menyirami tanaman pun bersih. tak boleh ada deterjen, atau bahan kimia. "Amanah Sultan harus kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," ucapnya.
Tumpang Sari
Alumnus Fakultas Agronomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini menuturkan, para petani kini menerapkan sistem pertanian tumpang sari dengan tujuan mencapai produksi yang maksimum.
"Kami terapkan sistem tumpang sari antara dua tanaman, yakni bawang merah dan cabai di atas lahan seluas 46 hektare yang dikembangkan di lahan pasir ini," katanya.
Menurut dia, dengan menerapkan sistem pertanian tumpang sari tersebut diharapkan dapat diperoleh capaian produksi yang maksimal, karena secara teknis sistem ini menanam dua tanaman sekaligus pada interval waktu yang berdekatan pada bidang tanah yang sama.
Ia mengatakan, seperti kondisi yang terjadi saat ini, dimana tanaman bawang merah yang ditanam mulai 10 Juni 2012 lalu , petani yang sama juga telah menyemai bibit cabai sejak 1 Juni, sehingga ketika tanaman bawang merah berusia sekitar 20 hari, cabai sudah bisa dipindah lahan.
"Untuk tanaman bawang merah itu mulai tanam hingga penen berusia antara 55 sampai 60 hari, sehingga ketika semua sudah panen, maka dilahan yang sama juga ada tanaman cabai, selain irit waktu sekitar dua bulan juga irit tenaga dan biaya," katanya.
Ia mengatakan, dengan sistem tumpang sari itu, maka petani setempat juga bisa merasakan panen sepanjang musim pada periode tertentu, apalagi dia mengaku hampir tidak ada kendala seperti bencana ketika tanaman berada di lahan pasir.
Menurut dia, untuk memaksimalkan produksi panenan, petani juga tidak memanfaatkan pupuk kimia, melainkan pupuk kandang. "Sistem tumpang sari juga harus didukung dengan pupuk kandang, bukan kimia, karena pupuk kimia kurang bagus, dan dapat merusak tanaman," katanya.
Ia mengatakan, lahan pertanian yang dikembangkan di lahan pasir pesisir pantai ini telah dimulai sejak 1983, awalnya hanya diuji coba tiga petani, namun karena hasilnya cukup bagus, makanya saat ini dikembangkan oleh hampir semua petani setempat.
"Kalau di kelompok saya ada sebanyak 187 anggota yang tergabung dalam lima kelompok tani, masing-masing petani setidaknya mengolah lahan pertanian di lahan pasir sekitar 2.000 meter persegi," katanya.
Dia mengatakan, produksi bawang merah dan cabainya sudah merambah hingga ke luar negeri. Tak hanya di pasar Kramatjati, Jakarta Timur. Singapura juga membeli hasil panenan petani di Samas. "NTT juga meminta kami untuk 'mengajari' petani di sana untuk mencoba menanam cabai dan bawang merah," katanya.
ia menuturkan, keberhasilan para petani juga berimbas langsung kepada kesejahteraan keluarga para petani. "Separuh anggota kami, anak-anaknya sedang kuliah S-2," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




