Pentaskan Tarian Caci, Keluarga Manggarai-Jakarta Hidupkan Kembali Kearifan Lokal

Rabu, 3 Juni 2015 | 04:03 WIB
YP
B
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: B1
Tarian Caci yang digelar Ikatan Keluarga Manggarai Kebun Jeruk (IKMKJ) di halaman Gereja Paroki Andreas, Jalan Green Garden J5 No.1, Kedoya Jakarta Barat, 2 Juni 2015.
Tarian Caci yang digelar Ikatan Keluarga Manggarai Kebun Jeruk (IKMKJ) di halaman Gereja Paroki Andreas, Jalan Green Garden J5 No.1, Kedoya Jakarta Barat, 2 Juni 2015. (Beritasatu/Yustinus Paat)

Jakarta – Keluarga besar Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Manggarai Kebun Jeruk (IKMKJ) menggelarkan salah satu tarian adat, yakni Tarian Caci di halaman Gereja Paroki Andreas, Jalan Green Garden J5 Nomor 1, Kedoya Jakarta Barat, Selasa (2/6).

Acara ini dihadiri oleh tamu kehormatan, Karni Ilyas, pemimpin redaksi TV One serta presiden Indonesia Lawyers Club. Selain itu, pentas tarian dihadiri sejumlah tokoh yang berasal dari Manggarai, seperti Vinsen Siboe, Lukas Lontoh, peneliti Formappi Lucius Karus, pakar politik Boni Hargens, DPD asal NTT Andry Garu, Frans Nembo, Gebriel Mahal, dan Eddy Danggur.

Sekitar 1.000 warga asal Manggarai yang berdomisili di Jakarta dan sekitar mengikuti acara ini.

Ketua Panitia, Libert Jehani, mengungkapkan, salah satu tujuan pentas tarian caci ini adalah menghidupkan kembali tradisi dan kearifan lokal masyarakat Manggarai yang berada di tanah rantau khususnya di Jakarta dan sekitarnya. Dengan pentas Tarian Caci, katanya, kerinduan warga Manggarai di Jakarta akan tradisi dan kearifan lokal bisa terpenuhi.

"Kami menggelarkan Tarian Caci agar masyarakat Manggarai di tanah rantau tidak lupa akan tradisi dan kearifan lokalnya. Kita lihat saja, semua yang hadir merasa kerinduan akan tradisinya terpenuhi," ujar Libert di sela-sela acara.

Libert juga menuturkan pentas Tarian Caci merupakan acara puncak dari keseluruhan acara sebelumnya, yakni pertandingan sepakbola dan voli yang digelar pada April dan Mei serta misa inkulturasi.

"Tadi pagi, ada misa inkulturasi dalam bahasa Manggarai yang dipimpin Pastor Peter C Aman OFM, dan didampingi Pastor Alex Lanur OFM dan Romo Karolus Jande Pr," tambahnya.

Sementara Ketua Umum IKMKJ 2014-2017, Fabianus Siprin, mengungkapkan, tujuan lain pentas Tarian Caci ini adalah mempererat persaudaraan masyarakat Manggarai di perantauan. Fabianus mengaku, warga Manggarai yang tinggal terpisah-pisah di Jakarta dan sekitar karena kesibukan dan pekerjaannya masing-masing, dapat bertemu dan berkumpul bersama karena acara ini.

"Kita dari daerah (Manggarai) tinggal tersebar di Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara atau daerah-daerah sekitar, hari bisa bertemu dan berkumpul melalui acara ini. Meskipun undangannya tidak resmi melalui media sosial seperti Facebook, tetapi banyak yang hadir, sekitar 1.000 lebih orang," ucap Fabianus.

Peneliti Formappi Lucius Karus yang juga berasal dari Manggarai mengapresiasi acara IKMKJ berhasil menjadi wadah silaturahim antara sesama warga Manggarai di perantauan. Selain itu, menurut Lucius, pentas Tarian Caci tersebut telah memberikan sumbangsih bagi misi merawat kebudayaan Manggarai beserta nilai-nilainya yang dititipkan oleh leluhur sejak bertahun-tahun silam.

"Tarian Caci yang diselenggarakan IKMKJ merupakan upaya internalisasi nilai-nilai kultural dan moral kepada kaum muda Manggarai di tanah rantau agar tidak mudah diterjang badai globalisasi. Bukan saja kegembiraan berpesta yang menjadi tujuan, akan tetapi meresapkan nilai-nilai moral tradisional yang diwariskan leluhur melalui atraksi Caci ini," terang Lucius.

Tarian Caci merupakan tarian tradisional yang berasal dari Manggarai, Flores, NTT dengan menekankan pada permainan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian.

Pemain Caci harus memiliki keutamaan-keutamaan, seperti lomes (keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai), bokak (keindahan seni vokal saat bernyanyi), dan lime (ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan).

Setelah menangkis cambukan lawan dalam Tarian Caci tersebut, seorang pemain caci secara spontan bernyanyi dan menyampaikan paci – bahasa kiasan yang mengartikan kehebatan seseorang dalam bermain Caci.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon