Mochtar Riady

"The Family Man and The Man of Inspiration"

Sabtu, 8 Oktober 2016 | 01:30 WIB
PD
B
Penulis: Primus Dorimulu | Editor: B1
Mochtar Riady (kedua kanan) memberikan tanda tangan dalam peluncuran otobiografinya
Mochtar Riady (kedua kanan) memberikan tanda tangan dalam peluncuran otobiografinya "Mochtar Riady My Life Story" di Mandarin Orchard, Singapura, 5 Oktober 2016. (B1/Primus Dorimulu)

Singapura - Sosok Mochtar Riady, 87 tahun, dilukiskan sebagai the man of inspiration, the man of future, and the man of integrity. Perjalanan hidupnya menginspirasi banyak orang, terutama generasi muda. Cara hidupnya mencerminkan manusia berintegritas yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Pandangannya selalu jauh ke depan, melampaui zamannya. Hingga usia tua pun, ia masih terus bicara dan menekankan pentingnya penguasaan teknologi untuk mempermudah hidup dan meningkatkan peradaban manusia.

Dengan karakter pribadi seperti itu, ia sukses membangun sebuah imperium bisnis bernama Lippo Group. Bisnisnya memiliki akar yang dalam di Indonesia dan berkembang luas hingga mancanegara. Di kancah bisnis, Mochtar merupakan pemain global dan Lippo Group sudah menjadi perusahaan multinasional. Di AS, Lippo memiliki Bank Tower setinggi 310 meter di Los Angeles dan menjadi landmark kota itu.

Pembelian Hua Lian, gedung megah di Orchard Road, Singapura, menandai kiprah Lippo di level global. Di gedung ini, berdiri tegak Hotel Mandarin, yang kini namanya berubah menjadi Mandarin Orchard. Selain Singapura dan Los Angeles, Lippo juga memiliki landmark di Hongkong dan Shanghai. Di Jakarta, Lippo segera memiliki landmark di Jl Thamrin.

Di dalam negeri, Lippo Group bergerak di jasa, yakni properti, ritel, TTM (teknologi, telekomunikasi, dan multimedia), pendidikan, kesehatan, dan keuangan. Terdapat 15 perusahaan Lippo Group yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 128,6 triliun per 7 Oktober 2016. Lippo dikenal sebagai perusahaan yang mampu memanfaatkan dengan baik pasar modal, dalam dan luar negeri, sebagai sumber pendanaan. Saat ini, Lippo Group mempekerjakan lebih dari 100.000 karyawan.

Bidang properti meliputi kota satelit, perumahan, kondominium, perkantoran kelas atas, pusat industri, pusat belanja, hotel, golf, lembaga pendidikan, rumah sakit, dan taman pemakaman. PT Lippo Karawaci Tbk dan PT Lippo Cikarang Tbk adalah dua perusahaan properti yang menjadi ikon Lippo. Di bisnis ritel, Lippo mengoperasikan supermarket, hypermarket, dan foodmart di bawah bendera PT Matahari Department Store dan PT Matahari Putra Prima Tbk.

Bidang telekomunikasi mencakup televisi kabel dan satelit di bawah PT First Media Tbk dan PT Link Net Tbk. Bisnis teknologi telekomunikasi eksis lewat PT Multipolar Tbk. Sedang di bidang multimedia, Lippo membangun jaringan media massa di bawah BeritaSatu Media Holdings, yang antara lain mengelola BeritasatuTV, Beritasatu.com, Harian Investor Daily, Majalah Investor, Harian Umum Suara Pembaruan, Majalah Globe Asia, dan The Jakartaglobe.com.

Di bidang pendidikan Lippo tercatat sebagai pioner dalam pembangunan sekolah modern lewat Sekolah Pelita Harapan dan Universitas Pelita Harapan. Dengan mengusung misi pelayanan dan pemerataan pendidikan, Lippo membangun Lentera Harapan, yakni sekolah dasar dan menengah untuk masyarakat menengah-bawah. Selain di Jabodebatek, Lentara Harapan banyak dibangun Indonesia bagian timur. Lippo juga mengelola jaringan rumah sakit umum dengan nama Siloam Gleneagles. Saat ini, jaringan RS Siloam menempati peringkat pertama dilihat dari jumlah tempat tidur, peralatan, dan kualitas pelayanan. Siloam banyak dibangun di daerah terpencil untuk membantu masyarakat mendapat akses kesehatan.

Nama Lippo dikenal luas di Tanah Air lewat Bank Lippo. Didirikan tahun 1989, saham bank ini dilepas ke Khazanah Nasional, pemilik CIMB, Malaysia tahun 2005. Namun, Mochtar, yang dijuluki pers Indonesia sebagai bankir bertangan dingin, kembali memiliki bank, yakni Bank Nobu Tbk. Lippo tetap memperkuat bisnis keuangannya lewat perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, asuransi, dan sekuritas.

Nama Lippo sudah ada sejak 1958. Berasal dari kata "li" artinya kekuatan atau modal dan "po" yang berarti sumber kekuatan. Lippo diartikan sebagai "sumber kekuatan modal dan moral".

Di samping suksesnya sebagai pengusaha, pria kelahiran Batu, Malang, 12 Mei 1929 itu adalah family man. Orang yang sangat mencintai keluarga dengan menunjukkan tanggung jawab yang besar terhadap keluarga. Mochtar memiliki keyakinan yang tegas bahwa jika keluarga baik, masyarakat akan baik, negara dan bangsa akan baik. Dunia akan damai dan sejahtera. Setiap orangtua wajib bertanggung jawab dalam membesarkan dan mendidik anaknya.

Penilaian itu dilontarkan oleh para pembicara pada peluncuran buku "Mochtar Riady, My Life Sory" di Hotel Mandarin Orchard, Singapura, Rabu (5/10). Buku biografi versi bahasa Indonesia --dengan judul "Mochtar Riady, Manusia Ide" diluncurkan Oktober 2015 di Jakarta. Tampil sebagai pembicara pada diskusi buku yang dihadiri sekitar 1.000 undangan itu adalah Chairman Kerry Logistics dan mantan menteri luar negeri Singapura George Yeo, Deputy Chairman Lippo Group Ginandjar Kartasasmita, juru bicara Parlemen Singapura Halimah Yakob, dan Dekan National University of Singapore Kishore Mahbubani.

Mayoritas undangan yang hadir adalah para pengusaha Singapura dan kawasan Asean. Juga ikut hadir para akademisi dan tokoh politik Singapura dan Indonesia.

Dari kalangan keluarga, tampak Ibu Mochtar Riady dan anak-anaknya --James Riady dan Stephen Riady--, para cucu seperti John Riady, Henry Riady, dan Brian Riady. Sedang dari kalangan Lippo Group hadir Theo L Sambuaga, Sinyo Harry Sarundajang, dan Emirsyah Satar selain Ginandjar yang tampil sebagai pembicara.

"Saya hadiri peluncuran buku di mana-mana, termasuk di Eropa dan AS, juga di sini, di Singapura. Tak ada peluncuran buku yang dihadiri begitu banyak orang seperti sore ini," ungkap Kishore Mahbubani, dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy. Usai acara peluncuran, pria yang pernah terpilih sebagai Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia itu harus duduk sekitar setengah jam untuk menandatangani buku Mochtar Riady, My Life Story.

Ada sejumlah faktor yang mendorong kemajuan Asia beberapa dekade terakhir. Satu di antaranya, kata Kishore, adalah kehadiran sejumlah sosok visioner dan berintegritas tinggi seperti Mochtar Riady. Ia menilai, Mochtar juga berandil besar dalam kemajuan ekonomi dan peradaban di Indonesia. Pemikiran, karya, dan cara hidupnya bukan saja berdampak pada keluarga, perusahaan, lingkungannya, dan negara, melainkan juga dunia. Generasi muda di Singapura dan Asia perlu membaca buku otobiografi Mochtar.

Kishore menyatakan apresiasinya kepada Mochtar yang tanpa henti berbicara tentang masa depan hingga usianya yang ke-87. "Ia masih bicara tentang tantangan global, teknologi, information technology, bioteknologi, lingkungan, kemajuan pendidikan dan kesehatan, dan banyak hal," ujar penulis buku "The Gteat Convergence" ini.

"The Great Man"
George Yeo menyebutkan Mochtar sebagai "the great man", orang hebat, manusia sarat pengalaman, yang mengukir sukses lewat perjuangan keras, mulai dari bawah. "Buku biografi ini benar-benar penuh dengan contoh menarik tentang perjuangan hidup dan kata-kata bijak yang ditimba dari pengalaman hidup," ujarnya.

Berbagai budaya dan filosofi yang dipelajarinya, demikian George, membentuk Mochtar menjadi manusia inklusif. Dari kecil hingga perguruan tinggi, pendiri Lippo Group itu mempelajari filosofi Tiongkok, terutama ajaran filosof termashur, Lao Tse (Lao Zi) dan Confucius. Sebagai orang yang lahir di Batu, Malang, ia memahami filosofi Jawa. Sebagai orang Indonesia, ia menjiwai nilai-nilai Pancasila. Sebagai seorang Kristen, ia menghayati nilai-nilai Kristiani.

"Semuanya ini membentuk Mochtar sebagai pribadi komplit yang inklusif, yang bisa hidup berdampingan secara damai dengan semua orang, semua komunitas, semua agama, suku, ras, dan golongan," ungkap George. Walau ia adalah pemeluk Kristen, Mochtar jauh dari sikap eksklusif. Dari ajaran Kristen, Mochtar belajar tentang cinta kasih dan menjadi pelayan bagi sesama dan itu terbawa menjadi nilai perusahaan Lippo Group.

Tentang harmoni dalam hidup, Mochtar menyebutkan sejumlah peribahasa. "Keseragaman berasal dari keanekaragaman." "Keharmonisan timbul dari fenomena perbedaan." "Saling berbeda, tapi saling berkaitan." "Seperti surya dan bulan, silih berganti, tapi saling mendukung." "Panjang dan pendek saling melengkapi. Tinggi dan rendah saling menunjang." "Transformasikan bhineka menjadi ika." "Pancarkan cinta kasih dan toleransi sesama umat manusia."

Sempat mencoba permainan lotere di usia sekolah dasar, Mochtar langsung disadarkan ayahnya bahwa manusia takkan mungkin hidup sejahtera apalagi menjadi kaya dengan judi. Sukses hanya bisa diraih dengan kerja keras dan ilmu pengetahuan. Sejak saat itu, pria yang kehilangan ibunya pada usia 9 tahun itu bekerja keras dan belajar mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari berbagai pihak.

Ia memiliki curiosity atau rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Saat tinggal bersama neneknya di Desa Xin Dian, Fujian, Tiongkok, ia sudah mengajukan pertanyaan kritis. Melihat semua orang memasak nasi dengan kayu yang ditebang dari hutan, bertanya kepada neneknya, "Kelak setelah semua kayu di gunung habis digundulkan dengan apa lagi kita menanak nasi?"

Di sekolah dasar di Batu, Malang, ia pernah bertanya kepada gurunya, mengapa ada orang kaya dan miskin. Naluri ingin tahu itu terus berlanjut dan terbukti menjadi pembuka kotak pandora berbagai hal yang ia tidak mengerti. "Salah satu kunci sukses saya adalah karena saya 'tahu apa yang saya tidak tahu', sehingga saya selalu bertanya pada ahlinya dan memanfaatkan profesional dalam mengembangkan bisnis," papar Mochtar.

Semua bisnis dikembangkan dengan basis ilmu pengetahuan dan intuisi yang diasah oleh pengalaman. Mochtar selalu mempelajari perkembangan dunia, ekonomi makro, data demografi dan berbagai data ekonomi, mengikuti semua isu penting yang berkembang di Indonesia dan dunia. Sikap belajar yang konsisten ini membentuk Mochtar sebagai sosok visioner, the man of future. Ia bisa meramalkan sesuatu yang bakal terjadi sepuluh-duapuluh tahun ke depan.

Salah satu filosofi favorit Mochtar dalam berbisnis adalah "Mengejar kuda dengan kuda." Kuda yang dimaksudkan adalah orang hebat untuk bisa mengejar target dan tujuan. Ia pindah dari bank yang satu ke bank yang lain adalah untuk mendapatkan sosok hebat yang dianggap sebagai "kuda pacu" yang andal. Ketika kuda yang ditunggangi tak lagi berlari kencang, ia harus berganti kuda pacu.

Pengalaman mengejar kuda dengan kuda bisa sukses diterapkan karena Mochtar memiliki kemampuan luar biasa dalam bergaul dan memperluas networking. Ia menjadi "great man" bukan hanya karena kerajinannya dalam belajar dan hidupnya yang disiplin, melainkan juga bakatnya sebagai "social person". John Riady, cucunya, putra James Riady, menyebut Mochtar sebagai sosok yang piawai dalam pergaulan dan membina jaringan.

Di Indonesia, kata Ginandjar Kartasasmita, Mochtar adalah ikon suksesnya pebisnis nasional. Mochtar dinilai mengharumkan nama Indonesia lewat suksesnya menjadi pengusaha berskala dunia. Selain itu, Mochtar juga banyak terlibat dalam kegiatan filantropi. Lippo membuka rumah sakit dan sekolah hingga ke pelosok, antara lain, pedalaman Papua.

"The Family Man"
Dalam buku otobiografinya, Mochtar mengatakan, ia selalu berusaha agar anaknya lebih baik dari dirinya dan cucunya lebih baik dari orangtuanya. Dalam sebuah pertemuan, ia bercanda dengan putranya. "James (James Riady --Red), your son is better than my son," ujar almunus National Central University Nanjing, RRT itu.

Anak-anaknya diajari pentingnya kerja keras, belajar rajin menguasai ilmu dan keterampilan, hidup hemat dan seimbang, toleran, menjaga kerukunan, dan taat pada agama. Tidak ada hasil yang instan. Bisnis harus dikelola dengan ilmu pengetahuan di samping naluri yang diasah oleh pengalaman. Kompetisi dalam hidup tidak boleh mengganggu kerukunan. "Kami mengutamakan cinta kasih, toleransi, hidup rukun, dan kerja tekun," tulisnya.

Sikap Mochtar lahir dari pandangan bahwa keluarga dan anak yang dilahirkan adalah milik Tuhan yang harus dirawat dan dididik dengan baik agar mereka menjadi manusia berakhlak dan berguna bagi sesama. Anak bukanlah milik ayah-ibu yang bisa diperlakukan seenaknya oleh orang tua.

Nilai-nilai yang dihayati Mochtar, kata George, sangat diwarnai oleh tiga figur, yakni ayah kandungnya, guru sekolahnya, dan istrinya. Dari ayah, ia belajar tentang tanggung jawab dan pengorbanan. Saat berusia 40 tahun, ayahnya kehilangan istri untuk selamanya. Meski banyak godaan dan saran dari sanak keluarga dan sahabat untuk menikah lagi, ayahnya justru menancapkan tekad untuk tidak menikah lagi.

"Ayah khawatir kedua anaknya ditelantarkan jika punya istri lagi. Karena cinta yang begitu besar kepada mendiang istri dan anak-anaknya, ayah Mochtar tidak menikah lagi hingga akhir hayat," ujar George. Dengan cinta yang besar, ayah Mochtar selalu bangun pagi menyiapkan makanan dan minuman buat kedua anaknya, yakni Mochtar dan adiknya yang ditinggalkan ibu saat hendak melahirkan. Selama bertahun-tahun, ayahnya berperan sebagai single parent, mengurusi rumah, mendidik anak-anak, dan mencari nafkah.

Mochtar mengakui, tanggung jawab adalah nilai kehidupan yang ia pelajari langsung dari buku hidup, yakni ayahnya. Hingga saat ini, Mochtar yakin, sukses sebuah rumah tangga ditentukan oleh tanggung jawab orang tua. Jika semua orang tua memiliki tanggung jawab, negara akan maju dan sejahtera. Ayahnya selalu menekankan bahwa pendidikan keluarga menentukan kesejahteraan, kerukunan, dan kebahagiaan keluarga.

Dari guru sekolah dasarnya di Batu, Malang, Luo Yi Tian, Mochtar belajar tentang pentingnya sastra, filosofi, dan ilmu pengetahuan. Sang guru piawai dalam mengoreksi kesalahan murid dan memotivasi siswa. Dari Luo Yi Tan, Mochtar kecil mengetahui tentang mengapa ada orang kaya dan miskin dan jurang kaya-miskin sebagai salah satu sumber kekacauan di masyarakat.

Sedang dari istrinya, Li Li Mei atau Suryawaty Lidya, ia menemukan sumber energi, keseimbangan untuk hidup sehat, dan pendidik yang hebat untuk anak-anak. Saat berusia 50 tahun, sang istri masih menyisihkan waktu untuk belajar sosiologi di University of Southern California. Sang istri pula yang mengajari anak dan cucu bahasa Mandarin, melatih menulis kaligrafi, dan sopan santun. "Yang paling menonjol dari istri saya adalah kesetiaan dan keteladanannya hidup bagi anak cucu sesuai dengan nilai-nilai yang kami junjung," ungkap Mochtar.

"Mochtar adalah familiy man dan sosok yang sukses membangun perusahaan sekaligus keluarga," ungkap George. Mochtar memiliki tiga putra, tiga putri, serta puluhan cucu dan buyut. Ditambah para menantu, keluarga besar Mochtar sekitar 92.

Sukses Meregenerasi
Setelah mencoba peruntungan di bisnis perdagangan dari usia belasan hingga duapuluhan tahun, Mochtar memasuki bisnis perbankan tahun 1959, saat berusia 30 tahun, dan dipercayakan memimpin Bank Kemakmuran sebagai presiden direktur. Pada 1963, ia bergabung dengan Bank Buana dan pada 1966 mengambil alih dua bank yang sedang krisis, Bank Kemakmuran dan Bank Industri dan Dagang Indonesia (BIDI). Dengan kepercayaan dari pemilik dan regulator, pengusaha yang sejak kecil bermimpi menjadi bankir itu mendirikan Bank Panin, hasil merger tiga bank, yakni Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan BIDI.

Setelah empat tahun membesarkan Bank Panin, Mochtar mencari tantangan baru. Ia bergabung dengan Sudono Salim atau Lim Sioe Liong -- yang biasa disapa Om Liem -- membesarkan Bank Central Asia (BCA) tahun 1975. Dengan memanfaatkan jaringan Om Liem, pertumbuhan BCA meroket dan menjadi bank swasta papan atas, paling besar dan kuat, di Indonesia. Sambil membesarkan BCA, Mochtar membeli sebagian saham Bank Perniagaan Indonesia milik Masagus Nur Muhammad Hasjim tahun 1981.

Nama Lippo mulai dikenal luas bersamaan dengan kelahiran Bank Lippo tahun 1989, hasil merger Bank Perniagaan dengan Bank Umum Asia. Untuk lebih berkonsentrasi membangun Bank Lippo dalam persaingan bisnis perbankan yang semakin sengit, Mochtar meninggalkan BCA tahun 1991, saat bank itu mencatat aset Rp 7,5 triliun atau melonjak 3.000 kali dibanding saat ia bergabung tahun 1975.

Sejak usia 60 tahun, atau pada 1989, Mochtar mulai mengurangi keterlibatannya dalam bisnis. Untuk bisnis dalam negeri, sejak 1991 ia serahkan kepada James Riady. Sedang bisnis luar negeri diserahkan kepada Stephen Riady. Putra sulungnya, Andrew Riady, mengembangkan bisnis sendiri.

Dalam bukunya, ia menyebutkan lima cucu kebanggaannya. Michael Riady, putra pertama Andrew Riady kini dalam gemblengan James di bisnis properti. Howard Riady, putra kedua Andrew, seorang kutubuku yang sedang mengambil program doktor di Universitas Chicago.

John Riady, putra sulung James Riady, lulus summa cum laude dari Univesitas Chicago dan meraih gelar doktor ilmu hukum. Kini, John aktif di UPH dan Mataharimall.com. Henry Riady, putra kedua James, setelah meraih master di AS aktif di bisnis teknologi, telekomunikasi, dan multimedia, yakni di First Media, Linknet, dan Beritasatu Media Holdings. Brian Riady, putra Stephen Riady, kini memimpin jaringan usaha Cinemaxx setelah tamat universitas di AS dan bekerja di Investment Bank New York.

"Sebetulnya Lippo yang sudah menjadi grup usaha besar ini bukan semata karya saya, melainkan terutama usaha anak-anak dan cucu-cucu saya," tukas Mochtar. Tercapai sudah harapannya bahwa sukses orang tua terletak pada sukses anak dan cucu. Bahwa bisnis keluarga tak boleh hanya bertahan tiga generasi, melainkan beribu generasi.





Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon