Tumbuh 31,4 Persen, Belanja APBN Kuartal I 2026 Capai Rp 815 T
Senin, 27 April 2026 | 18:58 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan realisasi belanja negara pada kuartal I 2026 mencapai Rp 815 triliun, meningkat 31,4% secara tahunan.
Percepatan belanja tersebut dinilai turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada periode Januari-Maret 2026 yang diperkirakan berada di kisaran 5,5%.
Juda menjelaskan, hingga akhir Maret 2026, realisasi belanja telah mencapai 21,2% dari total pagu APBN. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pada triwulan I ini, belanja itu sudah mencapai 21,2% dari APBN. Bandingkan dengan tahun lalu, dengan itu belanja hanya 17,1% dan growth-nya hanya 1,4%,” ujar Juda dalam agenda Kick Off Pinisi di kantor pusat Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026).
Secara rinci, belanja pemerintah pusat pada triwulan I 2026 tercatat Rp 610,3 triliun atau 19,4% dari target APBN 2026, tumbuh 47,7% secara tahunan. Sementara itu, transfer ke daerah mencapai Rp 204,8 triliun atau 29,5% dari target, namun turun 1,1%.
Dari sisi pendapatan, penerimaan negara mencapai Rp 574,9 triliun atau tumbuh 10,5% secara tahunan. Penerimaan perpajakan menyumbang Rp 462,7 triliun atau 16,7% dari target APBN 2026, dengan pertumbuhan 20,7%.
Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN pada kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Juda menuturkan, percepatan belanja ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mengubah pola penyerapan anggaran. Belanja negara kini didorong lebih merata sejak awal tahun agar dampaknya terhadap perekonomian bisa lebih cepat dirasakan.
“Pada triwulan I sudah 21%, triwulan II ditargetkan 26%, dan berikutnya juga sekitar 26%. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi itu merata, cepat, dan terjadi di tahun yang sama,” jelasnya.
Dari sisi konsumsi, indikasi positif masih terlihat. Data mandiri spending index (MSI) menunjukkan peningkatan belanja pada sektor barang konsumsi dan elektronik, serta tingkat keyakinan konsumen yang tetap kuat.
Selain itu, penerimaan dari pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) tumbuh signifikan sebesar 57,7% menjadi Rp 155,6 triliun.
Namun, Juda mengakui terdapat sedikit pelemahan pada Maret 2026, khususnya pada ekspektasi kondisi ekonomi ke depan. Hal ini dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Tren penguatan memang terjadi sejak September di triwulan IV kemarin. Memang di bulan Maret ada sedikit pelemahan, terutama dalam melihat ekspektasi kondisi ekonomi ke depan. Tentu saja ini saya kira dampak dari perang di Timur Tengah,” kata Juda.
Namun, Kementerian Keuangan tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 dapat mencapai 5,5%.
“Kami optimistis triwulan I akan tumbuh 5,5%, didukung oleh peningkatan PPN dan PPnBM yang cukup signifikan serta ekspektasi konsumen yang masih kuat,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




