BI Optimistis Defisit Neraca Bakal Menurun
Kamis, 31 Mei 2012 | 02:03 WIB
BI tidak buru-buru membeli SUN karena akan mengeluarkan likuiditas lebih banyak.
Bank Indonesia (BI) optimistis defisit di neracanya akan menurun jika dua upaya yang selama ini dilakukan memberikan hasil yang baik. Dua upaya tersebut yaitu melalui penggantian perlahan-lahan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan Surat Utang Negara (SUN), serta konversi Surat Utang Pemerintah (SUP) menjadi Surat Berharga Negara (SBN).
Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat (PSHM) BI, Dody Budi Waluyo, mengatakan BI telah menempuh langkah perubahan SBI dengan SUN sebagai instrumen moneter. Bank sentral juga berkoordinasi dengan pemerintah melalui program Asset Liability Management (ALM) untuk konversi SUP.
“Mudah-mudahan bisa selesai tahun ini. Secara proyeksi, defisit neraca akan lebih rendah. Konversi tersebut bisa membantu mengurangi biaya Operasi Pasar Terbuka (OPT),” ujar Dody, di Gedung BI, Jakarta hari ini.
Dody mengatakan, dibandingkan membeli SUN dalam jumlah banyak, biaya operasi moneter bakal lebih murah jika BI melakukan konversi terhadap SUP lama. Dengan mengonversi SUP, tidak ada likuiditas yang perlu dikeluarkan untuk membeli SUN terlalu banyak. Sejumlah SUP yang belum likuid tersebut merupakan peninggalan masa krisis pada 1998.
“Sebab itu BI juga tidak buru-buru membeli SUN, karena dengan membeli, BI mengeluarkan likuiditas lebih banyak. Artinya, BI juga harus menyerap lagi sebanyak-banyaknya,” kata Dody.
Berdasarkan laporan keuangan BI per 31 Desember 2011, pengeluaran BI untuk OPT meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada 2011, nilainya mencapai Rp 30,09 triliun dibandingkan tahun 2010 sebesar Rp 24,17 triliun.
Sedangkan total pengendalian moneter naik dari Rp 24,40 triliun pada 2010 menjadi Rp 30,35 triliun pada 2011. Nilai tersebut termasuk OPT dan pengelolaan devisa, serta pinjaman luar negeri. Sedangkan defisit neraca naik dari Rp 21,15 triliun pada 2010 menjadi Rp 25,14 triliun pada 2011.
“Naiknya biaya OPT tahun lalu dipengaruhi bertambahnya volume likuiditas dan peningkatan harga,” kata Dody.
Bank Indonesia (BI) optimistis defisit di neracanya akan menurun jika dua upaya yang selama ini dilakukan memberikan hasil yang baik. Dua upaya tersebut yaitu melalui penggantian perlahan-lahan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan Surat Utang Negara (SUN), serta konversi Surat Utang Pemerintah (SUP) menjadi Surat Berharga Negara (SBN).
Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat (PSHM) BI, Dody Budi Waluyo, mengatakan BI telah menempuh langkah perubahan SBI dengan SUN sebagai instrumen moneter. Bank sentral juga berkoordinasi dengan pemerintah melalui program Asset Liability Management (ALM) untuk konversi SUP.
“Mudah-mudahan bisa selesai tahun ini. Secara proyeksi, defisit neraca akan lebih rendah. Konversi tersebut bisa membantu mengurangi biaya Operasi Pasar Terbuka (OPT),” ujar Dody, di Gedung BI, Jakarta hari ini.
Dody mengatakan, dibandingkan membeli SUN dalam jumlah banyak, biaya operasi moneter bakal lebih murah jika BI melakukan konversi terhadap SUP lama. Dengan mengonversi SUP, tidak ada likuiditas yang perlu dikeluarkan untuk membeli SUN terlalu banyak. Sejumlah SUP yang belum likuid tersebut merupakan peninggalan masa krisis pada 1998.
“Sebab itu BI juga tidak buru-buru membeli SUN, karena dengan membeli, BI mengeluarkan likuiditas lebih banyak. Artinya, BI juga harus menyerap lagi sebanyak-banyaknya,” kata Dody.
Berdasarkan laporan keuangan BI per 31 Desember 2011, pengeluaran BI untuk OPT meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada 2011, nilainya mencapai Rp 30,09 triliun dibandingkan tahun 2010 sebesar Rp 24,17 triliun.
Sedangkan total pengendalian moneter naik dari Rp 24,40 triliun pada 2010 menjadi Rp 30,35 triliun pada 2011. Nilai tersebut termasuk OPT dan pengelolaan devisa, serta pinjaman luar negeri. Sedangkan defisit neraca naik dari Rp 21,15 triliun pada 2010 menjadi Rp 25,14 triliun pada 2011.
“Naiknya biaya OPT tahun lalu dipengaruhi bertambahnya volume likuiditas dan peningkatan harga,” kata Dody.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
SUMATERA UTARA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




