ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Akselerasi Energi Hijau: Menyemai Harapan untuk Bumi Lestari

Rabu, 22 Oktober 2025 | 05:00 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
PLTS Terapung Cirata di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi salah satu penanda babak baru perjalanan Indonesia untuk mulai meninggalkan ketergantungan pada sumber daya fosil.
PLTS Terapung Cirata di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, menjadi salah satu penanda babak baru perjalanan Indonesia untuk mulai meninggalkan ketergantungan pada sumber daya fosil. (PLN/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Ribuan panel surya berjejer rapi di atas permukaan Waduk Cirata di Jawa Barat. Di tempat inilah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata atau Floating Solar PV Cirata dibangun, sebuah proyek energi bersih yang merupakan PLTS terapung terbesar di kawasan Asia Tenggara dan nomor tiga di dunia, sekaligus menjadi salah satu penanda babak baru perjalanan Indonesia untuk mulai meninggalkan ketergantungan pada sumber daya fosil. 

PLTS terapung Cirata yang diresmikan pada 9 November 2023 merupakan proyek kolaborasi global antara PT PLN (Persero) melalui subholding PLN Nusantara Power dan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA), Masdar.

Tidak hanya di Waduk Cirata, PLTS juga dibangun di banyak lokasi, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Saat ini, PLN melalui subholding PLN Indonesia Power (PLN IP) juga tengah membangun PLTS Terapung Saguling berkapasitas 92 megawatt peak (MWp) di Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Keberadaan sejumlah pembangkit ramah lingkungan ini menjadi ikhtiar Indonesia untuk beralih ke sistem energi yang ramah lingkungan, andal, dan tentunya berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo Subianto berulang kali menegaskan komitmen Indonesia untuk mencapai net zero emissions (NZE) melalui peningkatan penggunaan energi baru terbarukan (EBT). Prabowo meyakini, target NZE bisa dicapai Indonesia pada 2060, bahkan lebih cepat. 

"Energi baru terbarukan itu energi masa depan. Jadi, kita harus genjot pembangunan pembangkit dari tenaga surya, hidro, panas bumi, dan dari bioenergi," kata Prabowo dalam pidato Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2026, di Kompleks Parlemen Senayan, Jumat (15/8/2025).

Mengapa Akselerasi Energi Hijau Itu Penting?

Ancaman nyata dari perubahan iklim kini sudah mulai terlihat. Suhu bumi yang meningkat, cuaca ekstrem makin sering terjadi, dan ekosistem yang terganggu. Sektor energi menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. 

International Energy Agency (IEA) dalam laporannya bertajuk "Global Energy Review 2025" menyebutkan, pada 2024, emisi CO2 yang terkait dengan energi meningkat sebesar 0,8% dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa hingga 37,8 gigaton CO2. Kenaikan ini menyebabkan konsentrasi CO2 di atmosfer mencapai rekor baru sebesar 422,5 ppm pada 2024, sekitar 3 ppm lebih tinggi dibandingkan 2023 dan 50% lebih tinggi dari tingkat sebelum era industri.

Di sisi lain, energi fosil sifatnya terbatas. Sebaliknya, energi hijau memberikan pasokan energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. 

Prabowo menegaskan, akselerasi energi hijau juga bertujuan menjamin ketahanan dan kemandirian energi nasional. Selain itu, kebijakan ini berorientasi pada efisiensi biaya, keberlanjutan lingkungan, serta pemerataan kesejahteraan masyarakat.

“Yang lebih penting, kita bisa menghasilkan energi dengan efisien, tidak terlalu mahal dengan cara memotong jalur-jalur logistik yang mahal. Inilah dampak dari program besar kita,” ungkap Prabowo. 

Dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), penambahan kapasitas terpasang EBT pada Semester I 2025 sebesar 876,5 Megawatt (MW), naik 15% dibandingkan penambahan kapasitas EBT untuk keseluruhan tahun 2024. Total kapasitas terpasang EBT Semester I 2025 setara 14,5% dari total pembangkit nasional.

Berbagai strategi dilakukan pemerintah untuk meningkatkan bauran EBT. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan, salah satu upayanya melalui penggunaan 1 MW solar panel atau panel surya di setiap desa.

“Dengan adanya sekitar 80.000 desa, total energi dari solar panel mencapai 80 gigawatt (GW),“ kata Bahlil dalam acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (10/10/2025).

Disampaikan Bahlil, pemerintah juga akan melakukan kolaborasi dengan investor dari dalam dan luar negeri untuk mempercepat penggunaan EBT. Regulasi yang cepat dan tidak berbelit-belit juga disiapkan untuk mempercepat penggunaan energi hijau.

RUPTL PT PLN 2025-2034

Peta jalan atau roadmap pengembangan sistem kelistrikan nasional telah disusun melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2025-2034. Dalam RUPTL tersebut, pemerintah menargetkan penambahan pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW) dengan porsi EBT mencapai 76%.

Perinciannya, dari pembangkit tenaga surya sebesar 17,1 GW, tenaga air 11,7 GW, panas bumi 5,2 GW, bioenergi 0,9 GW, dan energi nuklir 0,5 GW. Pembangkit hijau tersebut juga ditopang oleh sistem penyimpanan energi sebesar 10,3 GW yang terdiri atas pumped storage dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sebesar 6 GW, dan battery energy storage system (BESS) 4,3 GW.

Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo menyampaikan, dalam perencanaan infrastruktur ketenagalistrikan pada RUPTL 2025-2035, PLN memperhatian secara komprehensif lima elemen sustainability yang menjadi fokus pemerintah Indonesia, yakni energy security, environmental sustainability, electricity system sustainability, corporate financial sustainability, dan fiscal sustainability.

Darmawan menegaskan, kolaborasi antara PLN dan pihak swasta menjadi kunci dalam mewujudkan target energi berkelanjutan yang tercantum dalam RUPTL. Menurutnya, kerja sama ini bukan hanya untuk memperkuat kedaulatan energi nasional, tetapi juga berperan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"PLN siap menjalankan arahan pemerintah untuk bergotong royong mengeksekusi RUPTL 2025-2034 untuk mendukung tercapainya swasembada energi yang berkeadilan dan pertumbuhan ekonomi 8%," kata Darmawan Prasodjo dalam acara Diseminasi Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan RUPTL PT PLN (Persero) 2025-2034, di Jakarta, Senin (2/6/2025).

Transformasi Sistem Energi: Dari Hulu ke Hilir

Transisi menuju energi hijau dilakukan dari hulu hingga hilir. Di sisi hulu, berbagai potensi energi baru terbarukan yang melimpah terus dieksplorasi. Pada pertengahan 2025, Presiden Prabowo telah meresmikan 55 proyek EBT di 15 provinsi secara serentak. Proyek tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian ESDM, PLN, dan sektor swasta. Di antaranya, terdapat delapan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan 47 PLTS, dengan total kapasitas mencapai 379,7 MW.

Sementara itu di hilir, hasil energi bersih dari berbagai pembangkit dialirkan ke berbagai sektor kehidupan melalui proses elektrifikasi, pengolahan, dan distribusi yang semakin efisien.

Pemerintah juga terus mempercepat transisi menuju energi bersih melalui elektrifikasi lintas sektor. Peralihan kendaraan konvensional ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV) saat ini sudah kian diminati karena lebih hemat dan efisien. Program konversi kompor LPG ke kompor induksi juga mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Seperti pengakuan Riskawati, ibu rumah tangga yang tinggal di Cijantung, Jakarta Timur. 

"Pakai kompor induksi jauh lebih hemat dibandingkan pakai kompor LPG. Lebih praktis juga, tinggal colok saja," kata Riskawati, Sabtu (18/10/2025). 

Elektrifikasi juga menyentuh dunia industri. Salah satu contohnya di Kalimantan Utara, kawasan industri hijau (green industrial estate) telah beroperasi dengan pasokan listrik dari tenaga air dan tenaga surya.

Integrasi Teknologi Pintar

Integrasi teknologi pintar juga menjadi bagian penting dalam akselerasi energi hijau. PLN menjadi pelopor digitalisasi sistem ini melalui pengembangan digital power plant hingga smart grid. PLN juga berkomitmen menjalankan arahan pemerintah untuk membangun green super grid atau jaringan transmisi hijau skala luas sepanjang 47.758 kilometer sirkuit (kms) dalam RUPTL 2025-2034.

Darmawan menyampaikan, infrastruktur strategis ini dirancang sebagai tulang punggung penyaluran listrik dari sumber EBT yang umumnya berada di daerah terpencil, menuju pusat-pusat kebutuhan listrik yang tinggi seperti kawasan industri, kota-kota besar, dan wilayah padat penduduk di seluruh Indonesia.

"Green super grid tidak hanya mampu menghadirkan energi hijau yang ramah lingkungan, tetapi juga mampu mewujudkan swasembada energi yang berbasis kekuatan lokal,” kata Darmawan.

Selain transmisi, PLN juga akan membangun gardu induk dengan kapasitas total mencapai 107.950 megavolt ampere (MVA). Untuk mengatasi intermitensi dari variable renewable energy (VRE) akibat cuaca, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), PLN merancang smart grid, yakni sistem kelistrikan modern yang memanfaatkan komunikasi dan informasi dua arah, sehingga lebih fleksibel, responsif, dan dapat memanfaatkan energi secara lebih optimal.

”Tidak ada transisi energi tanpa transmisi. Oleh karena itu, arahan pemerintah untuk membangun green super grid akan kami jalankan dengan sungguh-sungguh," tegas Darmawan.

Kolaborasi Menuju Masa Depan Hijau

Akselerasi energi hijau di Indonesia kini memasuki babak penting. Namun, perjalanan ini bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan besarnya adalah tingginya kebutuhan investasi. Dalam RUPTL 2025-2034, total kebutuhan investasi mencapai US$ 188 miliar atau sekitar Rp 3.000 triliun. 

Meski begitu, berbagai solusi telah dijalankan. Mulai dari pembiayaan hijau (green finance), kerja sama internasional, hingga keterlibatan aktif sektor swasta dan masyarakat. 

"Tantangan investasi ini luar biasa. Jadi kita sekarang mendorong semua orang untuk berpartisipasi, untuk menggerakkan investasi subsektor EBTKE (energi baru, terbarukan, dan konservasi energi)," kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, dalam forum diskusi "Energi Bersih untuk Kedaulatan Energi Nasional" di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (26/5/2025).

Menjawab tantangan ini, PLN berkomitmen menciptakan ekosistem investasi yang kondusif agar sektor swasta dapat berperan optimal dalam mendukung transisi energi hijau.

“Tidak mungkin PLN menjalankan tugas ini sendirian. Satu-satunya cara untuk melangkah maju adalah melalui kolaborasi. Ini memang sebuah tantangan, tetapi sekaligus menjadi peluang bagi kita semua untuk bergerak maju secara bersama dan seirama. Kita menyatukan langkah, menyelaraskan visi, dan menghadapi masa depan dengan semangat yang sama," tegas Darmawan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Penerapan Biodiesel B50 Berpotensi Buka 2,5 Juta Lapangan Kerja

Penerapan Biodiesel B50 Berpotensi Buka 2,5 Juta Lapangan Kerja

EKONOMI
Dorong Pengembangan Energi Hijau, Pemda Bengkulu Dukung PLN Kembangkan PLTP Hululais dan Kepahiang

Dorong Pengembangan Energi Hijau, Pemda Bengkulu Dukung PLN Kembangkan PLTP Hululais dan Kepahiang

EKONOMI
Transisi EBT Penting tetapi Tak Boleh Mahal

Transisi EBT Penting tetapi Tak Boleh Mahal

EKONOMI
Kementerian ESDM Catat Bauran EBT Indonesia Capai 16 Persen

Kementerian ESDM Catat Bauran EBT Indonesia Capai 16 Persen

EKONOMI
Peran Masyarakat Ulubelu pada Ekosistem Hidrogen Hijau Pertamina

Peran Masyarakat Ulubelu pada Ekosistem Hidrogen Hijau Pertamina

EKONOMI
Gelar Program Jejak Keberlanjutan, Pertamina Dorong Dekarbonisasi dan Sustainability

Gelar Program Jejak Keberlanjutan, Pertamina Dorong Dekarbonisasi dan Sustainability

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon