Bentrok Kembali Terjadi di Tarakan
Selasa, 28 September 2010 | 22:54 WIBPemerintah diminta menyelesaikan akar masalah, dan membuat kebijakan yang tidak mengundang kecemburuan etnis.
Bentrokan di Kota Tarakan, Kalimantan Timur disebabkan perkelahian biasa antara dua orang yang kebetulan berasal dari dua suku yang berbeda dan bukan karena ada unsur SARA, atau ketimpangan ekonomi berbau etnis.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi menanggapi kerusuhan yang terjadi di kota kilang minyak tersebut.
"[Kerusuhan] ini insiden yang tiba-tiba terjadi, penyebabnya juga karena perkelahian antara dua orang yang kebetulan berasal dari dua suku yang berbeda. Namun, saat ini kondisi disana sudah aman dan kembali kondusif," kata Gamawan, di Jakarta malam ini.
Mengutip laporan Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak, Gamawan menyatakan proses hukum sudah berjalan sebagaimana mestinya, sehingga diharapkan tidak kembali muncul masalah. Dia juga telah meminta Awang dan aparat keamanan untuk terus memantau kondisi di Tarakan agar kerusuhan tidak meluas.
"Gubernur Sulawesi Selatan [Syahrul Yasin Limpo] juga sudah membantu dengan menelepon masyarakat Sulawesi yang ada di daerah [Kota Tarakan] tersebut. Nanti tentu arahnya kepada terciptanya ketentraman dan keamanan," ujar Gamawan.
Lagi, Korban Tewas
Kerusuhan di Tarakan terjadi sejak Minggu malam, 26 September 2010 menyusul bentrokan antara dua kelompok massa di Perumahan Juwata Permai. Akibat insiden itu, seorang warga yang juga tokoh masyarakat setempat bernama Abdullah (50), ditemukan tewas dengan sejumlah luka bacok di tubuhnya.
Seorang warga lainnya yang juga anak korban, juga terluka akibat peristiwa tersebut dan dua rumah hangus dibakar massa. Sehari kemudian, kelompok yang marah kemudian membakar rumah yang diduga milik para pelaku pembunuhan tersebut.
Diberitakan oleh Antara, bentrokan kembali terjadi pada Selasa malam. Dua orang diberitakan tewas. "Saya mendengar sudah dua orang tewas akibat bentrokan tersebut," ungkap Roni, seorang warga Tarakan yang dihubungi dari Samarinda, Selasa malam.
Ridwan warga lainnya yang berada tak jauh dari lokasi bentrokan mengatakan, hingga saat ini suara tembakan masih terus berbunyi. "Rentetan tembakan sampai sekarang masih terus terdengar sehingga suasananya sangat mencekam," ujar Ridwan.
Beberapa rumah yang berada di Jalan Gajah Mada Tarakan, kata dia, dibakar massa.
Perkelahian Pemicu
Dihubungi melalui telepon, sosiolog dari UGM, Arie Sudjito mengatakan, pemerintah daerah maupun pusat, selama ini hanya mengedepankan reaksi cepat setelah terjadi bentrokan dan lebih berfungsi mirip pemadam kebakaran.
Padahal modus yang terjadi di Tarakan, kata dia, sama persis dengan bentrokan yang terjadi sebelumnya, dimana perkelahian hanya menjadi pemicu saja. "Ada latar belakang yang lebih kuat seperti persaingan struktural, kesenjangan sosial, yang kemudian menambah sensitifitas antar kelompok," kata Arie.
Dia menyatakan, seharusnya ada skema yang lebih struktural terhadap persoalan kerusuhan semacam itu. Mulai dari mendamaikan, membuka dialog yang berkelanjutan hingga membuat kebijakan yang adil dan tidak menimbulkan kecemburuan antaretnis.
Dengan demikian, gesekan-gesekan yang terjadi dapat segera diredam, karena memang sensitifitas tersebut sudah teredam dengan langkah tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




