Presiden Korsel Pilih Pendekatan Keras Hadapi Nuklir Korut

Rabu, 17 Februari 2016 | 00:30 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Di hadapan anggota parlemen, Presiden Korea Selatan, Park Geun Hye mengatakan perlu landasan pendekatan baru untuk menggagalkan program nuklir Pyongyang.
Di hadapan anggota parlemen, Presiden Korea Selatan, Park Geun Hye mengatakan perlu landasan pendekatan baru untuk menggagalkan program nuklir Pyongyang. (AFP Photo/Jung Yeon-Je)

Seoul – Presiden Korea Selatan (Korsel) Park Geun Hye mengisyaratkan memilih pendekatan baru yang lebih keras untuk menggagalkan program senjata nuklir Korea Utara (Korut). Dia menjanjikan respons tanpa kompromi dan lebih tegas dalam menghadapi provokasi Pyongyang.

Dalam pidato di hadapan Majelis Nasional, yang disiarkan televisi, Park mengingatkan bahwa sudah bertahun-tahun warga Korea Selatan "mati rasa" terhadap ancaman dari negara tetangga mereka di sebelah utara. Dia menyatakan sudah saatnya untuk mengambil sikap yang lebih berani.

Bulan lalu Korea Utara melakukan uji coba nuklir keempat dan disusul dengan peluncuran roket jarak jauh, pada 7 Februari. Kedua tindakan itu mendapat kecaman luas karena uji coba rudal balistik dilarang oleh resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Dengan alasan, upaya mendorong kerja sama dengan Korea Utara hanya jalan di tempat maka Park menegaskan sudah saatnya memprioritaskan untuk menghukum Pyongyang.

"Sudah jelas bahwa kami tidak dapat mematahkan kehendak Korea Utara untuk mengembangkan senjata nuklir melalui cara yang ada dan itikad baik. Sudah saatnya menemukan solusi dasar untuk membawa perubahan drastis di Korea Utara dan menunjukkan keberanian dalam bentuk tindakan," ungkap presiden, Selasa (16/2).

Komentar yang dilontarkan Park tersebut memicu kemarahan dari Korea Utara. Sebelumnya Korea Utara dibuat geram pasca keputusan luar biasa yang diambil presiden Korsel dengan menutup operasi perusahaan-perusahaan Korea Selatan di zona industri Kaesong yang ada di Korea Utara.

Usai Park berpidato, kantor berita Yonhap mengutip pernyataan para pejabat pertahanan di Seoul yang menyebutkan ada 4 pesawat jet tempur siluman F-22 milik AS yang akan terbang di atas Korea Selatan, Rabu (17/2), untuk unjuk kekuatan.

Dengan alasan uji coba nuklir dan peluncuran roket yang dilakukan Korea Utara, Park beranggapan tindakan yang dijalani Korea Utara jelas-jelas tidak menunjukkan niatan untuk membahas denuklirisasi.

"Jika waktu terus berlalu tanpa ada perubahan apapun maka kepemimpin Kim Jong Un dapat mengerahkan rudal nukir dan kami-lah yang akan menderita," pungkasnya.

Di samping itu Park juga menyebutkan penutupan Kaesong baru awalnya saja. Dia mengisyaratkan langkah-langkah lebih lanjut untuk menggagalkan program nuklir Korea Utara.

"Pemerintah akan mengambil langkah-langkah lebih kuat dan lebih efektif untuk membuat Korea Utara sadar bahwa mereka tidak akan dapat bertahan hidup dengan pengembangan nuklir dan hal itu hanya akan mempercepat keruntuhan rezim," katanya.

Gerakan serupa juga tengah didorong oleh Amerika Serikat dan Jepang yang mencoba mencapai resolusi tegas Dewan Keamanan PBB (DK PBB), yang akan mencakup sanksi-sanksi baru terhadap Korea Utara.

Choi Kang, wakil presiden lembaga think-tank Asan di Seoul mengatakan pidato Park menandai perubahan kebijakan yang jelas dan signifikan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon