Bapanas Kumpulkan Stakeholder Perkuat Stabilisasi Harga Cabai
Minggu, 15 Februari 2026 | 16:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumpulkan para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk memperkuat stabilisasi harga dan pasokan cabai rawit merah. Langkah ini dilakukan menyusul dinamika harga cabai yang terjadi di sejumlah daerah, terutama di wilayah Jakarta
Rapat Koordinasi (Rakor) Stabilisasi Cabai digelar secara daring pada Minggu (15/2/2026). Rakor tersebut melibatkan champion petani cabai dari Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan, pedagang cabai Jakarta, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan Jakarta, serta Satgas Pangan Polri.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menegaskan, pengendalian harga cabai harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Sentra produksi yang sedang panen perlu segera terhubung dengan pasar konsumsi agar lonjakan harga dapat ditekan.
“Cabai adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap pasokan harian. Karena itu, penguatan distribusi dari sentra panen ke pasar utama harus kita percepat melalui koordinasi lintas daerah dan lintas kementerian,” ujar Ketut dalam Rakor tersebut.
Ia menambahkan, pemerintah tetap memberi ruang keuntungan yang wajar bagi petani. Namun, harga di tingkat produsen maupun konsumen harus tetap dalam batas wajar. Apabila terjadi ketidakseimbangan, intervensi stabilisasi perlu dilakukan agar hulu dan hilir tetap terjaga.
Berdasarkan Panel Harga Pangan per 14 Februari 2026, harga cabai rawit merah di tingkat produsen rata-rata nasional mencapai Rp 56.383 per kilogram (kg). Sementara di tingkat konsumen rata-rata nasional sebesar Rp 73.339 per kg. Disparitas harga antarwilayah menjadi perhatian utama dalam upaya distribusi.
“Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya menunggu setelah Imlek atau beberapa minggu ke depan. Langkah distribusi harus segera dijalankan. Untuk itu, fasilitasi distribusi pangan (FDP) dari daerah sentra di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Jawa Barat ke Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta harus dilakukan untuk menekan biaya logistik dan menjaga keterjangkauan harga, sehingga kita bisa pastikan harga cabai mengalami tren penurunan,” katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




