Pengamat : 2013 Band Panggung Bakal Berkibar
Selasa, 27 November 2012 | 01:39 WIB
Perkembangan musik lokal terselamatkan oleh kemunculan Noah.
Kemunculan grup-grup musik independen yang mampu menguasai segmen tertentu dinilai membawa warna tersendiri bagi perkembangan musik tanah air.
Beberapa nama seperti Gugun Blues Shelter, White Shoes & The Couples Company, Mocca hingga Jogja Hip Hop Foundation justru mampu menjadi delegasi yang mengharumkan nama Indonesia lewat sejumlah penampilan mereka di luar negeri.
Fenomena ini kemudian dikatakan oleh Bens Leo selaku pengamat musik, muncul karena di Indonesia kurang bisa menerima eksplorasi tinggi yang ditawarkan oleh para grup musik independen tersebut.
"Kalau di luar negeri itu eksplorasi tinggi justru lebih dihargai," jelasnya saat ditemui di kawasan Menteng, hari ini.
Lebih lanjut, Bens Leo mengatakan bahwa label-label musik besar tanah air kurang bisa mempercayai 'keanehan' dan eksplorasi yang ditawarkan oleh musisi-musisi tersebut, padahal itu justru mampu menjadi sebuah kekuatan dan daya tarik yang besar.
"Seperti misalnya ketika Superman Is Dead diambil Sony. Mereka awalnya hanya mampu menjual sekitar 20 sampai 25 ribu kopi rekaman. Tapi ketika masuk major label, penjualan mereka bisa sampai 150 ribu kopi," bebernya.
Tapi untuk perkembangan musik lokal itu sendiri, menurut Bens terselamatkan oleh kemunculan Noah.
"Ini menarik karena mereka mampu menjadi kekuatan lokomotif band panggung yang menyuguhkan musik berkualitas," katanya.
Tren inilah yang menurut Bens Leo akan memicu kekuatan baru di industri musik Indonesia tahun depan.
"Kalau enggak kuat di panggung (off air) akan sulit bertahan karena mengandalkan RBT sudah susah. Jadi enggak ada RBT itu sebenarnya positif," tutupnya.
Kemunculan grup-grup musik independen yang mampu menguasai segmen tertentu dinilai membawa warna tersendiri bagi perkembangan musik tanah air.
Beberapa nama seperti Gugun Blues Shelter, White Shoes & The Couples Company, Mocca hingga Jogja Hip Hop Foundation justru mampu menjadi delegasi yang mengharumkan nama Indonesia lewat sejumlah penampilan mereka di luar negeri.
Fenomena ini kemudian dikatakan oleh Bens Leo selaku pengamat musik, muncul karena di Indonesia kurang bisa menerima eksplorasi tinggi yang ditawarkan oleh para grup musik independen tersebut.
"Kalau di luar negeri itu eksplorasi tinggi justru lebih dihargai," jelasnya saat ditemui di kawasan Menteng, hari ini.
Lebih lanjut, Bens Leo mengatakan bahwa label-label musik besar tanah air kurang bisa mempercayai 'keanehan' dan eksplorasi yang ditawarkan oleh musisi-musisi tersebut, padahal itu justru mampu menjadi sebuah kekuatan dan daya tarik yang besar.
"Seperti misalnya ketika Superman Is Dead diambil Sony. Mereka awalnya hanya mampu menjual sekitar 20 sampai 25 ribu kopi rekaman. Tapi ketika masuk major label, penjualan mereka bisa sampai 150 ribu kopi," bebernya.
Tapi untuk perkembangan musik lokal itu sendiri, menurut Bens terselamatkan oleh kemunculan Noah.
"Ini menarik karena mereka mampu menjadi kekuatan lokomotif band panggung yang menyuguhkan musik berkualitas," katanya.
Tren inilah yang menurut Bens Leo akan memicu kekuatan baru di industri musik Indonesia tahun depan.
"Kalau enggak kuat di panggung (off air) akan sulit bertahan karena mengandalkan RBT sudah susah. Jadi enggak ada RBT itu sebenarnya positif," tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




