Saat Pelajar Terprovokasi Lancarkan Aksi di Senayan
Jumat, 27 September 2019 | 17:47 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Serangkaian demonstrasi yang terjadi secara beruntun belakangan ini membuka fenomena baru yakni, turut sertanya pelajar berdemonstrasi. Aksi mereka lebih kepada tawuran daripada menyuarakan tuntutan yang bisa membuka mata publik.
Meskipun aparat berhasil mengamankan sebagian dari mereka untuk dibina, tidak sedikit pelajar yang berasal dari Jakarta, Karawang, Bekasi dan Bogor melakukan perlawanan bahkan merusak fasilitas publik, membakar pos polisi dan kendaraan bermotor.
Kepolisian mensinyalir para pelajar yang kebanyakan anak STM terprovokasi melalui pesan berantai melalui WhatsApp (WA) untuk menggelar aksi di Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu (25/9/2019). Mayoritas dari mereka tidak memberitahu orang tua atau wali kelas untuk berdemonstrasi. Ketika orang tua menjemput mereka yang diamankan di Polda Metro Jaya, kebanyakan dari ABG tersebut justru dimarahi lantaran telah mencemaskan orangtuanya.
Nampak raut kegelisahan dari para orangtua murid itu. Sedangkan para pelajar hanya tertunduk malu sambil melangkah meninggalkan Mapolda Metro Jaya.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi alias Kak Seto yang memantau sekitar 500 lebih pelajar diamankan di Polda Metro, mendapatkan informasi bahwa sebagian dari pelajar tersebut mengaku telah mendapatkan izin dari orangtua maupun wali kelas. Para pelajar terprovokasi melalui pesan di medsos dan tergerak untuk menjalankan aksi untuk solidaritas.
Para pelajar tidak memahami isu dari mahasiswa yang menggelar aksi sebelumnya lantaran menolak Rancangan KUHP (RKUHP) apalagi UU KPK yang belakangan Presiden Jokowi mempertimbangkan mengeluarkan Perppu KPK.
"Kami mungkin akan memberikan masukan kepada Kemdikbud untuk mengontrol Kepala Sekolah agar bisa melindungi anak-anak, jangan sampai terjerumus dalam tindakan yang anak-anak sendiri belum terlalu tahu, sehingga mereka akan menjadi korban," katanya, Jumat (27/9/2019).
Disdik DKI turut menyoroti demonstrasi pelajar. Namun DKI enggan memberi sanksi kepada mereka karena lebih melihat para pelajar sebagai korban dari pesan berantai WA.
Kasi Peserta Didik dan Pengembangan Karakter Peserta Didik Disdik DKI, Taga Radja Gah menyatakan, pihaknya bakal mengundang para siswa yang sudah terdata di Kepolisian terlibat aksi beserta orangtua mereka untuk dibina agar situasi serupa tidak terulang lagi.
"Setelah teridentifikasi darinsekolah mana saja, akan kami panggil sekolahnya, dibina di sini siswanya, sama orangtuanya," kata Taga.
Gerakan pelajar dan mahasiswa yang berakhir ricuh hingga kini masih diselidiki polisi. Kapolri Tito Karnavian meyakini adanya provokator di balik aksi-aksi anarkis saat aksi. Indikasinya banyak pelaku yang ditangkap aparat bukan berasal dari kalangan mahasiswa maupun pelajar dan mereka mengaku menerima bayaran.
"Ini terlihat cukup sistematis. Artinya, ada pihak-pihak yang mengatur itu," kata Kapolri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




