AZWI Bangun Gerakan untuk Stop Penggunaan Kemasan Saset

Senin, 18 Juli 2022 | 23:15 WIB
MB
YD
Penulis: Maria Fatina Bona | Editor: YUD
Sampah sachet.
Sampah sachet. (dok)

"Penggunaan senyawa-senyawa berbahaya dalam kemasan saset ini bukan hanya berbahaya terhadap kesehatan konsumen tetapi juga terakumulasi di lingkungan. Kimia-kimia ini juga akan menyebabkan ekonomi sirkular yang toksik," jelas Yuyun.

Menurutnya, tanggung jawab untuk menyelesaikan krisis sampah saset sejatinya tak hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi juga produsen. Sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No. 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, setiap produsen harus bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan.

Founder Komunitas Nol Sampah Surabaya, Hermawan Some mengatakan sejauh ini tanggung jawab produsen terhadap sampahnya masih minim.

"Proses daur ulang oleh Unilever dari sampah rumah tangga sudah tidak berjalan lagi sejak 2019 ditambah Unilever tidak terbuka terkait hal ini, termasuk berapa jangkauan yang sudah bisa didaur ulang.

Apakah semua saset yg dikumpulkan semuanya bisa didaur ulang? tentunya tidak," imbuh Hermawan.

Koordinator Program Break Free From Plastic Asia Pasifik, Miko Aliño menyebutkan, beberapa daerah di Indonesia dan Asia pada umumnya memiliki kapasitas terbatas untuk menangani limbah saset plastik dengan aman dan seringkali memaksa pemerintah daerah (pemda) untuk memilih opsi penanganan yang sangat berpolusi seperti teknologi insinerasi. Alhasil penanganan yang diberikan hanya sebatas solusi semu yang pada akhirnya tidak menyelesaikan masalah.

"Kami meminta perusahaan untuk berhenti memproduksi dan membakar saset dan sebaliknya berinvestasi secara signifikan dalam sistem penggunaan kembali dan isi ulang," pungkas Miko.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon