Antisipasi Lonjakan DBD, Rumah Sakit Diminta Tambah Ruang Perawatan
Sabtu, 16 September 2023 | 05:01 WIB
Pontianak, Beritasatu.com - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Angka kasus penyakit mematikan ini terus bertambah.
Sepanjang Juni hingga awal September 2023, Rumah Sakit Umum (RSU) Yarsi telah menangani 211 kasus DBD. Dibanding waktu sebelumnya, jumlah pasien penyakit ini terbilang bertambah.
Direktur RSU Yarsi, Carlos Dja'fara merincikan pada Juni terdapat 60 kasus yang didominasi anak-anak berjumlah 56 orang. Kemudian pada Juli, 70 kasus dengan pasien anak 59 orang.
"Selanjutnya di bulan Agustus 74 kasus dengan pasien anak 57. Sementara September pada awal kemarin 3 kasus semua pasien anak. Tapi ini saya tidak tahu apakah bertambah atau tidak," kata Carlos, Jumat (15/9/2023).
Menindaklanjuti peningkatan kasus DBD ini, pihak rumah sakit sudah diminta untuk menambah jumlah kasur dan ruang perawatan oleh Pemprov Kalbar. Selama ini, penanganan DBD bertumpu di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso.
"Dari hasil rapat dengan dinas, dimintakan kalau rumah sakit itu bisa menambah tempat tidur. Karena selama ini terfokus membeludak di RSUD Soedarso dan kelabakan," ujar Carlos.
Atas arahan tersebut, menurut Carlos pihak RSU Yarsi sendiri akan menyiapkan ruangan tambahan dengan cara memanfaatkan kelas-kelas ruangan yang ada.
"Bed dan ruangan sudah tidak ada. Jadi kebijakan saya dengan cara untuk pasien kelas tiga kalau penuh kita pindah ke kelas dua, walaupun dia BPJS kelas tiga. Kelas dua penuh dikasi ke kelas satu. Yang tidak diizinkan masuk ke VIP," paparnya.
Carlos berharap dengan langkah yang diambil oleh Rumah Sakit Yarsi ini, bisa mengakomodir pasien DBD. Terutama bagi warga yang bermukim di wilayah Kecamatan Pontianak Timur.
"Mungkin karena ini sudah KLB (kejadian luar biasa) mau tidak mau semua rumah sakit bersatu. Bagi RS swasta yang tak ada BPJS bisa diberi kebijakan berapa persen kasur untuk pasien DBD," jelasnya.
Penyakit DBD ini, kata Carlos merupakan penyakit yang sudah ada sejak dulu dan memiliki siklus. Oleh sebab itu, dia pun berharap dinas kesehatan terkait dapat melakukan langkah antisipasi dengan lebih baik.
"Namanya KLB ini butuh kebijakan-kebijakan yang mungkin diabaikan tapi bisa menyelamatkan pasien ini jangan sampai meninggal," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




