Putri Widji Thukul Tantang Prabowo Jujur soal Penculikan

Rabu, 7 Mei 2014 | 17:31 WIB
MS
B
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: B1
Wiji Thukul
Wiji Thukul (Istimewa)

Jakarta - Mantan Danjen Kopassus dan capres Partai Gerindra, Prabowo Subianto ditantang putri Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani untuk jujur soal penculikan para aktivis pada 1997-1998.

"Mungkin ada pihak yang membela dia (Prabowo), bahwa dia tak melakukannya. Tapi ayo, berani dong bicara. Katakan bahwa dia siap diadili dan siap bertanggung jawab di depan umum," tegas Fitri, di Jakarta, Rabu (7/5).

Hal itu disampaikan Fitri, karena hingga saat ini dia dan keluarganya masih belum percaya bahwa ayahnya, Wiji Thukul sudah tiada. Harapan bahwa ayahnya itu masih hidup, yang membuat dia dan ibundanya, Sipon masih bergerak mencari keadilan demi mengetahui kondisi ayahnya yang hilang menjelang jatuhnya rejim Orde Baru.

"Bapak saya itu cuma menulis buku harian, berupa puisi, atas apa yang terjadi di sekitarnya. Betapa konyolnya cuma begitu, bapak saya dihilangkan," ujar Fitri.

Dia juga tak menolak bila ibundanya mengalami psikologi yang tak stabil hingga sekarang, akibat hilangnya sang ayah.

"Bagi kami penting untuk tahu dimana keberadaan bapak. Tak ada yang digantung nasibnya dan disepelekan," imbuh dia.

"Kalau kami, selama mayat ayah tak ada, selama belum ada pernyataan ini loh yang bunuh Wiji Thukul, maka kami masih meyakini bapak masih hidup."

Dia menilai bahwa Prabowo dan Kivlan Zen, dua nama tokoh yang belakangan diduga terkait peristiwa hilangnya aktivis di 1997-1998 tak pernah berpikir dewasa. Bahkan Fitri menganggap keduanya selalu arogan, namun sekaligus pengecut.

"Jangan arogan terus. Mereka harus tegas. Jangan permainkan banyak pihak. Baik keluarga, atau Komnas HAM. Tak usahlah publik dibohongi dengan iklan miliaran rupiah yang mereka buat," jelas Fitri.

Pada kesempatan itu, dia juga berharap sebelum maju sebagai capres 2014 Prabowo bersedia menyelesaikan seluruh permasalahan yang dia hadapi, termasuk soal penculikan aktivis.

Menurutnya, kasihan juga bila Prabowo membawa-bawa masalahnya yang banyak ketika hendak menyasar jabatan tertentu. Fitri mengaku tahu Prabowo mempunyai masalah terkait dugaan penghilangan paksa, rumah tangga gagal, utang banyak, dan kesejahteraan buruh yang buruk dengan tak menggaji selama lima bulan.

"Kalau kami, sih prinsipnya, kalau punya masalah belum selesai, mending diselesaikan dulu masalah yang belum selesai. Sebelum kamu menyatakan siap mengatasi masalah berikutnya dan masalah orang lain, ya selesaikan masalah sendiri dulu," jelas Fitri.

Pada Oktober 1989, Thukul menikah dengan istrinya, Siti Dyah Sujirah alias Sipon yang saat itu berprofesi sebagai buruh. Fitri lahir pada 22 Desember 1993, lalu anak kedua mereka lahir yang diberi nama Fajar Merah.

Pada 1992, Wiji ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo. Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker). Pada 1995 mengalami cedera mata kanan, karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.

Peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia salah seorang dari belasan aktivis yang hilang.
April 2000, Sipon melaporkan suaminya yang hilang ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon