4 Teknologi yang Dianggap Mengecewakan pada 2024
Kamis, 12 Desember 2024 | 13:17 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - 2024 menjadi tahun yang penuh dengan kemajuan teknologi. Namun, di balik inovasi yang luar biasa, terdapat sejumlah produk dan layanan yang dianggap mengecewakan dan gagal memenuhi harapan. Dari gadget canggih hingga perangkat lunak, banyak ekspektasi yang tidak terwujud dan meninggalkan kekecewaan bagi pengguna.
Dilansir dari Gizchina, Kamis (12/12/2024), berikut beberapa kekecewaan teknologi terbesar pada 2024 dan mengapa produk-produk ini tidak berhasil seperti yang diharapkan.
Rabbit R1
Rabbit R1 yang diluncurkan sebagai pendamping AI revolusioner gagal memenuhi janji-janji besarnya. Perangkat ini, yang seharusnya menjalankan perintah suara dengan lancar, sering kali mengalami kesalahan dan kegagalan. Kinerja buruk dan antarmuka yang kikuk membuat pengalaman pengguna terganggu.
Selain itu, daya tahan baterai yang cepat habis meski tidak digunakan serta keterbatasan aplikasi yang tersedia, menjadikan Rabbit R1 kurang berguna. Fitur-fitur seperti pengenalan objek yang tidak akurat dan kesalahan dalam interpretasi suara semakin memperburuk kekecewaan terhadap perangkat ini.
Humane AI Pin
Humane AI Pin merupakan konsep ambisius untuk menggantikan ponsel pintar dengan memproyeksikan layar ke permukaan. Namun, harga yang sangat tinggi (US$ 699) dan fungsionalitas yang terbatas membuat produk ini sulit diterima oleh pasar.
Pengguna melaporkan masalah teknis, seperti kegagalan pengenalan perintah dan waktu respons yang lambat, yang mengurangi kepercayaan pada perangkat ini. Dalam pasar yang dipenuhi dengan smartphone canggih dan fitur AI, AI Pin gagal membedakan dirinya dan merebut perhatian konsumen.
CrowdStrike
Tahun 2024 juga menandai kemunduran besar bagi CrowdStrike, perusahaan keamanan siber terkemuka. Pembaruan perangkat lunak yang salah rilis pada 19 Juli 2024 menyebabkan gangguan luas, termasuk kerusakan sistem pada jutaan perangkat Windows atau dikenal sebagai “blue screens of death".
Masalah ini terjadi akibat prosedur pengujian yang tidak memadai, dan pembaruan yang dirilis tanpa validasi yang cukup. Insiden ini berdampak pada berbagai industri, termasuk maskapai penerbangan, perbankan, layanan kesehatan, dan layanan pemerintah, serta memicu kerugian finansial yang besar bagi perusahaan.
Apple Vision Pro
Apple Vision Pro, meski menawarkan banyak inovasi, juga menghadapi tantangan besar. Dengan harga US$ 3.500, produk ini dianggap terlalu mahal bagi sebagian besar konsumen. Masalah kenyamanan, seperti ketegangan mata dan sakit kepala, ditambah dengan berat perangkat yang mengganggu, membuat pengguna kecewa.
Selain itu, ekosistem aplikasi yang terbatas dan keterbatasan teknis lainnya mengurangi kualitas pengalaman pengguna dan membuat Apple Vision Pro masuk dalam daftar teknologi yang mengecewakan pada 2024. Apple Vision Pro juga menghadapi persaingan ketat dari headset VR lain yang menawarkan pengalaman serupa dengan harga lebih terjangkau.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




