Kisah Fadhil, Siswa Sekolah Rakyat yang Hidup Tanpa Orang Tua
Senin, 14 Juli 2025 | 18:52 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kisah haru datang dari seorang siswa Sekolah Rakyat (SR) di Sentra Handayani, Jalan PPA Nomor 1, Cipayung, Bambu Apus, Jakarta Timur. Namanya Fadhilah Pratama, bocah 12 tahun yang akrab disapa Fadhil. Ia tumbuh dengan keterbatasan fisik dan tanpa kehadiran orang tua kandung di sisinya.
Sejak lahir, Fadhil tinggal bersama neneknya, Rabiyem, di Kampung Rambutan. Ayahnya meninggal saat Fadhil masih kecil, sedangkan ibunya kini tinggal di Sukabumi bersama suami barunya.
"Orang tuanya yang perempuan anak saya, nikah dan bapaknya meninggal. Punya anak satu, Fadhilah. Emaknya nikah lagi. Fadil masih kecil, belum sekolah, bapaknya meninggal. Umur ya sekitar lima tahun," kenang Rabiyem, Senin (14/7/2025).
Meski hidup dalam keterbatasan, Fadhil tumbuh sebagai anak yang tangguh. Namun, cobaan kembali datang saat ia duduk di bangku kelas dua SD.
Saat bermain di pinggir tol, kakinya terkena benang tajam layangan yang terseret mobil boks hingga menyebabkan luka parah. Ia harus menjalani dua kali operasi, tetapi otot pergelangan kakinya tidak bisa pulih sepenuhnya, membuatnya pincang hingga kini.
"Kakinya itu kena benang layangan yang keseret mobil boks. Jadi ketarik dan putus. Dioperasi dua kali. Jalannya sekarang masih begini, tetapi kami tetap bersyukur dia masih hidup," ujar Rabiyem dengan mata berkaca-kaca.
Kondisi tersebut tak membuat Fadhil kehilangan semangat. Ia justru menjadi tulang punggung kecil bagi neneknya. Setiap pagi, Fadhil mengantar Rabiyem berjualan buah di Terminal Ceger menggunakan sepeda listrik, lalu menjemputnya lagi sekitar pukul 11.30 WIB.
"Kalau pagi nganterin, nanti jemput jam setengah 12 dan udah nungguin di musala. Saya kadang sedih, dijemput-jemput cucu," tutur Rabiyem.
Rabiyem, yang kini berusia 63 tahun, hanya mengandalkan penghasilan sekitar Rp 70.000 per hari dari berjualan buah. Uang itu cukup untuk makan sehari-hari.
Beruntung, Fadhil bisa tetap bersekolah di SD negeri secara gratis dan kini mendapat kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat.
Fadhil tetap ceria dan penuh semangat menjalani hidupnya. Ia mengaku ingin menjadi seorang polisi agar bisa membanggakan neneknya, yang akrab ia panggil Mama Ndut.
"Polisi, itu cita-cita saya dari kecil. Terima kasih Mama Ndut. Mama Ndut udah banggain aku dari kecil sampai sekarang, ngasih makan, ngasih sembako, ngasih duit," ucap Fadhil sambil tersenyum.
Rabiyem pun tak kuasa menahan haru ketika melepas cucunya di hari pertama masuk Sekolah Rakyat.
"Ya, sedih, ya senang. Karena bocahnya itu nurut, dibilangin juga mau. Katanya, 'Mama jangan takut kalau saya sekolah di Sekolah Rakyat. Nanti saya semangat.' Saya yang ngurusin dari bayi, jadi rasanya ya sedih banget," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




