Identifikasi Korban Pesawat ATR 42-500, Keluarga Deden Serahkan DNA
Senin, 19 Januari 2026 | 14:36 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Keluarga Deden Maulana, salah seorang korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, menyerahkan rambut ibu korban kepada tim Disaster Victim Identification (DVI). Rambut tersebut akan digunakan sebagai bahan pembanding dalam tes asam deoksiribonukleat (DNA) untuk proses identifikasi korban.
Ayah Deden, Mukhsin mengatakan, permintaan tersebut disampaikan langsung oleh tim DVI karena diperlukan data biologis dari pihak yang memiliki hubungan darah langsung dengan korban.
"Karena menurut tim DVI dari sana, harus ada yang sedarah. Jadi, yang diminta di antaranya, satu rambut ibunya dibawa," kata Mukhsin kepada wartawan di Jakarta, dikutip dari Antara, Senin (19/1/2026).
Selain rambut ibu korban, Mukhsin menyebutkan, adik Deden beserta suaminya juga diminta untuk berangkat ke Makassar guna menjalani pemeriksaan dan melengkapi data pendukung yang dibutuhkan dalam proses identifikasi.
Mukhsin berharap seluruh data yang diserahkan dapat membantu tim DVI dan mempercepat proses pencarian serta identifikasi putranya yang hingga kini masih dinyatakan hilang.
"Data di antaranya ijazah, kartu keluarga (KK), tanda-tanda di badan, baju yang dipakai dan foto yang sedang tersenyum kelihatan gigi. Itu saja yang diminta," ucapnya.
Ia menambahkan, sebelum kejadian kecelakaan pesawat tersebut, keluarga tidak merasakan firasat atau tanda-tanda apa pun saat berinteraksi terakhir dengan Deden. Menurutnya, komunikasi terakhir berlangsung seperti biasa tanpa hal yang mencurigakan.
Saat ini, keluarga Deden Maulana masih berada dalam suasana duka sambil menanti kabar terbaru dari proses pencarian dan identifikasi yang dilakukan tim gabungan. Deden diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi salah satu penumpang pesawat tersebut.
"Ya, harapan kami sekeluarga, semoga cepat ditemukan dan mendapatkan berita yang menggembirakan," ucap Mukhsin.
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dinyatakan hilang kontak saat melintasi wilayah pegunungan Bulusaraung, daerah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) siang. Pesawat tersebut dilaporkan hilang saat hendak mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.
Pesawat ATR 42-500 itu membawa 10 orang, terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga penumpang. Tiga penumpang merupakan pegawai KKP, yakni Ferry Irawan, Deden Maulana, dan Yoga Naufal.
Sementara itu, tujuh kru pesawat yang berada di dalam pesawat tersebut adalah Captain Andi Dahananto, Co-Pilot Muhammad Farhan Gunawan, serta kru Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita. Hingga kini, proses pencarian dan identifikasi korban masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dan tim DVI di tengah tantangan medan yang berat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




