Sungai Pidie Jaya Butuh Sabo Dam hingga Tanggul Permanen Atasi Banjir
Minggu, 22 Februari 2026 | 16:34 WIB
Banda Aceh, Beritasatu.com – Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Tito Karnavian menyatakan untuk pemulihan sungai di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh memerlukan pembangunan sabo dam (bangunan pengendali) hingga tanggul permanen.
"Ada sungai di Pidie Jaya kemarin kan banjir lagi. Ini menurut saya ini mirip dengan Tapanuli Tengah, maka harus dibuat sabo dam di atasnya. Sabo dam bertingkat bisa mengurangi frekuensi air yang turun ke bawah," kata Tito Karnavian di Banda Aceh, Minggu (22/2/2026).
Pernyataan itu disampaikan Tito Karnavian kepada awak media saat diwawancarai seusai kunjungan ke sejumlah daerah terdampak bencana Aceh sejak 3 hari terakhir, mulai dari Aceh Tamiang hingga Pidie Jaya.
Selain sabo dam, kata Tito, untuk penanganan sungai di Pidie Jaya agar banjir tidak terus berulang, perlu juga membangun tanggul permanen. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk pembangunan rumah kembali.
"Tanggulnya harus permanen. Ini kalau nanti sudah permanen mungkin baru bisa dibuat lagi rumah untuk masyarakat kiri-kanannya," ujar Tito dikutip dari Antara.
Kalau dibangun sekarang, bahkan untuk hunian sementara (huntara) juga tidak memungkinkan karena masih sangat sangat banjir, karena harus dibuat permanen.
"Kalau sekarang dibangun hunian sementara, kemudian tetap di tempat itu, rawan banjir lagi nanti, tergerus lagi," tegas Tito Karnavian.
Seperti diketahui, beberapa desa di wilayah Kabupaten Pidie Jaya kerap terjadi banjir susulan saat dilanda hujan dengan intensitas tinggi. Karena itu, upaya pemulihan sungai di sana terus dikerjakan pemerintah pusat.
Saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I fokus melakukan normalisasi sungai Meureudu Kabupaten Pidie Jaya.
"Penanganan difokuskan pada upaya normalisasi sungai melalui pengerukan sedimen dan pembersihan material kayu serta sampah yang menghambat aliran air," kata Kepala BWS Sumatera I, Asyari.
Ia menjelaskan, material yang menumpuk di badan sungai selama ini menjadi salah satu faktor penyebab berkurangnya kapasitas tampung sungai, sehingga meningkatkan risiko luapan saat debit air meningkat.
Karena itu, BWS Sumatera I juga melakukan perbaikan tanggul-tanggul yang mengalami kerusakan dan putus akibat tingginya debit air.
Dalam upaya normalisasi sungai ini, BWS Sumatera I telah mengerahkan belasan alat berat, di antaranya sembilan ekskavator, lima dum truk dan satu unit wheel loader.
Sejauh ini, tahapan pekerjaan tanggap darurat normalisasi masih pada pembersihan sampah kayu serta memperbaiki tanggul guna mengurangi dampak lebih luas saat banjir susulan.
"Nanti dilanjutkan dengan pekerjaan rehab-rekon secara menyeluruh, di hulu pekerjaan sabo dam (bangunan pengendali), di tengah penguatan tebing, dan hilir perbaikan muara," kata Asyari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




