Ini Potret Toleransi dan Kerukunan di Hari Natal

Rabu, 25 Desember 2019 | 17:23 WIB
ST
YD
Penulis: Stefi Thenu | Editor: YUD
Gubernur Ganjar Pranowo disambut paduan suara anak-anak dengan grup rebana Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak saat mengunjungi Gereja Mater Dei, Semarang, Rabu 25 Desember 2019. Sambil bersepeda pagi, Gubernur Ganjar Pranowo mengunjungi sejumlah Gereja di Kota Semarang melihat umat kristiani melangsungkan misa Natal.
Gubernur Ganjar Pranowo disambut paduan suara anak-anak dengan grup rebana Pondok Pesantren Roudhotus Sholihin, Demak saat mengunjungi Gereja Mater Dei, Semarang, Rabu 25 Desember 2019. Sambil bersepeda pagi, Gubernur Ganjar Pranowo mengunjungi sejumlah Gereja di Kota Semarang melihat umat kristiani melangsungkan misa Natal. (BeritaSatu Photo)

Semarang, Beritasatu.com - Siapa bilang toleransi dan kerukunan di Tanah Air, sudah memudar? Berbagai aksi pelaku intoleransi, radikalisme, bahkan terorisme yang menggunakan isu SARA, tidak tergambar dalam perayaan Hari Natal di Jawa Tengah, Rabu (25/12/2019). 

Begitu pula mereka yang menyerukan larangan atau mengharamkan ucapan selamat Natal, praktis akan tertunduk malu karena seruannya diabaikan dan dianggap angin lalu belaka: jika melihat indahnya silaturahmi dan toleransi yang terjadi di Semarang, dan sejumlah tempat di Jawa Tengah, di saat Hari Natal, hari raya yang sangat sakral bagi umat Kristiani. Karena momen Natal merupakan lahirnya Kristus, Sang Juruselamat umat manusia.

Potret kerukunan dan toleransi itu nyata saat puluhan anak-anak bernyanyi dengan ceria saat perayaan Misa Natal di Gereja Mater Dei Kelurahan Lamper Kidul Kecamatan Semarang Selatan, Rabu (25/12/2019).

Lagu berjudul Nandur Rukun yang menceritakan kerukunan antar umat beragama dan persatuan Indonesia, mengalun syahdu dari mulut-mulut mungil nan ceria itu.

Yang mengharukan dan menggetarkan hati adalah saat lagu Nandur Rukun yang dibawakan anak-anak di halaman gereja tersebut, diiringi oleh group rebana dari Pondok Pesantren Roudlotul Solihin, Sayung Kabupaten Demak.
Itulah potret nyata yang membuktikan kerukunan antarumat beragama di negeri ini, masih kuat.

Beberapa lagu dilantunkan dengan kolaborasi menarik itu sebelum pelaksanaan ibadah Misa Natal. Decak kagum dan tepuk tangan bergemuruh dari ribuan jamaah, ketika penampilan usai dipertunjukkan.

Mereka kagum dengan kolaborasi yang menunjukkan persatuan dan kesatuan itu. Alhasil, penampilan Paduan Suara Anak Gereja Mater Dei dengan group Rebana Ponpes Roudlotul Solihin itu langsung menjadi sorotan kamera ribuan jamaah.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang pagi itu berkeliling sepedaan ke gereja-gereja juga tak dapat menutupi kebahagiaannya. Menurutnya, apa yang ada di Gereja Mater Dei itu menunjukkan bagaimana kehidupan antar umat beragama di Jawa Tengah yang damai.

"Dari perjalanan saya berkeliling gereja, hari ini paling unik, saya disambut anak-anak menyanyi sangat bagus, sangat kompak dengan pesan perdamaian dan persatuan. Yang menarik, penampilan anak-anak ini diiringi rebana dari salah satu Pondok Pesantren di Demak," kata Ganjar.

Menurut Ganjar, seperti inilah seharusnya Indonesia. Semua masyarakat dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, meski dengan cara yang sederhana.

"Ini sederhana, tapi menggembirakan. Kita tunjukkan spirit Merah Putih, spirit persatuan Indonesia. Umat muslim bisa ikut mangayubagyo dalam perayaan Natal ini dengan suasana Indonesia banget, suasana yang lokal dan penuh nilai-nlilai kultural. Ini luar biasa," tutupnya.

Pengasuh Ponpes Roudlotul Solihin, KH Abdul Qodir mengatakan, keikutsertannya dalam memeriahkan Natal tahun ini adalah untuk meneguhkan kembali semangat toleransi, kebersamaan dan keberagaman. Selain itu, visi pondok pesantren yang dipimpinnya adalah mencetak santri yang inklusif yang mau menerima perbedaan.

Perayaan Natal

"Ini salah satu wujud kongkret kami untuk melaksanakan visi itu. Kami datang ke gereja ini untuk ikut mangayubagyo dengan saudara-saudara Kristiani," ungkap KH Abdul Qodir.

Kiai Qodir mengatakan, Natal merupakan momentum untuk kembali meneguhkan persaudaraan. Di tengah maraknya isu radikalisme, pihaknya ingin menunjukkan bahwa masih banyak orang yang memiliki hati yang baik yang berjuang demi keutuhan NKRI.

"Meski akan muncul pro dan kontra, namun kami lebih menekankan aspek kemanusiaan dan aspek persaudaraan. Karena bagi kami, misi agama itu yang terpenting adalah kemanusiaan di atas ritual dan sebagainya," tegasnya.

Pastor Kepala Gereja Mater Dei, Romo Sugihartanto begitu bahagia dan bergembira menyambut kehadiran para santri dari Ponpes Roudlotul Solihin Demak. Menurutnya, momentum ini dapat menjadi bukti bahwa masih banyak masyarakat yang menginginkan persatuan dan kesatuan.

"Kami sangat bergembira sekali, kita ingin anggota bangsa dan negara membangun persaudaraan. Dalam rangka mewujudkan, kita harus berusaha melakukan apa yg baik bagi bangsa dan negara. Natal ini sebagai momen untuk meneguhkan kembali semangat persaudaraan itu. Rawuhnya pak Kyai bersama rombongan, ini kebahagiaan bagi kami," ungkapnya.

Di Jawa Tengah, indahnya toleransi dan kerukunan itu bahkan sudah terlihat sebelum perayaan Natal,

Umat muslim dan penganut agama lain pun ikut bahagia menyambut datangnya Natal 2019.

Di Pertapaan Suster Gedono Kabupaten Semarang misalnya, puluhan santri dan ibu-ibu pengajian berbaur dengan para suster, saat menyambut kehadiran Ganjar Pranowo yang berkunjung melihat persiapan Natal. Suasana damai terlihat, ketika para santri yang mengenakan pecis itu, tak ragu mencium tangan para suster sebagai bentuk penghormatan.

Di dalam gereja, sejumlah ibu-ibu berjilbab juga nampak berseliweran. Mereka tanpa canggung membantu sejumlah pekerjaan yang dilakukan para suster dalam menyambut Natal.

"Kami biasa bantu-bantu di sini, sudah sejak lama kami melakukan itu, 20 tahun lebih. Di sini semua masyarakat bisa berbaur dengan damai dan rukun," kata Damirah (50), warga setempat.

Di gereja Isa Almasih Jetak Getasan juga sama, saat puluhan umat muslim bahu membahu membantu umat Kristiani yang mempersiapkan perayaan Natal. Mengenakan pecis dan berjilbab, warga bahu membahu membantu umat Kristiani mempersiapkan ibadah Natal.

Suster senior Pertapaan Gedono, Martha Driscoll berharap, agar Jawa Tengah aman dan damai. Seluruh masyarakat diharapkan dapat bersatu, saling menghormati, menghargai dan menerima perbedaan.

"Supaya kita bisa menjadikan Indonesia indah dan maju," ujar Driscoll.

Ganjar mengaku salut, tak hanya tempat bertapa, Pertapaan Gedono, juga mampu memberdayakan ekonomi masyarakat. Berbagai produk dihasilkan di sini dengan kerjasama yang baik antara para suster dengan masyarakat yang juga dari agama Islam.

"Kita ingin Indonesia selalu indah, dipenuhi dengan cinta, kebahagiaan dan tolong menolong. Di sini, saya menemukan itu. Masyarakat sekitar dapat berkumpul, bergaul dengan baik. Tidak ada sekat kelas ekonomi, warna kulit, agama dan lainnya," ungkap Ganjar.

Ganjar menambahkan, "Mari kita jaga terus hal yang baik ini. Tidak perlu bicara siapa dirimu, apa sukumu, apa agamamu. Yang ada adalah kebahagiaan. Selamat Natal bagi yang merayakan, selamat tahun baru buat semuanya," tegasnya.

Indahnya potret toleransi dan kerukunan di Jawa Tengah ini, sejatinya menjadi keniscayaan bagi daerah lainnya di Tanah Air. Itu potret yang sangat nyata, genuine dan tidak artifisial. Lahir dari kebutuhan yang sama: sama-sama ingin membangun harmoni ditengah perbedaan. Perbedaan itu sendiri adalah kenyataan yang tak bisa dinafikan di republik ini, namun dia tak harus menjadi tembok yang membatasi dan memisahkan persaudaraan yang hakiki sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon