Studi: Hormon Estrogen Mempercepat Penyembuhan Luka

Selasa, 9 Oktober 2012 | 14:12 WIB
DI
B
Penulis: Daily Mail/Ririn Indriani | Editor: B1
Ilustrasi molekul estrogen.
Ilustrasi molekul estrogen. (Howstuffworks)
Temuan ini perlu disempurnakan untuk menghilangkan efek samping estrogen yang bisa meningkatkan risiko kanker.

Semakin bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk regenerasi sel dan menyembuhkan luka pun semakin menurun.

Akibatnya, perawatan luka membutuhkan waktu lama dan biaya yang lebih mahal.

Menjawab kebutuhan tersebut, para ahli membuat krim yang mengandung hormon estrogen diklaim dapat mempercepat proses penyembuhan luka.

Inovasi ini dibuat, karena di Inggris ada sekitar 200 ribu orang, terutama yang berusia diatas 65 tahun mengalami luka terbuka akibat diabetes, kerusakan saraf, dan peredaran darah seperti bisul yang sulit disembuhkan.

Sementara, pengobatan yang tersedia untuk mengatasi keluhan tersebut umumnya mahal dan membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan ada beberapa yang tidak bisa disembuhkan sama sekali.

Meskipun penyebab sebenarnya belum diketahui, namun para peneliti menduga hal itu dikarenakan sel-sel tidak terkoordinasi dengan baik sehingga pemulihan jaringan sulit terjadi.

Dan, hasil penelitian yang dilakukan para peneliti dari Universitas Manchester menemukan, bahwa hormon estrogen memainkan peran penting dalam penyembuhan luka.

Namun tingkat estrogen, baik pada lelaki maupun perempun mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya usia sebagai bagian dari proses penuaan alami. Penurunan kadar estrogen ini memengaruhi elastisitas kulit dan mengubah respons tubuh terhadap infeksi dan peradangan.

"Ada perbedaan besar antara gen dari mereka yang masih muda dan orang yang berusia lebih tua," kata Dr Matthew Hardman, peneliti senior di Manchester University Health Centre Foundation, yang melakukan penelitian inovatif tersebut.

Temuan ini menjanjikan sebuah pengobatan baru. Namun pasien tidak bisa hanya diberikan hormon estrogen, karena efek sampingnya bisa meningkatkan risiko kanker. "Kami mencari dan menguji perawatan yang menggunakan bahan yang sama, tetapi tanpa efek samping seperti estrogen," tutupnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon