ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Menkeu Purbaya Diminta Disiplin Kelola Anggaran Indonesia

Kamis, 11 September 2025 | 14:12 WIB
AH
MK
Penulis: Akmalal Hamdhi | Editor: MBK
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat tiba di i Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 10 September 2025 sore WIB untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat tiba di i Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu 10 September 2025 sore WIB untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto. (Beritasatu.com/Celvin Sipahutar)

Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tetap menjaga disiplin fiskal di tengah kebutuhan besar untuk program prioritas pemerintah.

Bhima menilai kedisiplinan dalam pengelolaan fiskal penting sebagai rem terhadap proyek-proyek yang belum mendesak. Bahkan, ia menekankan perlunya evaluasi ulang terhadap beberapa program inisiatif Presiden Prabowo Subianto, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Food Estate, dan Sekolah Rakyat.

Menurut Bhima, anggaran besar untuk program tersebut sebaiknya ditekan. Prioritas utama, katanya, seharusnya difokuskan pada program yang langsung menyentuh masyarakat, misalnya bantuan langsung tunai (BLT) atau bantuan subsidi upah (BSU).

ADVERTISEMENT

“Pak Purbaya harus bisa menjaga disiplin fiskal, karena kalau menuruti semua permintaan dari Prabowo, dikhawatirkan fiskalnya akan berdarah dan beban utang terus naik,” ucap Bhima kepada Beritasatu.com, Rabu (11/9/2025).

Selain itu, Bhima mengingatkan agar Purbaya berhati-hati dalam penggunaan skema burden sharing, yakni pembagian beban antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Menurutnya, keterlibatan moneter terlalu jauh bisa mengurangi independensi BI sekaligus mengancam stabilitas keuangan.

Bhima menambahkan, Menkeu Purbaya juga perlu mencari cara baru untuk meningkatkan penerimaan pajak, terutama dengan menutup kebocoran di sektor ekstraktif seperti tambang, nikel, batubara, dan sawit.

“Kebijakan pajak yang menyasar sektor ekstraktif melalui pajak produksi batubara dan windfall profit tax bisa menjadi basis penerimaan negara tanpa mengganggu daya beli masyarakat,” jelas Bhima.

Ia menegaskan strategi penerimaan pajak harus mempertimbangkan daya beli kelompok menengah dan bawah, misalnya dengan menurunkan tarif PPN menjadi 8% dan menaikkan PTKP menjadi Rp 7.000.000 per bulan.

Selain itu, Bhima menilai pajak kekayaan berupa 2% pajak untuk aset orang super kaya mendesak dilakukan guna menekan ketimpangan sekaligus memperbesar penerimaan negara.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pengusaha China Keluhkan Iklim Investasi RI, Purbaya Buka Suara

Pengusaha China Keluhkan Iklim Investasi RI, Purbaya Buka Suara

EKONOMI
Purbaya Pastikan Tak Ada Tax Amnesty kecuali Perintah Prabowo

Purbaya Pastikan Tak Ada Tax Amnesty kecuali Perintah Prabowo

EKONOMI
Bahlil–Purbaya Sepakat Tunda Royalti dan Bea Keluar Tambang

Bahlil–Purbaya Sepakat Tunda Royalti dan Bea Keluar Tambang

EKONOMI
Rupiah Anjlok Tembus Rp 17.528, Apa Langkah Purbaya?

Rupiah Anjlok Tembus Rp 17.528, Apa Langkah Purbaya?

EKONOMI
Purbaya Dukung Bahlil Percepat Swasembada Energi dan Listrik Desa

Purbaya Dukung Bahlil Percepat Swasembada Energi dan Listrik Desa

EKONOMI
Satgas Debottlenecking Berhasil Selesaikan 45 Kasus Investasi

Satgas Debottlenecking Berhasil Selesaikan 45 Kasus Investasi

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon