Manuver Bea Cukai setelah Berkali-kali Diancam Menkeu Purbaya
Jumat, 12 Desember 2025 | 18:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) atau Bea Cukai berbenah setelah mendapat peringatan dan ancaman pembekuan dari Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Beberapa langkah awal Bea Cukai, yakni dengan membuat laman website canggih dan meresmikan mesin cerdas pemindai peti kemas di pelabuhan.
Manuver Bea Cukai ini terjadi setelah ancaman pembekuan Bea Cukai oleh Purbaya, dengan menonaktifkan 16.000 karyawan hingga dialihkan ke perusahaan Swiss, yakni Société Générale de Surveillance (SGS).
Purbaya Berkali-kali Sebut Pembekuan Bea Cukai
Purbaya saat itu melontarkan peringatan tegas kepada Bea Cukai. Ia menilai memburuknya pengawasan di lapangan telah mengganggu penerimaan negara dan menunjukkan persoalan integritas yang serius.
Pada rapat di DPR, Kamis (27/11/2025), Purbaya menyampaikan bahwa Bea Cukai harus segera berbenah. Ia mengingatkan sejarah ketika kewenangan lembaga di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu pernah dialihkan kepada Societe Generale de Surveillance (SGS), perusahaan asal Swiss seperti pada era Orde Baru karena marak praktik korupsi.
“Kalau Bea Cukai enggak bisa memperbaiki kinerjanya dan masyarakat masih tidak puas, Bea Cukai bisa dibubarkan diganti dengan SGS, seperti zaman dahulu lagi,” ujarnya.
Ancaman tersebut bukan yang pertama kali diucapkan mantan kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut. Pada Rapimnas Kadin 2025, Purbaya juga menyoroti persoalan integritas yang merembet ke dunia usaha dan menegaskan bahwa pemerintah tidak ragu mengambil tindakan ekstrem apabila perbaikan tidak berjalan.
“Kalau memang tidak bisa perform, ya kita bekukan dan betul-betul beku,” katanya.
Kemudian, pada rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada Senin (8/12/2025), Purbaya mengulangi ultimatum tersebut. Ia meminta Bea Cukai secara serius menindak praktik under invoicing serta penyimpangan lain yang merugikan negara.
“Saya bilang ke mereka (Bea Cukai), kalau Anda enggak bisa perbaiki dalam waktu setahun, ada kemungkinan besar Bea Cukai akan dirumahkan seluruh pegawainya,” tegasnya.
Namun, Purbaya mengaku telah meminta waktu satu tahun kepada Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan reformasi total di lingkungan Bea Cukai.
Saat ini, sekitar 16.000 pegawai berpotensi dirumahkan apabila pembenahan tidak menunjukkan hasil. Ia menambahkan bahwa ancaman tersebut bukan sekadar formalitas.
Respons Bea Cukai: Janji Berbenah
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama memastikan pihaknya berkomitmen memperbaiki pelayanan, pengawasan, dan budaya kerja internal. Ia mengatakan bahwa pihaknya terus mengupayakan peningkatan kinerja.
“Yang pasti, Bea Cukai ke depan akan berupaya untuk lebih baik,” ujarnya.
Djaka menyebut salah satu fokus utama adalah pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi under invoicing. Ia optimistis pembaruan menyeluruh dapat tercapai dalam waktu satu tahun sesuai target Purbaya.
Transformasi Digital Bea Cukai dengan Peluncuran Website Baru
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai meluncurkan tampilan baru www.beacukai.go.id, sebagai bagian dari transformasi digital pelayanan kepabeanan dan cukai.
Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Nirwala Dwi Heryanto, menjelaskan bahwa pembaruan tersebut membawa pengalaman digital yang lebih cepat dan responsif.
“Kami ingin memastikan informasi dan layanan kepabeanan serta cukai dapat diakses publik dengan lebih mudah dan terpercaya,” ujarnya saat media briefing, Rabu (10/12/2025).
Nirwala mengakui bahwa pembaruan situs ini juga menjadi langkah awal pembenahan setelah peringatan Menkeu Purbuaya. Ia menyebut perubahan tersebut sekaligus menjadi motivasi internal.
“Bisa dikatakan seperti itu (langkah awal pembenahan), jadi kami mengubah wajah yang baru. Peringatan dari Pak Purbaya itu merupakan tantangan dan cambuk bagi kami untuk menjadi lebih baik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa seluruh fitur dalam situs baru ini dirancang lebih mobile-friendly dan terintegrasi agar publik dapat mengakses berbagai layanan kepabeanan dalam satu portal digital.
Selain pembaruan antarmuka, struktur konten juga diperkuat dengan optimasi SEO sehingga informasi Bea Cukai lebih mudah ditemukan.
“Melalui penguatan komunikasi publik dan layanan digital di website ini, kami ingin menghadirkan pengalaman yang transparan, adaptif, dan solutif bagi seluruh pengguna jasa,” jelas Nirwala.
Pemindai Peti Kemas Berbasis AI Mulai Beroperasi
Terbau, Bea Cukai juga meresmikan pemindai peti kemas baru di Terminal 3 dan Terminal Mustika Alam Lestari, Pelabuhan Tanjung Priok, pada Jumat (12/12/2025).
Peralatan ini menjadi bagian dari langkah modernisasi agar pengawasan semakin ketat dan celah penyelundupan dapat ditutup.
“Dahulu urusan Bea Cukai bikin deg-degan, sekarang yang deg-degan justru oknum penyelundup,” ujar Purbaya dalam sambutannya.
Pemindai tersebut dilengkapi teknologi Radiation Portal Monitor yang memungkinkan petugas mendeteksi bahan berbahaya, termasuk material radioaktif, tanpa membuka kontainer.
Purbaya menyebut proses pemeriksaan kini lebih cepat dan efisien. “Pemeriksaannya cepat, akurat, aman, dampaknya langsung,” tambahnya.
Selain pemindai fisik, Bea Cukai juga mengenalkan SSR Mobile dan Trade AI, dua inovasi yang dikembangkan secara internal dalam dua minggu terakhir.

Sistem kecerdasan buatan tersebut mampu membaca indikasi under-invoicing, over-invoicing, hingga potensi pencucian uang secara otomatis.
“Trade AI ini baru dikembangkan dua minggu. Tadinya saya pikir beli, ternyata bikin sendiri. Jadi orang Bea Cukai cukup pinter, tinggal digebukin aja. Gebuk-gebuk, dua minggu keluar,” ucap Purbaya disambut tawa.
Trade AI telah diuji pada ratusan PIB dan berhasil memetakan potensi kekurangan bayar miliaran rupiah. Purbaya menilai sistem ini dapat mengubah citra Bea Cukai yang sebelumnya dianggap lambat dan rawan penyimpangan.
“Dahulu pelayanan Bea Cukai dinilai lambat, sekarang malah AI-nya yang diminta jangan terlalu cepat,” katanya.
Ia berharap integrasi pemindai baru dengan teknologi digital dapat meningkatkan efektivitas sekaligus memperbaiki reputasi instansi tersebut.
Menurutnya, penggunaan data dan otomatisasi membuat pengawasan lebih adaptif, transparan, dan terukur. “Dengan pemindai baru, dengan SSR Mobile, dengan Trade AI, pengawasan kepabeanan kita menjadi naik kelas,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




