RI Sepakat Beli Minyak AS, ESDM Pastikan Tetap Stop Impor Solar
Jumat, 20 Februari 2026 | 16:21 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Indonesia telah menyepakati perjanjian kerja sama perdagangan dengan Amerika Serikat, salah satu komoditas yang akan diimpor yakni minyak dan gas. Padahal, sebelumnya Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menegaskan tahun ini akan menghentikan impor produk minyak, khususnya solar.
Adanya hal tersebut, Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengungkapkan, pemerintah menegaskan untuk produk solar tetap diupayakan tidak melakukan pengadaan melalui skema impor.
Khusus kerja sama perdagangan produk minyak dan turunannya dengan AS, Indonesia hanya akan melakukan pembelian minyak mentah atau crude oil, serta produk bahan bakar minyak (BBM). Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan neraca dagang dengan AS.
"Kita mengedepankan kemandirian energi sesuai komitmen Pak Menteri untuk setop impor solar tetap jalan. Ini satu hal yang berbeda, karena ini kesepakatan untuk perdagangan kita," ungkap Dwi Anggia saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Pada kesempatan yang sama, Dwi Anggi juga menyebut bahwa Amerika Serikat tertarik pada investasi pengembangan sektor mineral kritis di Tanah Air.
"Terkait (mineral kritis) itu lebih ke kerja sama di bidang investasi, mereka akan berinvestasi di Indonesia untuk detailnya saya belum sampai ke sana," pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani mengungkapkan pihaknya melakukan pembicaraan lanjutan dengan pihak Amerika Serikat perihal tindak lanjut kerjasama perdagangan sejumlah produk.
Hal ini diungkapkan Rosan dalam konferensi pers Penandatanganan agreement of reciprocal trade Indonesia-AS secara daring, Jumat (20/2/2026).
Rosan membeberkan perihal rencana pembelian komoditas energi yakni crude oil alias minyak mentah serta gas dari AS. Rencana besaran impor komoditas ini bakal mencapai US$ 15 miliar. Jika dikonversi ke dalam rupiah, angka tersebut setara Rp 253,3 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.887 per dolar AS.
Di luar kesepakatan perdagangan, Rosan juga membeberkan pihak AS berencana menggelontorkan investasinya ke dalam negeri. Adapun salah satu sektor yang diminati AS yakni sektor minyak dan gas.
"Di bidang investasi kita juga sudah memulai pembicaraan adanya beberapa kemungkinan investasi di beberapa bidang. Baik itu di bidang oil and gas maupun di bidang lainnya," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




