Harga Minyak Turun ke Level Terendah sejak Pecahnya Perang AS-Iran
Kamis, 18 Juni 2026 | 17:26 WIB
IMF dan IEA Beri Peringatan
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, mengatakan harga minyak kemungkinan akan terus melandai, tetapi tidak akan mengalami kejatuhan drastis. Menurutnya, banyak negara masih membutuhkan pasokan energi tambahan untuk mengisi kembali cadangan minyak mereka, sementara aktivitas pelayaran internasional juga baru mulai kembali normal.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menekankan pentingnya penyelesaian negosiasi dalam jangka waktu 60 hari.
Sebelumnya, IEA telah memperingatkan bahwa ekonomi global berisiko memasuki "zona merah" apabila Selat Hormuz tidak kembali dibuka sebelum akhir Juni 2026.
IEA juga mengingatkan, apabila kesepakatan tersebut berjalan sesuai rencana dan Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya, pasar minyak global berpotensi berbalik dari kondisi kekurangan pasokan menjadi surplus besar pada 2027.
Dalam laporan pasar bulanannya, IEA memperkirakan pasokan minyak dunia akan melampaui permintaan hingga 5,05 juta barel per hari pada tahun depan seiring pulihnya produksi dan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.
Selain itu, IEA juga menyoroti kondisi persediaan minyak global yang masih berada dalam tekanan. Persediaan minyak dunia tercatat berkurang 143 juta barel pada Mei setelah sebelumnya turun 74 juta barel pada April.
Sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026, stok minyak global telah menyusut sekitar 3,8 juta barel per hari.
"Meskipun terjadi penurunan signifikan pada permintaan minyak mentah dan produk olahan, cadangan minyak global masih terus terkikis dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata IEA.
Ancaman Kenaikan Suku Bunga The Fed
Selain perkembangan geopolitik, pasar minyak juga dibayangi ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Pelaku pasar semakin yakin The Fed akan menaikkan suku bunga pada tahun ini untuk menekan inflasi yang masih tinggi. Apabila langkah tersebut dilakukan, pertumbuhan ekonomi berpotensi melambat dan permintaan minyak global dapat ikut tertekan.
Kombinasi membaiknya prospek pasokan dari Timur Tengah dan potensi perlambatan ekonomi akibat kebijakan moneter yang lebih ketat menjadi faktor utama yang menekan harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




