Realita di Balik Profesi yang Diabaikan
Sabtu, 16 Desember 2017 | 12:33 WIB
Kita memiliki hubungan yang cukup menarik dengan para sopir truk di Indonesia. Tentu, sedikit dari kita yang benar-benar kenal dengan mereka. Sering kali kita hanya mengenali sopir truk sebatas slogan atau gambar lucu yang berada di belakang truk mereka seperti "Kutunggu jandamu," atau "mau pulang malu, nggak pulang rindu," yang sering kali menghibur kita dalam perjalanan panjang. Namun sesungguhnya ada banyak yang dapat kita pelajari dari kehidupan seorang sopir truk lebih dari sekadar slogan yang terpapar pada truk mereka.
Motivasi
Pada kenyataanya, menjadi seorang sopir truk harus memiliki motivasi. Para sopir harus melakukan perjalanan yang sangat panjang, biasanya antarkota, seorang diri. Jika bukan karena mereka ingin melakukannya dan senang melakukannya, tentu mereka tidak akan tahan menempuh pekerjaan ini, yang memang kerap terjadi dalam industri ini.
Banyak sopir yang sudah melakoni pekerjaan ini yang kemudian sadar bahwa menjadi sopir truk merupakan pekerjaan yang sangat menantang. Sebab untuk mengendarai beberapa jenis truk, para sopir harus menguasai transmisi manual yang memiliki 6 hingga 12 gigi. Mereka juga diharuskan memiliki lisensi khusus untuk mengendarai truk.
Para sopir ini tetap kukuh dalam menjalani tugasnya dan seolah tidak pernah lelah ataupun mengeluh. Jiwa dengan semangat baja ini merupakan sebuah pelajaran penting yang dapat kita petik dari kehidupan seorang sopir truk. Mereka tetap gigih dalam melakukan pekerjaannya walaupun pada umumnya penghasilan mereka tidak setara dengan risiko yang yang dihadapi. Tentunya menerapkan semangat yang sama dalam hidup kita akan menciptakan perubahan yang sangat positif.
Kesabaran
Para sopir biasanya bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang dan cenderung tidak menentu. Jam kerja dan perjalanan mereka yang sangat panjang cenderung membuat mereka jarang pulang untuk bertemu dengan keluarga, sebuah sentimen yang sering mereka ekspresikan dengan tulisan dan gambar pada truk mereka. Suatu hari mereka dapat ditugaskan untuk mengirim barang ke Yogyakarta, dan esok harinya mungkin ke Denpasar, pekerjaan ini cenderung tidak menentu, dan mengharuskan mereka untuk mengarungi perjalanan yang amat panjang dan berliku. Perjalanan melalui pelosok-pelosok kecil tidak asing bagi mereka, melintasi jalan raya dan jalan kecil yang cenderung berkondisi buruk. Pada saat yang sama mereka pun harus menjaga kondisi truk mereka agar tetap prima, apabila terjadi suatu kerusakan mereka harus selalu siap untuk mengatasinya.
Pekerjaan sang sopir truk mengajarkan kita untuk bersabar dalam menjalani pekerjaan dan hidup kita. Dalam dunia yang serbainstan, terkadang kita perlu melatih diri untuk bersabar dan mengurangi ketergantungan kita terhadap gratifikasi instan. Para sopir truk menunjukkan pada kita dedikasi dan kesabaran pada pekerjaan, mereka tahu bahwa tidak hasil tidak akan datang dengan cuma-cuma dan membutuhkan perjuangan.
Apresiasi
Kita sering kali hanya menuding bahwa sopir truk menyetir secara ugal-ugalan dan merusak jalan, namun kita tidak mencoba untuk melihat dari sisi pandang mereka. Seperti kita, mereka hanya mencari nafkah, dengan mengarungi perjalanan yang panjang, terisolasi, dan jarang bertemu keluarga. Para sopirtruk berkorban sangat banyak, dan kontribusinya amat penting bagi kelangsungan hidup kita dan bisnis kita, namun jarang sekali kita berikan apresiasi yang pantas.
Kita perlu menyadari bahwa tanpa para sopir truk yang mendistribusikan segala kebutuhan kita, perekonomian akan stagnan, pembangunan akan melambat, dan masyarakat akan kelaparan. Sesungguhnya kita sangat bergantung kepada mereka untuk membawa aneka hasil bumi seperti buah-buahan, sayur, beras, kebutuhan sandang dan papan, hingga elektronik dan kendaraan-kendaraan kita. Namun ucapan terima kasih jarang sekali terdengar. Walau demikian, dengan humor mereka yang khas mereka tetap tekun melaksanakan tugasnya dan mengantarkan segala kebutuhan kita.
Persepsi umum merupakan cerminan dari diri kita sebagai individu. Mengubah persepsi umum tersebut tidaklah mudah, maka dari itu harus dimulai dari kita sendiri. Mereka tidak pernah memintanya, tetapi mereka pantas mendapatkan apresiasi dan terima kasih kita, dengan ini kita dapat mengambil langkah pertama dalam merubah persepsi kita mengenai para sopir truk.
#terimakasihsupirtruk
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




