Infeksi Malware Bahayakan Perangkat Pengguna

Selasa, 29 September 2015 | 07:49 WIB
EK
FH
Penulis: Emanuel Kure | Editor: FER
Ilustrasi Malware
Ilustrasi Malware (Mashable)

Jakarta - Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Kaspersky Lab dan B2B International telah menemukan fakta bahwa hampir setengah dari pengguna Internet (45%) harus berhadapan dengan piranti lunak berbahaya pada 2014, dan di kebanyakan kasus (81%) berdampak buruk terhadap pengguna dan perangkatnya.

"Biaya dan efek tak menyenangkan dari sebuah infeksi malware dapat dihindari dengan sikap bijaksana. Contohnya, jangan menghubungkan USB yang tidak terverifikasi pada perangkat, hanya gunakan toko aplikasi resmi, menjaga sistem operasi dan aplikasi up to date dan scan data-data dengan program sekuritas sebelum membukanya," kata Elena Kharchenko, head of consumer product management Kaspersky Lab, dalam keterangan tertulisnya, pekan lalu.

Menurut Elena, malware paling sering ditemukan di komputer berbasis Windows sebanyak 83%. Pengguna Windows menyatakan mereka telah terpengaruh dampaknya selama 12 bulan terakhir. Tak hanya itu, pengguna perangkat berbasis Android dan Mac OS X juga tidak kebal. Masing-masing pengguna, sebanyak 13% dan 6% menyatakan juga terinfeksi.

Dia menjelaskan, sebanyak 12% pengguna percaya bahwa perangkat mereka terinfeksi setelah mengunjungi situs mencurigakan. Flash disk USB milik orang lain, perangkat terinfeksi lainnya, dan instalasi aplikasi berbahaya yang tersamarkan sebagai program resmi yang masing-masing berkontribusi sebesar 8% sebagai penyebab infeksi. Sementara 7% responden lainnya dari survei mengatakan bahwa perangkat mereka terinfeksi setelah membuka lampiran surel.

Lebih jauh, empat dari lima infeksi secara signifikan menyebabkan masalah bagi korban. Yang paling sering (35% dari keseluruhan kasus), pengguna menyadari bahwa performa komputer mereka melambat, 30% responden mengalami banjir iklan yang tidak diinginkan (misalnya, browser mengarahkan mereka ke situs yang tidak diinginkan), dan 20% responden menemukan program yang tidak diinginkan di perangkatnya.

"Di antara semua dampak-dampak negatif ini, yang paling berbahaya adalah perubahan dalam browser atau pengaturan sistem operasi tanpa sepengetahuan si pengguna (17%), kerugian (10%) atau pencurian data pribadi (8%), publikasi tanpa izin atau ‘like’ di media sosial (9%) dan peretasan webcam (6%)," ujar Elena.

Dalam laporan tersebut, responden juga menyinggung adanya tebusan yang harus mereka bayarkan kepada penjahat cyber untuk membuka blokir perangkat (11% dari seluruh kasus) atau deskripsi data pribadi (6%) setelah terinfeksi ransomware.

Secara keseluruhan, setiap pengguna ketiga (33%) mengalami kerugian finansial akibat infeksi malware. Selain harus membayar tebusan, korban juga harus mengeluarkan uang untuk memulihkan perangkat atau data, menghilangkan efek samping infeksi pada piranti lunak, dan bahkan harus membeli perangkat pengganti.

"Ketika terjadi kerugian finansial, jumlah rata-rata biaya setiap serangan adalah sebesar US$ 160," ucap Elena.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon