ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kanji Rumbi, Warisan Sultan Aceh Terjaga hingga Kini

Sabtu, 28 Februari 2026 | 11:34 WIB
F
S
Penulis: Faizi | Editor: JTO
Aroma rempah yang hangat dan pekat menguar dari sepanci kanji rumbi, kuliner warisan Kesultanan Aceh.
Aroma rempah yang hangat dan pekat menguar dari sepanci kanji rumbi, kuliner warisan Kesultanan Aceh. (Beritasatu.com/Faizi)

Meulaboh, Beritasatu.com - Aroma rempah yang hangat dan pekat menguar dari sepanci kanji rumbi, kuliner warisan Kesultanan Aceh yang bukan sekadar bubur, melainkan jejak sejarah, tradisi, dan solidaritas sosial yang masih lestari hingga kini di Kota Meulaboh, Aceh Besar, Aceh.

Kepulan asap dari kuali besar atau belanga di Taman Hijriah, depan Masjid Nurul Huda, membawa pesan rindu yang tak terelakkan setiap Ramadan. Aroma tajam dari cengkih, buah pala, dan kapulaga yang beradu dengan gurihnya santan menandai kehadiran kanji rumbi, sebuah mahakarya kuliner yang telah menjadi identitas kultural masyarakat Serambi Mekkah.

Bukan sekadar bubur pengganjal perut, kanji rumbi adalah warisan legendaris yang resepnya telah melintasi lorong waktu sejak era keemasan Kesultanan Aceh, tetap lestari sebagai primadona takjil yang paling diburu.

ADVERTISEMENT

Secara tekstur, kanji rumbi menawarkan pengalaman sensorik yang unik, yakni bulir beras yang melunak sempurna hingga menyerupai bubur kental, tetapi tetap kaya akan tekstur dari potongan daging dan taburan bawang goreng yang renyah.

Berbeda dengan bubur ayam pada umumnya, rahasia kelezatan kanji rumbi terletak pada penggunaan bumbu khun atau rempah-rempah pilihan yang memberikan warna kecokelatan alami dan aroma yang sangat aromatik.

Di tangan para juru masak tradisional Meulaboh, hidangan ini bertransformasi menjadi sajian yang mampu memanjakan lidah sekaligus menenangkan jiwa setelah seharian menahan lapar.

Literasi kuliner Aceh mencatat, kanji rumbi bukan hanya soal rasa, melainkan juga tentang pengobatan. Perpaduan rempah-rempah hangat seperti jahe, lada, dan ketumbar dalam racikannya dipercaya secara turun-temurun memiliki khasiat luar biasa bagi kesehatan, mulai dari melancarkan pencernaan hingga memulihkan stamina raga yang letih.

Proses memasaknya yang memakan waktu hingga 2,5 jam di atas api kayu atau kompor besar memastikan seluruh esensi rempah meresap hingga ke inti beras, menciptakan sebuah jamu dalam wujud hidangan yang nikmat disantap selagi panas.

Kehadiran kanji rumbi di Aceh Barat tahun 2026 ini menjadi semakin bermakna berkat inisiasi sosok Rahmat Maulizar, seorang pekerja sosial dan relawan bibir sumbing yang dikenal dermawan. Melalui tangan dinginnya, tradisi membagikan takjil gratis ini menjangkau hingga 12 kecamatan di wilayah Aceh Barat, membawa kebahagiaan bagi warga yang melintas maupun penduduk sekitar.

Di mata masyarakat, gerakan ini bukan sekadar bagi-bagi makanan, melainkan bentuk nyata dari semangat meuseuraya atau gotong royong yang menjadi akar kuat kebudayaan Aceh.

Antusiasme warga Meulaboh begitu terasa saat ratusan orang rela menunggu hingga berjam-jam sejak pukul 14.00 WIB demi mendapatkan seporsi bubur rempah ini. Bagi warga seperti Masyitah, kehadiran kanji rumbi dari Rahmat Maulizar adalah momen yang paling dinantikan setiap tahunnya, karena makanan ini mulai jarang ditemui di gerai jajanan komersial.

Kelangkaannya di hari-hari biasa menjadikan setiap suapan kanji rumbi di bulan Ramadan terasa begitu eksklusif dan penuh akan nilai nostalgia tentang kejayaan masa lalu dan kehangatan keluarga di rumah.

Lokasi pembagian di Kecamatan Johan Pahlawan, khususnya di sekitar Taman Hijriah, menjadi titik sentral di mana sekitar 500 porsi dibagikan setiap harinya. Gerakan filantropi ini didukung penuh oleh sumbangsih para dermawan lokal yang percaya bahwa kebaikan harus disebarkan melalui medium yang paling dekat dengan hati masyarakat.

“Bubur rempah khas Aceh ini menjadi tradisi legendaris sejak era Kesultanan Aceh. Dalam satu hari, ia berhasil membagikan 500 porsi kepada pengguna jalan dan masyarakat sekitar. Selama sembilan hari puasa, pembagian dilakukan di sejumlah kecamatan di wilayah Aceh Barat,” kata Rahmat.

Selama belanga masih berasap di Meulaboh, selama itu pula tradisi Kesultanan Aceh akan terus hidup, menjaga kesehatan warga dan mempererat tali persaudaraan dalam setiap sendokan bubur hangat yang penuh berkah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Ketupat Sayur hingga Timphan, Ini 7 Kuliner Khas Lebaran di Indonesia

Ketupat Sayur hingga Timphan, Ini 7 Kuliner Khas Lebaran di Indonesia

NASIONAL
5 Permainan Ramah Anak Seru Saat Lebaran, Minim Paparan Gadget

5 Permainan Ramah Anak Seru Saat Lebaran, Minim Paparan Gadget

NASIONAL
Ucapkan Selamat Idulfitri 2026, Prabowo: Mari Kita Perkuat Kebersamaan

Ucapkan Selamat Idulfitri 2026, Prabowo: Mari Kita Perkuat Kebersamaan

NASIONAL
Momen Prabowo, Didit, dan Titiek Soeharto Kumpul Bareng Akhir Ramadan

Momen Prabowo, Didit, dan Titiek Soeharto Kumpul Bareng Akhir Ramadan

NASIONAL
Gelar Salat Id Perdana, Masjid Negara IKN Siap Tampung 7.500 Jemaah

Gelar Salat Id Perdana, Masjid Negara IKN Siap Tampung 7.500 Jemaah

NASIONAL
317.666 Personel Polri Amankan Malam Takbiran hingga Salat Id

317.666 Personel Polri Amankan Malam Takbiran hingga Salat Id

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon