Manuver Bea Cukai setelah Berkali-kali Diancam Menkeu Purbaya
Jumat, 12 Desember 2025 | 18:25 WIB
“Kami ingin memastikan informasi dan layanan kepabeanan serta cukai dapat diakses publik dengan lebih mudah dan terpercaya,” ujarnya saat media briefing, Rabu (10/12/2025).
Nirwala mengakui bahwa pembaruan situs ini juga menjadi langkah awal pembenahan setelah peringatan Menkeu Purbuaya. Ia menyebut perubahan tersebut sekaligus menjadi motivasi internal.
“Bisa dikatakan seperti itu (langkah awal pembenahan), jadi kami mengubah wajah yang baru. Peringatan dari Pak Purbaya itu merupakan tantangan dan cambuk bagi kami untuk menjadi lebih baik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa seluruh fitur dalam situs baru ini dirancang lebih mobile-friendly dan terintegrasi agar publik dapat mengakses berbagai layanan kepabeanan dalam satu portal digital.
Selain pembaruan antarmuka, struktur konten juga diperkuat dengan optimasi SEO sehingga informasi Bea Cukai lebih mudah ditemukan.
“Melalui penguatan komunikasi publik dan layanan digital di website ini, kami ingin menghadirkan pengalaman yang transparan, adaptif, dan solutif bagi seluruh pengguna jasa,” jelas Nirwala.
Pemindai Peti Kemas Berbasis AI Mulai Beroperasi
Terbau, Bea Cukai juga meresmikan pemindai peti kemas baru di Terminal 3 dan Terminal Mustika Alam Lestari, Pelabuhan Tanjung Priok, pada Jumat (12/12/2025).
Peralatan ini menjadi bagian dari langkah modernisasi agar pengawasan semakin ketat dan celah penyelundupan dapat ditutup.
“Dahulu urusan Bea Cukai bikin deg-degan, sekarang yang deg-degan justru oknum penyelundup,” ujar Purbaya dalam sambutannya.
Pemindai tersebut dilengkapi teknologi Radiation Portal Monitor yang memungkinkan petugas mendeteksi bahan berbahaya, termasuk material radioaktif, tanpa membuka kontainer.
Purbaya menyebut proses pemeriksaan kini lebih cepat dan efisien. “Pemeriksaannya cepat, akurat, aman, dampaknya langsung,” tambahnya.
Selain pemindai fisik, Bea Cukai juga mengenalkan SSR Mobile dan Trade AI, dua inovasi yang dikembangkan secara internal dalam dua minggu terakhir.

Sistem kecerdasan buatan tersebut mampu membaca indikasi under-invoicing, over-invoicing, hingga potensi pencucian uang secara otomatis.
“Trade AI ini baru dikembangkan dua minggu. Tadinya saya pikir beli, ternyata bikin sendiri. Jadi orang Bea Cukai cukup pinter, tinggal digebukin aja. Gebuk-gebuk, dua minggu keluar,” ucap Purbaya disambut tawa.
Trade AI telah diuji pada ratusan PIB dan berhasil memetakan potensi kekurangan bayar miliaran rupiah. Purbaya menilai sistem ini dapat mengubah citra Bea Cukai yang sebelumnya dianggap lambat dan rawan penyimpangan.
“Dahulu pelayanan Bea Cukai dinilai lambat, sekarang malah AI-nya yang diminta jangan terlalu cepat,” katanya.
Ia berharap integrasi pemindai baru dengan teknologi digital dapat meningkatkan efektivitas sekaligus memperbaiki reputasi instansi tersebut.
Menurutnya, penggunaan data dan otomatisasi membuat pengawasan lebih adaptif, transparan, dan terukur. “Dengan pemindai baru, dengan SSR Mobile, dengan Trade AI, pengawasan kepabeanan kita menjadi naik kelas,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




