Cabai Meroket Jelang Ramadan, Cuaca dan Distribusi Jadi Biang Keladi
Kamis, 19 Februari 2026 | 05:55 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Menjelang Ramadan 2026, harga cabai kembali menjadi sorotan. Di sejumlah daerah, terutama di pasar tradisional, harga cabai rawit merah melonjak tajam hingga menembus Rp 120.000 per kilogram (kg).
Lonjakan ini memicu kekhawatiran masyarakat, meski pemerintah memastikan kondisi pasokan secara nasional masih terkendali.
Kenaikan harga cabai sebenarnya tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah. Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) mencatat harga cabai merah keriting secara nasional per 18 Februari 2026 berada di level Rp 45.656 per kg.
Angka ini meningkat dibandingkan 2 Februari 2026 yang masih Rp 38.414 per kg. Sementara itu, cabai rawit merah yang sebelumnya Rp 60.080 per kg naik menjadi Rp 77.739 per kg.
Meski secara rata-rata nasional masih di bawah level ekstrem, di lapangan situasinya berbeda. Pantauan di Pasar Palmerah, Jakarta, Senin (16/2/2026), menunjukkan harga cabai rawit merah melonjak dari Rp 80.000 menjadi Rp 120.000 per kg hanya dalam hitungan hari.
Suyatmi, pedagang bahan dapur di pasar tersebut, mengaku kenaikan harga cabai rawit hampir selalu terjadi menjelang Ramadan. “Kalau mau puasa itu biasanya yang naik cabai rawit. Sekarang dari Rp 80.000 jadi Rp 120.000 per kilogram,” ujarnya.
Tak hanya cabai rawit merah, cabai keriting juga naik dari Rp 60.000 menjadi Rp 80.000 per kg. Harga bawang merah meningkat dari Rp 40.000 menjadi Rp 60.000 per kg, sedangkan bawang putih melonjak dari Rp 35.000 menjadi Rp 50.000 per kg.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada perilaku belanja masyarakat. Menurut Suyatmi, banyak pembeli mengurangi jumlah pembelian untuk menyesuaikan anggaran.
“Yang biasanya belanja cabai rawit merah seperempat kilogram, sekarang jadinya satu ons. Satu ons sudah Rp 10.000. Kalau biasanya satu ons itu Rp 4.000,” katanya.
Cuaca dan Distribusi Terganggu
Pemerintah menilai lonjakan harga cabai bukan disebabkan turunnya produksi secara drastis, melainkan gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menjelaskan intensitas hujan tinggi menjadi faktor utama penghambat distribusi dari sentra produksi ke pasar.
“Sebenarnya panennya atau produknya ada banyak, cuma karena terganggu hujan sehingga distribusinya tidak berjalan dengan baik,” kata Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Ia menegaskan secara nasional harga masih relatif terkendali. “Cabai merah di bawah harga eceran tertinggi secara nasional. Cabai rawit naik sedikit,” ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




