ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dari Limbah Kayu Jadi Ikon Daerah, Kisah Inspiratif Endang Badak

Sabtu, 20 Juni 2026 | 19:52 WIB
B
DM
Penulis: Budiman | Editor: DM
Selama 21 tahun, Endang Sutiyoso (52) membuat miniatur badak dari limbah kayu untuk menjaga identitas Pandeglang. Kini perajinnya tinggal dua orang.
Selama 21 tahun, Endang Sutiyoso (52) membuat miniatur badak dari limbah kayu untuk menjaga identitas Pandeglang. Kini perajinnya tinggal dua orang. (Beritasatu.com/Budiman)

Pandeglang, Beritasatu.com - Di sebuah bengkel sederhana di Kampung Kerawang Legon, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, suara gesekan amplas dan ketukan alat pertukangan masih terdengar setiap hari.

Di tempat itulah Endang Sutiyoso (52) terus berjuang menjaga salah satu identitas khas Pandeglang melalui karya miniatur badak yang dibuat dari limbah kayu.

Pria yang akrab disapa Eton Badak itu telah menggeluti kerajinan miniatur badak sejak 2005. Selama lebih dari dua dekade, ia konsisten menghasilkan karya yang bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan daerah yang memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan Badak Jawa di kawasan Ujung Kulon.

ADVERTISEMENT

“Sejak 2005 saya fokus membuat miniatur badak. Ini bukan sekadar kerajinan, tetapi bagian dari upaya menjaga ikon daerah tetap hidup,” kata Endang kepada Beritasatu.com, Sabtu (20/6/2026).

Di tengah gencarnya kampanye pelestarian lingkungan, Endang memilih menggunakan limbah kayu sebagai bahan baku utama. Baginya, ekonomi kreatif harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian alam.

Seluruh bahan yang digunakan berasal dari sisa potongan kayu yang dikumpulkan dan diolah kembali menjadi produk bernilai jual. Dengan cara tersebut, ia dapat terus berkarya tanpa harus menebang pohon.

“Kami memanfaatkan limbah kayu, tidak menebang pohon. Biarkan Pandeglang dan Banten tetap hijau, tanpa menebang pohon pun kami masih bisa berkarya membuat ikon daerah,” ujarnya.

Butuh Dukungan Pemerintah

Meski mampu mempertahankan produksi selama 21 tahun, Endang mengakui tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal pembuatan, melainkan akses pasar yang masih sangat terbatas. Selama ini, pemasaran miniatur badak lebih banyak mengandalkan jaringan pertemanan, komunitas, hingga pesanan dari kalangan tertentu, termasuk institusi kepolisian.

Menurut Endang, pemerintah daerah dapat mengambil langkah sederhana, tetapi berdampak besar untuk membantu keberlangsungan usaha para perajin sekaligus memperkuat promosi daerah. “Bagaimana seorang pemimpin atau bupati memberikan instruksi kepada bawahannya agar bisa mempromosikan kerajinan kayu ini,” katanya.

Ia mengusulkan agar miniatur badak dijadikan identitas visual yang ditempatkan di meja kerja organisasi perangkat daerah (OPD), instansi pemerintah, hingga perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Pandeglang.

“Harapan saya, badak ini ada di meja masing-masing OPD, SKPD, maupun perusahaan di Pandeglang. Selain menjadi promosi daerah, ini juga bisa mengangkat ekonomi para perajin,” ujarnya.

Menurutnya, langkah tersebut dapat menciptakan pasar yang lebih berkelanjutan sekaligus memperkuat citra Pandeglang sebagai daerah yang identik dengan Badak Jawa.

Ancaman Serius Regenerasi

Dalam sehari, Endang mampu memproduksi satu hingga dua miniatur badak, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan pesanan. Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, mulai dari Rp 200.000 untuk ukuran kecil, sedangkan model khusus disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

Namun, persoalan yang lebih mengkhawatirkan justru datang dari minimnya regenerasi perajin. Saat ini, jumlah pembuat miniatur badak di Pandeglang hanya tersisa dua orang. Selain Endang, hanya ada Armat yang masih aktif berkarya di wilayah Taman Jaya, Ujung Kulon.

“Sekarang tinggal dua orang lagi, saya dan Pak Armat di wilayah Taman Jaya, Ujung Kulon. Itu pun beliau juga memiliki pekerjaan lain karena tidak bisa sepenuhnya hidup dari karya ini,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menjadi sinyal salah satu warisan budaya lokal Pandeglang berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. “Badaknya sudah langka, pengrajinnya juga ikut langka. Ini tanggung jawab siapa?” ujarnya.

Identitas Daerah lewat Karya

Bagi Endang, miniatur badak bukan sekadar produk kerajinan tangan. Karya tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga memori kolektif masyarakat Pandeglang dan memperkenalkan identitas daerah kepada generasi mendatang.

Ia berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat menghadirkan kebijakan nyata yang mendukung keberlangsungan para pelaku ekonomi kreatif lokal.

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Badak adalah identitas kita. Dengan cara sederhana, menempatkan miniatur badak di setiap meja kantor, kita bisa sekaligus mempromosikan daerah dan menghidupkan ekonomi para perajin,” pungkasnya.

Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, perjuangan Endang menjadi pengingat bahwa menjaga identitas daerah membutuhkan lebih dari sekadar slogan. Dibutuhkan dukungan nyata agar warisan budaya lokal tetap hidup dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon