Sebelum "Muntah", Ternyata Sinabung Selalu Beri Tanda

Senin, 20 Januari 2014 | 23:53 WIB
AS
B
Penulis: Arnold H Sianturi | Editor: B1
Suasana malam di sebuah desa di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, saat Gunung Sinabung mengeluarkan lava pijar, pada pekan lalu.
Suasana malam di sebuah desa di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara, saat Gunung Sinabung mengeluarkan lava pijar, pada pekan lalu. (Suara Pembaruan/155)

Karo - Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), ternyata selalu memberikan tanda sebelum terjadinya letusan. Pertanda itu pun tidak pernah luput dari perhatian masyarakat yang tinggal di kaki gunung merapi tersebut.

Masyarakat tidak melihat langsung pertanda itu dari alam di gunung merapi yang memiliki ketinggian 2,8 Kilometer (Km) tersebut. Namun, pertanda yang diketahui penduduk desa sering mereka dengar melalui suara lolongan anjing.

Bahkan, burung - burung pun yang berada di alam bebas, juga sama seperti hewan piaraan masyarakat. Hewan - hewan itu saling bersahutan, seakan memberikan peringatan ke sesama hewan lainnya. Suara bising hewan meramaikan situasi alam.

"Bila terdengar suara hewan saling bersahutan maka masyarakat langsung meninggalkan lokasi desa. Masyarakat langsung menaiki truk yang disediakan pemerintah untuk dievakuasi," ujar warga Sigarang - garang, Jaya Sembiring, Selasa (21/1) dini hari.

Jaya mengungkapkan, suara kebisingan burung dan anjing piaraan masyarakat, selalu memberikan tanda kepada masyarakat. Namun, sebagian dari masyarakat di desa tersebut, tidak menyadari maksud dari pertanda suara yang membisingi desa.

"Suara burung dan anjing seperti melakukan paduan suara. Bila ini sudah terdengar maka suasana desa terasa sangat mencekam. Kami langsung bergegas meninggalkan desa untuk menyelamatkan diri. Suara hewan membantu warga," katanya.

Dia menambahkan, tidak sedikit di antara masyarakat di desa tersebut, yang tidak mengungsi. Kendati demikian, bukan berarti masyarakat desa ingin mengakhiri hidupnya. Masyarakat masih mengandalkan peringatan alam melalui hewan.

"Biasanya, 15 menit sampai 25 menit sebelum adanya letusan gunung, hewan - hewan itu sudah memperingatkan ke masyarakat. Artinya, saat itu kita diberi waktu peringatan itu untuk menyelamatkan diri. Kita langsung ke Kabanjahe," jelasnya.

Nasib warga di sana memang selalu beruntung. Soalnya, di waktu yang sangat singkat itu, erupsi Gunung Sinabung tidak sampai merenggut korban jiwa. Masyarakat merasa sudah dapat menyatu dengan alam di desanya tersebut.

Josua, warga lainnya menambahkan, masyarakat yang tinggal di desa dan tidak mau mengungsi, selalu mewaspadai setiap ancaman gunung yang pernah meletus 800 silam itu. Lewat tengah malam pun mereka mengungsi jika ada letusan.

Pria berusia 40 tahun ini bersama keluarganya pernah melakukan itu, saat Gunung Sinabung kembali meletus sekitar sepekan yang lalu. Saat kejadian, mereka langsung menuju truk yang sudah siaga mengevakuasi masyarakat di desa tersebut.

"Kami mengharapkan pemerintah supaya selalu menyediakan sarana angkutan buat mengevakuasi masyarakat desa jika kemungkinan terburuk itu terjadi. Kami juga mengendarai sepedamotor jika tidak ada truk tersebut," imbuhnya.

Berada di kaki Gunung Sinabung bersama dengan masyarakat di sana, penuh dengan rasa cemas. Bagi masyarakat di sana, rasa takut itu sudah sering mereka alami. Namun, secara perlahan ketakutan itu sirna dengan sendirinya.

"Bukan mau melampaui kekuasaan Tuhan. Namun, keberadaan dan keselamatan kami, sampai saat ini masih berada di desa ini, berkat dari kuasaNYA. Berkat yang diberikan pula mengingatkan kami melalui hewan - hewan di sini," sebutnya.

Menurutnya, setiap malam masyarakat yang tinggal dan bermalam di desa tersebut, selalu terjaga. Bahkan, ada juga yang sengaja menjaga desa secara bergantian sampai pagi hari. Masyarakat membakar api unggun saat berjaga di setiap desa sana.

"Bencana ini sudah sangat lama melanda desa ini. Tidak ada lagi lahan pertanian yang bisa diandalkan. Kami pun tinggal selain untuk menjaga desa juga memperbaiki rumah dan mengolah lahan pertanian. Apa saja yang bisa dimanfaatkan," imbuhnya.

Tidak sedikit rumah yang hancur akibat erupsi Gunung Sinabung. Bahkan, masjid, gereja dan sekolah pun tidak luput dari bencana itu. Masyarakat mengharapkan, pemerintah bersedia memperbaiki segala kerusakan tersebut nantinya.

Koordinator Media Center Posko Tanggap Darurat Erupsi Gunung Api Sinabung, Jhonson Tarigan menyampaikan, jumlah pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung, mencapai 27.000 orang.

Para pengungsi itu ditampung di 40 titik lokasi pengungsian. Pemerintah berusaha maksimal untuk membantu penanganan pengungsi. Dalam penanganan itu, tidak sedikit bantuan dari pusat, provinsi maupun daerah tersebut.

"Persediaan stok pangan maupun minuman untuk beberapa hari ke depan masih mencukupi buat pengungsi. Pemerintah tidak akan membiarkan pengungsi sampai kelaparan karena tidak makan di tengah pengungsian," jelasnya.

Menurutnya, aktivitas gunung merapi itu masih sangat tinggi. Oleh karena itu, masyarakat sebaiknya meninggalkan desanya masing - masing. Pemerintah tidak akan menelantarkan masyarakat selama berada di tempat pengungsian.

"Tidak dapat dipastikan sampai kapan Gunung Sinabung kembali normal seperti sebelumnya. Pemerintah terus memonitor setiap perkembangan gunung tersebut. Saat ini, aktivitas gunung merapi itu masih tinggi," sebutnya. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon