Tekanan Rupiah Akan Mereda, Sekarang Saatnya Jual Dolar AS
Kamis, 14 Mei 2026 | 17:57 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Fithra Faisal Hastiadi, menilai saat ini merupakan waktu yang tepat bagi masyarakat untuk menjual dolar Amerika Serikat (AS). Pasalnya, tekanan terhadap rupiah diperkirakan mulai mereda dalam beberapa pekan ke depan dan nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat.
Fithra mengatakan pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS lebih banyak dipengaruhi faktor geopolitik global dan faktor musiman, bukan karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan risiko global yang berdampak pada pergerakan US Treasury yield atau imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
“Jadi dengan adanya tensi di Timur Tengah, dalam hal ini meningkatkan faktor risiko, sehingga kalau kita lihat di Amerika Serikat, pergerakan US Treasury yield, yaitu obligasi pemerintah Amerika Serikat yang bertenor 10 tahun, yield-nya naik terus,” kata Fithra dalam program Beritasatu Sore di Beritasatu TV, Kamis (14/5/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan yield terjadi karena sejumlah lembaga asuransi di Amerika Serikat mulai menjual kepemilikan obligasi mereka untuk memenuhi kebutuhan likuiditas akibat meningkatnya klaim pengangguran dan kerugian usaha.
“Kalau kita lihat perilaku dari lembaga asuransi di Amerika Serikat, mereka sudah mulai menjual kepemilikan obligasinya. Kenapa? Karena mereka harus membayar klaim pengangguran yang meningkat, dan juga klaim kerugian usaha. Sehingga ketika mereka butuh cash, mereka menjual kepemilikan obligasi yang mereka miliki,” ungkapnya.
Kenaikan yield obligasi AS tersebut kemudian memicu capital outflow atau arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Karena itu dijualin semua, maka yield-nya meningkat. Kalau yield-nya sudah meningkat, itu membuat semacam tarikan gravitasi dengan negara-negara lain, sehingga pada akhirnya memicu capital outflow,” jelas Fithra.
Selain faktor geopolitik, Fithra menyebut pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor musiman yang membuat permintaan dolar AS meningkat pada Mei 2026.
“Di bulan Mei ada dividend repatriation. Permintaan dolar juga meningkat karena musim haji dan harus bayar sekolah di luar negeri,” katanya.
Menurut Fithra, apabila faktor geopolitik dan musiman tersebut dihilangkan, nilai tukar rupiah sebenarnya berada di level yang lebih kuat.
“Kalau faktor seasonal dan geopolitik ini dihilangkan, maka sebenarnya kondisi rupiah kita Rp 16.700,” ujarnya.
Pemerintah bersama Bank Indonesia saat ini juga terus melakukan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Yang dilakukan oleh pemerintah saat ini bersama dengan Bank Indonesia, melakukan bauran kebijakan dari sisi market, untuk menangani efek secara teknis pergerakan dari US Treasury yield. Itu juga biasanya akan turun dalam beberapa pekan ke depan,” kata Fithra.
Rupiah Diprediksi Menguat
Fithra menilai tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda seiring mulai menurunnya tensi perang di Timur Tengah dan berakhirnya faktor musiman.
“Karena kalau kita lihat, trajektori dari perang itu sudah deeskalasi. Sehingga bisa jadi kemungkinan besar di akhir Mei, ini sudah akan turun lagi yield-nya, sehingga tekanan rupiah itu akan turun. Dan juga tekanan seasonal, musiman, itu juga akan reda,” ujar Fithra.
Ia meminta masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pelemahan rupiah saat ini. Menurutnya, kondisi sekarang justru menjadi momentum bagi pemilik dolar AS untuk mengambil keuntungan.
“Justru saat-saat sekarang ini adalah saatnya jual dolar. Karena nanti dolar tidak akan naik lagi,” katanya.
Ia memprediksi tekanan terhadap rupiah akan terus berkurang pada akhir Mei 2026 dan nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat ke kisaran Rp 17.100 per dolar AS. Bahkan hingga akhir tahun, rupiah diperkirakan dapat kembali menguat ke level Rp 16.900 hingga Rp 16.700 per dolar AS.
“Jadi saatnya sekarang mengambil keuntungan. Kalau punya dolar, segera dijual,” saran Fithra.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




