Harga Minyak Dunia Menuju Penurunan 8 Persen Pekan Ini
Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:26 WIB
Calgary, Beritasatu.com – Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Jumat (19/6/2026) waktu setempat, meskipun masih berada di jalur penurunan mingguan lebih dari 8% setelah tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah.
Minyak Brent naik 20 sen atau 0,25% menjadi US$ 80,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 25 sen atau 0,33% ke level US$ 76,85 per barel.
Pergerakan harga relatif terbatas karena volume perdagangan cenderung sepi menyusul libur federal di Amerika Serikat (AS).
Sentimen utama pasar datang dari meningkatnya kembali aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz setelah tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.
Produsen minyak di kawasan Teluk juga mulai bersiap meningkatkan ekspor meski masih terdapat sejumlah persyaratan dari Iran terkait penggunaan jalur pelayaran strategis tersebut.
Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn menilai harga minyak berpotensi kembali ke level sebelum konflik pecah karena pasokan diperkirakan semakin lancar dalam beberapa hari ke depan.
“Meski harga minyak belum kembali ke level sebelum perang dimulai, arahnya mengindikasikan menuju ke sana. Pasokan diperkirakan terus mengalir melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang,” ujar Flynn seperti dikutip Reuters.
Ia menambahkan, antrean kapal yang sempat tertahan dapat bergerak lebih cepat dari perkiraan apabila kerja sama antara Iran dan AS berjalan lancar.
Pada sisi lain, seorang pejabat senior AS mengatakan Israel dan Hizbullah telah menyepakati gencatan senjata yang mulai berlaku pada Jumat pukul 13.00 GMT. Kesepakatan tersebut turut membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi pertemuan antara pejabat Iran dan AS di Swiss yang semula dijadwalkan berlangsung pada Jumat ditunda ke waktu berikutnya.
Menurut Iran, pembahasan tidak lagi bersifat mendesak setelah kedua pihak menandatangani nota kesepahaman secara digital untuk mengakhiri konflik.
Analis memperkirakan kesepakatan AS-Iran berpotensi melepaskan lebih dari 85 juta barel minyak yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk ke pasar global. Kesepakatan tersebut juga mencakup pencabutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran yang dapat meningkatkan pasokan dunia.
Sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global melewati Selat Hormuz. Meski demikian, pemulihan penuh aliran distribusi dan produksi diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan.
Citi memperkirakan skenario dasar dengan probabilitas 60% menunjukkan normalisasi pasokan akan berlanjut sehingga pasar minyak berpotensi mengalami surplus. Dalam kondisi tersebut, harga minyak diproyeksikan turun ke kisaran US$ 60 hingga US$ 65 per barel pada kuartal I 2027.
Sementara itu, Commerzbank memangkas proyeksi harga Brent pada akhir 2026 menjadi US$ 80 per barel dari sebelumnya US$ 85 per barel. Meski demikian, harga minyak diperkirakan masih bertahan di atas level sebelum konflik untuk sebagian besar periode tahun depan.
Dari sisi pasokan, Menteri Perminyakan Irak Basim Mohammed menyatakan ladang-ladang minyak negara tersebut siap kembali beroperasi normal dan secara bertahap meningkatkan produksi ke tingkat sebelum gangguan terjadi.
Adapun dari sisi permintaan, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam laporan World Oil Outlook 2026 memperkirakan permintaan minyak dunia meningkat menjadi 113,3 juta barel per hari pada 2030 dari 105,1 juta barel per hari pada 2025.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




