ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

HSBC Nilai Tak Perlu Khawatir Berlebihan Soal Defisit Fiskal Indonesia

Senin, 12 Januari 2026 | 17:22 WIB
AH
AD
Penulis: Akmalal Hamdhi | Editor: AD
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari (Beritasatu.com/Akmalal Hamdhi)

Jakarta, Beritasatu.com - HSBC Global Research menilai defisit fiskal Indonesia sebesar 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2025 masih berada dalam batas aman dan diperkirakan akan membaik pada 2026.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari mengatakan, lonjakan defisit fiskal pada 2025 terutama disebabkan oleh lemahnya pertumbuhan PDB nominal yang berdampak pada penerimaan pajak.

Pada saat yang sama, pemerintah juga meningkatkan belanja melalui peluncuran sejumlah program kesejahteraan sosial baru, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

ADVERTISEMENT

“Kombinasi antara penerimaan yang rendah dan belanja yang meningkat inilah yang mendorong kenaikan defisit fiskal,” ujar Pranjul dalam media briefing HSBC secara daring, Senin (12/1/2026).

Ia menjelaskan, perhatian investor terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kembali menguat setelah realisasi defisit fiskal 2025 tercatat sebesar 2,9% dari PDB. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan proyeksi awal yang berada di kisaran 2,5%, sebelum direvisi menjadi 2,7%.

“Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa pada 2026, target atau batas defisit 3% berpotensi terlampaui,” kata Pranjul.

Namun, ia menilai kondisi fiskal pada 2026 berpeluang membaik seiring potensi peningkatan pertumbuhan PDB nominal. Dengan perbaikan tersebut, penerimaan pajak juga diperkirakan meningkat sehingga mampu mendukung pembiayaan berbagai program kesejahteraan sosial.

“Pertumbuhan PDB nominal berpeluang membaik pada 2026, dan ini akan membantu meningkatkan penerimaan pajak,” imbuhnya.

Pranjul juga menilai tekanan belanja dari program MBG kemungkinan akan berkurang secara bertahap. Pasalnya, pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa program pangan gratis umumnya tidak terealisasi secepat dan seluas rencana awal.

“Biasanya program seperti ini dimulai dengan ambisi besar, tetapi seiring waktu implementasinya cenderung berjalan lebih lambat dan cakupannya menjadi lebih terbatas,” jelasnya.

Ia mencontohkan, pola serupa terjadi di sejumlah negara Asia seperti India, Amerika Selatan seperti Brasil, hingga Eropa seperti Prancis. Meski program pangan gratis tetap berjalan, dampaknya terhadap defisit fiskal relatif terkendali dan tidak sampai menyebabkan defisit fiskal yang sangat berlebihan.

Selain itu, Pranjul juga menyinggung pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang hingga kini masih menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah batas 3% dari PDB. Sejauh ini, ia meyakini komitmen Menkeu Purbaya tersebut.

"Menkeu masih menyampaikan komitmen untuk tetap berpegang pada batas defisit 3%. Jadi, untuk saat ini, saya cenderung berpegang pada pernyataan tersebut," tandas Pranjul.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Rupiah Semakin Dekati Rp 19.000, Tekanan Domestik Jadi Sorotan

Rupiah Semakin Dekati Rp 19.000, Tekanan Domestik Jadi Sorotan

EKONOMI
Purbaya Optimistis Ekonomi RI Bisa Tumbuh 6,5 Persen pada 2027

Purbaya Optimistis Ekonomi RI Bisa Tumbuh 6,5 Persen pada 2027

EKONOMI
Indef: Optimisme Fiskal Harus Diiringi Konsolidasi Nyata

Indef: Optimisme Fiskal Harus Diiringi Konsolidasi Nyata

EKONOMI
Indef Ingatkan Risiko Defisit APBN Melebihi 3 Persen

Indef Ingatkan Risiko Defisit APBN Melebihi 3 Persen

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon