Impor Pakaian Bekas Naik 51.328 Persen dalam 3 Tahun
Kamis, 6 November 2025 | 23:23 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan bahwa impor pakaian bekas mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dari hanya 7 ton pada 2021 menjadi 3.600 ton pada 2024 atau sekira 51.328%.
“Data tahun 2021, impor barang-barang bekas, baju-baju bekas itu hanya 7 ton per tahun. 2022 naik 12 ton, 2023 tetap 12 ton, dan 2024 mencapai 3.600 ton,” ujar Maman kepada awak media di Main Atrium Lippo Mall Nusantara, Jakarta Selatan, Kamis (6/11/2025).
Berdasarkan catatannya, hingga Agustus 2025 jumlah impor pakaian bekas telah mencapai sekitar 1.800 ton. Menurutnya, kondisi tersebut membuat persaingan di pasar tekstil semakin tidak seimbang dan merugikan pelaku usaha dalam negeri.
Maman menegaskan bahwa penghentian impor pakaian bekas harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir. Pada sisi hulu, ia menilai pengetatan harus dimulai dari prosedur bea cukai. “Hulunya harus ditutup dahulu. Sebaik apa pun pendampingan yang diberikan kepada UMKM, kalau alur hulunya masih terbuka, enggak akan mungkin bisa dihentikan,” katanya.
Adapun pada sisi hilir, pemerintah memberikan pendampingan bagi pelaku UMKM untuk menyediakan barang pengganti sehingga mereka tidak lagi bergantung pada penjualan barang thrifting atau pakaian bekas impor.
Langkah ini juga menjadi tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar para pelaku UMKM, termasuk pedagang thrifting, tidak kehilangan mata pencaharian ketika pengetatan kebijakan diterapkan. “Kami kumpulkan asosiasi, produsen lokal, kami dorong mereka untuk substitusi menggantikan produk-produk barang bekas itu,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah tidak hanya menutup jalur impor ilegal, tetapi juga memberikan alternatif usaha yang tetap berkelanjutan bagi pelaku di lapangan. “Tak hanya menutup di hulunya saja, kami juga mencari solusi supaya mereka tetap bisa berdagang,” kata Maman.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Perdagangan mencatat bahwa nilai impor kategori tekstil jadi, pakaian bekas, dan gombal pada Januari–Juli 2025 mencapai US$ 78,19 juta.
Nilai tersebut naik 17,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Negara pemasok utama meliputi China, Vietnam, Bangladesh, Taiwan, dan Singapura.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Aniaya Warga hingga Tewas, 3 Sekuriti PT Agrinas Palma Jadi Tersangka




