WOW Brand 2026 Soroti Humanisasi Brand di Era AI, Dorong Integrasi Teknologi dan Nilai Kemanusiaan
Kamis, 16 April 2026 | 21:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Seminar brand tahunan WOW Brand 2026 kembali digelar sebagai wadah bagi pelaku industri untuk membahas perkembangan strategi branding di tengah pesatnya transformasi teknologi. Mengusung tema “Branding in the Age of AI”, ajang ini menyoroti pentingnya keseimbangan antara pemanfaatan kecerdasan buatan dan nilai-nilai kemanusiaan dalam membangun merek di era digital.
Al membuat banyak hal jadi lebih cepat, lebih presisi, dan lebih terukur. Namun percepatan ini juga menuntut brand untuk tetap menjaga koneksi emosional dan sisi manusiawi dalam setiap interaksi dengan konsumen. Dalam forum ini, arah baru branding di era Al juga diperkuat melalui pemaparan konsep terbaru dari buku Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketeers in the Age of Al yang baru saja dirilis secara global pada 7 April 2026 di Amerika Serikat. Buku ini merupakan bagian terbaru dari seri Marketing X.0 yang membahas bagaimana marketer perlu beradaptasi di tengah peran Al yang semakin dominan.
BACA JUGA
Semarang Gelar Karnaval Paskah 2026 dengan Harmoni, Kreativitas, dan Pengaturan Lalu Lintas Khusus
Dalam sesi pembuka, COO MCorp, Iwan Setiawan, menekankan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusia agar merek tidak kehilangan relevansi. Sebagai salah satu penulis buku Marketing 7.0, Iwan menyoroti tantangan autentisitas di mana otak manusia modern kini telah mengembangkan kemampuan penyaringan agresif terhadap konten yang terasa terlalu kaku.
"Otak manusia modern sudah punya aggressive filtering. Begitu melihat sesuatu yang bernuansa iklan atau terlalu 'rapi', kita otomatis mengabaikannya. Merek yang mau menunjukkan apa adanya dirinya, lengkap dengan kekurangan dan kelemahannya, justru itulah yang paling sukses di media sosial," ujar Iwan pada Kamis, (16/4/2026) di The Ballroom, Djakarta Theater.
Lebih lanjut, Iwan memaparkan bahwa meskipun Al sangat unggul dalam mengolah data, teknologi ini tetap memiliki batasan dalam menciptakan karakter merek yang unik. la memperingatkan bahwa Al cenderung memberikan hasil yang normatif sehingga berisiko membuat merek kehilangan identitasnya.
"Al itu adalah sosok generalis, dia tahu segala hal tapi dia tidak bisa jadi spesialis karena dia tidak punya bias. Branding itu butuh bias, butuh keberanian mengambil posisi unik. Jika strategi branding hanya diserahkan pada Al, hasilnya akan sangat aman (safe), dan kita berakhir menjadi brand yang rata-rata," tutur Iwan menjelaskan batasan peran teknologi dalam strategi kreatif.
Rangkaian acara ini menghadirkan dua sesi panel diskusi yang menyoroti peran krusial teknologi dan kemanusiaan dalam pemasaran modern. Sesi panel pertama mengangkat topik "Being More Human in the Age of Al", yang membahas pentingnya aspek kemanusiaan sebagai diferensiasi utama brand di tengah arus otomatisasi. Diskusi ini menekankan bahwa branding yang kreatif, otentik, dan berkelanjutan tetap menjadi kunci agar sebuah merek tetap relevan secara emosional di mata konsumen.
Selanjutnya, sesi panel kedua yang bertajuk "Being More Advanced in the Age of Al" mengeksplorasi strategi data-driven branding, penguatan brand experience, serta teknik bercerita (storytelling) berbasis teknologi untuk memenangkan pasar.
Diskusi mendalam pada kedua sesi ini menghadirkan para pakar dan praktisi dari berbagai industri yang telah terbukti sukses membangun reputasi brand mereka, antara lain Irsan Yapto, CEO & Founder Link Group; Yudi Sadono, Senior Vice President Marketing PT Pegadaian; Norisa Saifuddin, EVP Transaction Banking Business Development BCA; Nur Hidayat Dwi Santoso, GM Brand Strategy Management Telkomsel; Febri Satria Hutama, Marketing Director Le Minerale; serta Edward Tirtanata, Founder & CEO Kopi Kenangan.
Sebagai penutup, Hermawan Kartajaya, Founder and Chair of MCorp menegaskan bahwa di tengah pesatnya adopsi Al, peran manusia justru semakin krusial dalam menjaga arah dan diferensiasi brand.
"Sekarang semua orang bilang kalau tidak menggunakan Al akan kalah dari kompetitor, tetapi jangan sampai semuanya diserahkan pada Al. Keputusan tetap harus diambil oleh manusia," tegas Hermawan.
Hermawan menambahkan bahwa pelajaran utama dalam marketing saat ini kembali pada prinsip dasar PDB (Positioning, Differentiation, Branding).
"Dalam marketing, kita tidak harus menjadi yang terbaik, tetapi harus menjadi berbeda. Al bisa membantu mempercepat, tetapi positioning dan diferensiasi tetap harus datang dari cara berpikir manusia. Di sinilah peran augmented human menjadi kunci," pungkasnya.
WOW Brand 2026 menegaskan komitmennya untuk terus menjadi platform strategis bagi para pelaku industri dalam memahami dinamika branding yang kian berkembang. Melalui kolaborasi lintas sektor dan pertukaran wawasan yang relevan, forum ini diharapkan dapat mendorong lahirnya strategi branding yang tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga berakar pada nilai dan kedekatan dengan konsumen.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




