Edin Dzeko, Striker Gaek yang Wajib Diwaspadai para Bek Italia
Selasa, 31 Maret 2026 | 06:16 WIB
Roma, Beritasatu.com — Italia menghadapi tantangan besar saat bertandang ke Bosnia-Herzegovina pada final play-off kualifikasi Piala Dunia, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Lini belakang Azzurri dituntut mampu meredam ketajaman Edin Dzeko, striker senior yang sudah sangat dikenal oleh sejumlah pemain bertahan Italia.
Penyerang Bosnia-Herzegovina berusia 40 tahun itu memiliki kedekatan dengan beberapa bek utama Italia. Edin Dzeko pernah satu tim dengan Gianluca Mancini dan Riccardo Calafiori saat membela Roma pada 2015 hingga 2021. Setelah itu, ia juga bermain bersama Alessandro Bastoni ketika memperkuat Inter Milan hingga menembus final Liga Champions 2023.
Federico Dimarco bahkan sempat menghubungi Dzeko seusai Bosnia-Herzegovina menyingkirkan Wales melalui adu penalti pekan lalu untuk memastikan tempat di partai penentuan melawan juara dunia empat kali tersebut.
Gol sundulan Dzeko ke gawang Wales menjadi gol internasional ke-73 dalam kariernya. Dengan postur 1,93 meter, ia tetap menjadi ancaman serius dalam duel udara, area yang kerap menyulitkan pertahanan Italia. “Edin adalah pemain hebat dan orang yang hebat,” kata Dimarco terkait striker gaek itu.
“Saya bertemu dengannya saat liburan musim panas dan saya tetap menjalin hubungan baik dengannya,” tambahnya.
Meski demikian, kedekatan pribadi harus dikesampingkan karena Italia bertekad mengakhiri catatan buruk gagal tampil di dua edisi Piala Dunia terakhir. Sebelumnya, Italia tersingkir dari play-off setelah dikalahkan Swedia dan Makedonia Utara.
Pada semifinal play-off pekan lalu, Italia berhasil menundukkan Irlandia Utara dengan skor 2-0 untuk melaju ke partai final.
Selain duel Bosnia-Herzegovina kontra Italia, final play-off lainnya mempertemukan Swedia melawan Polandia, Turki menghadapi Kosovo, serta Denmark kontra Republik Cheska.
Bosnia-Herzegovina menetapkan Stadion Bilino Polje di Zenica sebagai lokasi pertandingan. Stadion berkapasitas 14.000 penonton itu berada di tengah kawasan permukiman dengan deretan apartemen yang mengelilingi arena.
Namun, kapasitas penonton dikurangi 20% menyusul hukuman dari FIFA akibat pelecehan diskriminatif dan rasis oleh suporter saat laga melawan Rumania pada November lalu.
Kondisi Lapangan
Italia juga menyoroti kondisi lapangan setelah wilayah Bosnia diguyur salju dalam beberapa hari terakhir. “Kami memperkirakan suasana yang sulit,” kata Dimarco.
“Namun, jika kami mampu tetap dalam kondisi mental yang tepat selama 95 menit, saya pikir kami bisa mendapatkan hasilnya,” tambahnya.
Pelatih Italia Gennaro Gattuso menegaskan timnya tidak ingin menjadikan kondisi lapangan sebagai alasan. “Jika kondisinya buruk, maka itu juga akan sulit bagi mereka. Mencari alasan adalah kelemahan. Saya pikir lapangan sudah cukup. Yang penting adalah pendekatan mental dan sikap kita,” ujar Gattuso.
Bosnia-Herzegovina sempat menyoroti rekaman video para pemain Italia yang merayakan kemenangan atas Wales, yang dianggap memberi kesan mereka lebih memilih menghadapi Bosnia dibanding Wales. “Itu adalah reaksi naluriah. Saya tentu tidak menghina Bosnia atau warga Bosnia,” kata Dimarco.
Laga ini akan dipimpin wasit Clement Turpin asal Prancis, yang juga pernah memimpin pertandingan ketika Italia kalah 0-1 dari Makedonia Utara di semifinal play-off empat tahun lalu.
“Kita semua punya preferensi masing-masing. Preferensi saya adalah tidak bermain melawan Italia,” kata Dzeko, yang mulai 2026 ini bermain untuk Schalke.
“Jika mereka takut bermain di Wales, ada yang salah. Mungkin mereka juga akan kesulitan dalam pertandingan ini, karena mereka bermain untuk menebus dua Piala Dunia yang mereka lewatkan. Itu berarti mereka takut,” tambahnya.
Musim ini Dimarco tampil produktif bersama Inter dengan koleksi enam gol dan 15 assist di Serie A.
Satu-satunya pengalaman Piala Dunia yang pernah dirasakannya terjadi saat membela Italia U-20 pada 2017, ketika tim finis di posisi ketiga dan ia mencetak gol pada babak perempat final.
“Saya selalu mengatakan bahwa gol dan assist tidak menarik bagi saya kecuali jika itu membantu tim mencapai hasil,” kata Dimarco.
Di lini depan, Pio Esposito berpeluang tampil sejak menit awal menggantikan Mateo Retegui setelah tampil menjanjikan saat masuk sebagai pemain pengganti ketika menghadapi Irlandia Utara. Penyerang berusia 20 tahun itu kemungkinan akan diduetkan dengan Moise Kean.
Dimarco yang juga pernah bermain bersama Esposito di Inter memberikan pujian khusus. “Dia anak yang istimewa,” kata Dimarco.
Laga ini memiliki arti penting bagi Italia karena generasi muda negara itu hampir tidak memiliki kenangan melihat Azzurri bermain pada Piala Dunia. Kekalahan terakhir Italia di turnamen tersebut terjadi pada 2014 saat dikalahkan Uruguay di Brasil, pertandingan yang juga dikenang karena insiden gigitan Luis Suarez terhadap Giorgio Chiellini.
Situasi itu juga dirasakan Matteo Politano. Meski sudah meraih dua gelar liga Italia bersama Napoli, pemain sayap kanan berusia 32 tahun tersebut belum pernah merasakan atmosfer Piala Dunia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




