ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

PHEI: Penerbitan Obligasi Bakal Ramai

Jumat, 28 Juli 2023 | 15:44 WIB
MF
FB
Penulis: Muhamad Ghafur Fadillah | Editor: FMB
Ilustrasi Obligasi.
Ilustrasi Obligasi. (Beritasatu Photo/Uthan A Rachim)

Jakarta, Beritasatu.com - Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) memproyeksikan bahwa penerbitan obligasi pada kuartal III-2023 akan menjadi sangat ramai karena tingginya jumlah obligasi yang akan jatuh tempo.

Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Roby Rushandie, menyatakan bahwa pada tahun 2023 sekitar Rp 116 triliun obligasi akan mencapai jatuh tempo, yang lebih rendah dari jumlah jatuh tempo pada tahun 2022 sebesar Rp 147 triliun. Rinciannya, pada kuartal III-2023 nanti, akan mencapai sekitar Rp 44,75 triliun. Sementara itu, untuk kuartal IV-2023, obligasi yang jatuh tempo akan mencapai Rp 23,91 triliun.

"Sejauh ini, telah terbit obligasi sebesar Rp 27 triliun. Oleh karena itu, kami memperkirakan bahwa penerbitan di pasar obligasi akan paling ramai pada kuartal 3 ini," jelasnya dalam konferensi pers pada Jumat (28/7/23).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, sektor non-bank dan perbankan diperkirakan akan mendominasi penerbitan obligasi ini hingga akhir tahun, karena likuiditas bank juga menurun sehingga membutuhkan lebih banyak pendanaan. Sektor infrastruktur juga diperkirakan akan mengikuti sektor perbankan dalam penerbitan obligasi meskipun jumlahnya lebih terbatas.

"Karena sebelumnya, sektor ini telah menerbitkan cukup banyak obligasi dan telah melakukan front loading," ujar Roby.

Namun, pada sektor energi, Roby memperkirakan bahwa penerbitan obligasi tidak akan terlalu banyak karena sektor ini telah dibanjiri dengan surplus dana setelah kenaikan harga energi pada tahun sebelumnya. "Dengan harga energi yang menurun saat ini, sektor energi cenderung menahan ekspansi," kata dia.

PHEI juga menyampaikan bahwa yield atau imbal hasil yang menurun menandakan bahwa pasar sedang bullish, meskipun penurunan imbal hasil kali ini tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya secara historis. Secara global, bank sentral pada negara-negara maju diperkirakan akan terus menurunkan suku bunga hingga akhir tahun 2023. Roby menegaskan bahwa hingga akhir 2023, pasar obligasi masih berpotensi untuk melanjutkan pemulihan dari segi valuasi.

Recovery ini melanjutkan kinerja positif pada semester pertama 2023, di mana pasar obligasi Indonesia menunjukkan performa yang positif. Hal ini tercermin dari data Indeks Obligasi Komposit Indonesia (ICBI) yang naik sebesar 6,48% year to date (ytd) ke level 367,1162. Kenaikan ICBI didorong oleh kenaikan indeks return obligasi pemerintah (INDOBeXG-TR) sebesar 6,61% (ytd) dan indeks return obligasi korporasi (INDOBeXC-TR) sebesar 4,64% (ytd). "Kurva yield PHEI-IGSYC juga menunjukkan pola bullish dengan penurunan rata-rata yield terbesar dialami kelompok tenor menengah (5-7 tahun) yakni 59,95 bps (ytd)," tutup Roby.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon