PT MRT Rampungkan Kontrak Pertama Koridor Selatan - Utara

Kamis, 30 April 2015 | 16:54 WIB
LT
B
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: B1
Pekerja melakukan aktivitas pembangunan jalur bawah tanah (terowongan) Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta, 29 April 2015.
Pekerja melakukan aktivitas pembangunan jalur bawah tanah (terowongan) Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta, 29 April 2015. (Antara/Muhammad Adimaja)

Jakarta - Direktur Utama PT MRT Jakarta, Dono Boestami menyatakan lega, karena seluruh paket proyek mass rapid transit (MRT) fase pertama koridor selatan-utara (Lebakbulus-Bundaran Hotel Indonesia) telah selesai. Hal ini dikatakannya usai menandatangani kontrak Paket CP-107, pengadaan sarana penunjang perkeretaapian atau railway systems and trackwork hari ini, Kamis (30/4).

"Paket ini merupakan paket terakhir yang ditandatangani pada proyek pembangunan MRT fase pertama, yaitu koridor Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia," kata Dono, dalam acara penandatanganan kontrak di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (30/4).

Konstruksi proyek MRT Jakarta fase pertama koridor selatan-utara terdiri dari delapan paket pekerjaan proyek, yaitu paket konstruksi layang (elevated section) yang terdiri dari CP-101, CP-102 dan CP-103; paket konstruksi bawah tanah (underground section) yang terdiri dari paket CP-104, CP-105 dan CP-106; serta paket railway systems and trackwork untuk paket CP-107 dan paket rolling stock (kereta) untuk paket CP-108.

"Dengan ditandatanganinya kontrak CP-107 ini, menandai keseluruhan paket kontrak proyek MRT Jakarta fase pertama telah ditandatangani seluruhnya. Dengan capaian ini, manajemen dapat berkonsentrasi untuk memastikan proyek berlangsung tepat waktu," ujarnya.

Untuk pembangunan sarana penunjang perkeretaapian, khususnya persinyalan, Dono menjelaskan sinyal yang akan digunakan adalah sistem terbaru dan pertama di Indonesia, yaitu sistem persinyalan communication based train control (CBTC) dengan menerapkan sistem moving block dalam perjalanan kereta api.

"Sistem ini dapat meningkatkan performa perjalanan kereta, sehingga perjalanan kereta dapat terjadwal dengan baik dengan tingkat keselamatan yang tinggi, serta dapat mengakomodasi periode antar kereta yang relatif singkat," jelasnya.

Sistem CBTC menerapkan sistem persinyalan otomatis, artinya, perjalanan kereta dikendalikan melalui pusat kontrol. Sistem ini membuat kereta dapat beroperasi tanpa menggunakan masinis, meskipun saat beroperasi MRT Jakarta masih menggunakan masinis untuk memastikan keamanan operasional.

"Lalu sistem moving block pada CBTC membuat headway antar kereta didasarkan pada perhitungan waktu bukan jarak. Hal inilah yang memungkinkan headway kereta dapat diterapkan di bawah lima menit di masa yang akan datang," paparnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon