Baru 10% Lahan Marginal di Jateng yang Berhasil Dikelola
Selasa, 27 September 2016 | 12:51 WIB
Jakarta - Baru sekitar 10% dari kisaran 600.000 ha lahan marginal di Jawa Tengah yang berhasil dikelola. Sekitar 38.000 ha telah menjadi lahan untuk tanaman jagung dan sekitar 30.000 ha salinasi lahan marginal di kawasan pantai utara Jawa Tengah. Lahan marginal adalah lahan yang mempunyai potensi sangat rendah untuk budidaya tanaman pertanian.
Kondisi ini memicu langkah strategis dari jajaran kedinasan pertanian di Jawa Tengah maupun perguruan tinggi untuk melakukan terobosan strategis, inisiatif seperti implementasi integrated farming system (IFS).
Berbagai terobosan telah diambil oleh Pemprov Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ganjar Pranowo. Salah satunya adalah dengan mengundang research group secara voluntary di bawah koordinasi Center for Indonesia Risk Studies (CIRiS) yang bekerja sama dengan Yayasan Nusapada Menanam (YNM). Bersama dengan jajaran Pemprov Jateng, Kantor Staf Kepresidenan dan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro (Undip), lembaga-lembaga tadi melakukan uji coba pupuk cair organik Agribio.
"Uji coba berbasis metode partisipasi warga yakni melalui participation rural appraisal atau rural rapid appraisal," kata Didik Wisnu Widjajanto, Ketua Dewan Pertanian Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip sekaligus panitia Seminar Internasional "Pengelolaan Lahan marginal Jateng Melalui Penerapan Sistem Pertanian Terpadu dan Aplikasi Pupuk Cair Organik", Selasa (27/9).
Pada seminar yang berlangsung hari ini, panitia mengundang pencipta teknologi agribio dari Vietnam dan Malaysia.
"Seminar ini merupakan kerja sama Pemprov Jateng dengan CIRiS, FPP Undip dan YNM. Tujuannya antara lain menyosialisasikan komitmen dan rencana aksi pengelolaan lahan marginal di Jateng serta diharapkan merupakan pintu masuk pada rangkaian agenda besar pengelolaan lahan dalam jenis aktivitas pertanian dan ketahanan pangan," kata Didik.
Sasaran sosialisasi adalah jajaran pemerintah daerah di seluruh unit pemerintahan terkait di Jateng.
Menurut Didik, pengujian agribio selama ini melalui penelitian dan modeling pengelolaan lahan marginal. Sebuah uji formula telah dikembangkan jaringan CIRiS di Vietnam dan Malaysia dalam 14 tahun terakhir. Sedangkan kebutuhan terhadap lahan uji coba telah dikerjasamakan secara formal dengan Sekretariat Bersama IFS dengan melibatkan Perhutani Regional Jateng dan Dinas Kehutanan Provinsi Jateng untuk lahan, serta dengan Dinas Pertanian dalam hal saran produksi dan dukungan lain melalui payung MoU dengan YNM.
Pengelolaan lahan marginal sudah seharusnya menjadi agenda besar. Agenda ini benar-benar perlu digagas dan dilaksanakan serius. Alsannya, persoalan lahan adalah masalah klasik, terutama di Jawa Tengah, yang berada dalam irisan dengan banyak aspek, baik sosial, ekonomi, dan politik. Pada kenyataannya dalam program integrated farming system yang telah menjadi agenda nasional belum mencapai hasil yang betul-betul maksimal.
Alasan kedua, penyebaran kebijakan belum maksimal terutama kebijakan yang menyangkut peningkatan produktivitas pangan. Pemahaman substansial dan teknis mengenai cara-cara yang perlu diaplikasikan di lapangan belum tersebar luas dan serempak.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




