KPPS Pesisir Mimika Khawatir Distribusi Logistik Pemilu Terkendala Gelombang Tinggi
Selasa, 6 Februari 2024 | 13:34 WIB
Timika, Beritasatu.com - Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di wilayah pesisir Mimika, Papua Tengah khawatir distribusi logistik Pemilu 2024 terkendala cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.
Ketua KPPS Kampung Amungun, Distrik Agimuga, Mimika, Marselus Kelanangame, termasuk yang mulai resah melihat kondisi gelombang tinggi di jalur distribusi logistik pemilu ke wilayahnya.
“Di laut sekarang musim ombak besar. Baru-baru ini ada perahu yang terbalik. Beberapa warga juga gagal berangkat. Mereka kembali (dari pelabuhan) karena ombaknya terlalu tinggi,” kata Marselus di Timika, Selasa (6/2/2024).
Amungun merupakan salah satu kampung di distrik atau kecamatan pesisir terjauh di Mimika. Untuk mengakses wilayah ini membutuhkan waktu 8-10 jam menggunakan speedboat atau kapal motor.
Menurut Marselus, saat ini sudah tidak ada alternatif jalur sungai ke wilayahnya akibat pendangkalan yang disebabkan limbah tailing PT Freeport Indonesia. Selain karena cuaca ekstrem, ombak makin mengganas terutama di dekat muara karena perubahan kondisi alam akibat tailing.
“Sungai-sungai yang dulu (dilewati) itu sudah mengalami pendangkalan semua karena tailing Freeport ini. Sekarang tidak bisa (dilewati) sama sekali. Harus lewat jalur laut, sementara di sana ombak besar,” ujarnya.
KPU Kabupaten Mimika menjadwalkan distribusi logistik pemilu ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) baru mulai dilakukan pada H-7 menjelang hari pemungutan suara pada Rabu (14/2/ 2024).
Ia mengatakan, sejauh ini belum ada informasi dari KPU terkait alternatif transportasi menggunakan pesawat terbang. Penggunaan pesawat untuk logistik pemilu memang difokuskan untuk wilayah pedalaman yang hanya dapat diakses lewat transportasi udara.
“Seandainya bisa, memang lebih baik pakai pesawat. Saya pikir dalam bulan-bulan ini risikonya tinggi sekali di laut, terutama ke wilayah Agimuga ini,” kata Marselus.
Tidak hanya itu, Marselus juga khawatir distribusi logistik terkendala biaya angkut. Sebab, begitu tiba di pelabuhan, logistik pemilu masih perlu diangkut cukup jauh ke lokasi TPS.
“Sesampainya di Pelabuhan Agimuga itu logistik akan diangkut lagi ke kampung. Tentu itu butuh biaya lagi. Belum ada konfirmasi bahwa itu ada biaya atau tidak. Kalau tidak ada, repot kita,” katanya.
Marselus khawatir soal biaya-biaya tersebut karena berkaca pada honor KPPS yang besarannya sama, baik wilayah kota, pedalaman, maupun pesisir. Padahal, menurutnya, mestinya honor KPPS ini disesuaikan dengan kondisi wilayah.
“Baru-baru ini kami datang di bimbingan teknik di kota, biaya transportasi dari kampung tanggung sendiri. Sementara uang duduk itu kami diberi cuma Rp 150.000 per orang,” keluh Marselus yang juga berprofesi sebagai wasit futsal berlisensi nasional.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




