AAUI Sebut Sejumlah Perusahaan Asuransi Umum Tidak Sehat
Rabu, 31 Mei 2023 | 06:10 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) tengah berupaya mengevaluasi histori kinerja perusahaaan-perusahaan asuransi umum, sekaligus coba merefleksikan kinerja ke depan. Inisiatif ini dilakukan karena beberapa perusahaan memiliki profil keuangan yang tidak sehat, khususnya terkait hasil underwriting.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan, ada satu persoalan yang tengah dicermati asosiasi, yang dalam beberapa tahun belakangan terjadi di industri asuransi umum. Persoalan yang dimaksud yakni perolehan hasil underwriting yang kerap habis tergerus biaya-biaya lainnya.
"Industri asuransi umum tidak semuanya dalam keadaan yang baik atau sehat, sehingga yang menjadi prioritas utama asosiasi adalah mengembalikan hasil underwriting kita untuk bisa menutup biaya operasional atau beban-beban lainnya," kata Budi dalam konferensi pers, Selasa (30/5/2023).
Dia mengatakan, AAUI telah menilik sejumlah laporan keuangan perusahaan asuransi umum yang juga anggota asosiasi. Hasilnya, ditemukan bahwa laba yang diperoleh perusahaan cenderung ditopang oleh hasil investasi, alih-alih hasil underwriting sebagai distributor organik dari laba.
"Melihat laporan keuangan ke belakang, laba yang diperoleh asuransi umum itu lebih ditopang oleh hasil investasi. Ini juga menjadi masukan ke regulator," jelas Budi.
Seperti yang diketahui, perusahaan asuransi memiliki dua pos utama pendapatan yakni pendapatan premi dan hasil investasi. Secara sederhana, pendapatan premi ini yang kemudian mengalir menjadi hasil underwriting, setelah dikurangi biaya-biaya, klaim, dan beban lainnya. Sementara hasil investasi bergerak menyesuaikan selera penempatan investasi dan perkembangan pasar.
Budi menjelaskan, tiga lini bisnis utama asuransi umum yakni asuransi harta benda (properti), asuransi kendaraan bermotor, dan asuransi kredit juga tidak begitu sehat. Asuransi harta benda dan asuransi kendaraan bermotor ada sejumlah isu harga (pricing) di dalamnya.
Sedangkan asuransi kredit lebih parah, lini tersebut terbukti dan cenderung menghasilkan underwriting negatif. Tentu, hal ini tidak terjadi pada seluruh perusahaan. "Oleh karena itu juga, perlu pendekatan yang berbeda untuk turut membenahi masing-masing perusahan," tegasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston





