Shell dan Booking Holdings Ungkap Dampak Blokade Selat Hormuz
Jumat, 1 Mei 2026 | 06:03 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Perusahaan energi Shell dan platform perjalanan Booking Holdings memperingatkan dampak berkepanjangan dari blokade Selat Hormuz terhadap pasokan energi global dan permintaan perjalanan.
Chief Executive Officer Shell, Wael Sawan, mengatakan gangguan pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan berlangsung selama beberapa bulan hingga tahun depan.
Menurutnya, penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas dunia telah memicu tekanan besar pada pasar energi global.
“Kami melihat sekitar 900 juta barel yang tidak diproduksi dalam beberapa bulan terakhir, sebagian besar ditutup dengan menguras cadangan. Kini stok mulai menipis,” ujar Sawan.
Konflik antara Donald Trump dan Iran yang dimulai pada akhir Februari berdampak pada negara produsen seperti Irak, Kuwait, dan Qatar, yang terpaksa menghentikan produksi.
Kondisi ini memaksa negara-negara konsumen, terutama di Asia, mencari pasokan alternatif dan bersaing mendapatkan energi, sehingga mendorong kenaikan harga. Selain minyak, dampak juga meluas ke LNG, dengan sebagian wilayah mulai mengalami penurunan permintaan dan pergeseran ke energi alternatif.
Untuk memperkuat pasokan, Shell mengumumkan akuisisi produsen shale asal Kanada, ARC Resources, senilai US$ 13,6 miliar (sekitar Rp 220,3 triliun). Langkah ini bertujuan mendukung pertumbuhan produksi hingga 2030 serta memasok terminal ekspor LNG Canada ke pasar Asia.
Sementara itu, Chief Financial Officer Booking Holdings, Ewout Steenbergen, mengungkapkan konflik tersebut telah menekan industri perjalanan global.
Ia menyebut terjadi peningkatan pembatalan perjalanan dan penurunan pemesanan baru pada kuartal I 2026, dengan tekanan diperkirakan berlanjut pada kuartal II.
Booking kini memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sebesar 4%–6% hingga akhir Juni, lebih rendah dari ekspektasi analis. Proyeksi pertumbuhan tahunan pemesanan juga diturunkan dari sebelumnya di atas 10% menjadi lebih konservatif.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




